SIRAH KENCONG, Perjalanan Penuh Cinta

Participant                             : Bokir, Galy, Koje, Meitika, Tiko, Cahyo, Chuko, Lia, Sekar

Liburan semester tahun 2009 kemarin membuat kami merasa bosan. Untuk mengatasi kebosanan tersebut, kami membuat beberapa rencana. Setelah sebelumnya kami melakukan perjalanan ke goa Selomangleng, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi perkebunan Sirah Kencong sebagai objek berikutnya. Sebenarnya perjalanan ini adalah alternativ lain yang dibuat setelah rencana awal kami mengalami kendala. Sayang sekali salah satu anggota kami, Kcing tidak dapat ikut.

Kami sepakat berkumpul di rumah Bokir pada tanggal 22 Januari 2009 pukul 06.30. Entah direncanakan atau tidak, perjalanan kali ini bertemakan petualangan penuh cinta. Hal ini dikarenakan sebagian besar anggota yang ikut berpasang-pasangan yaitu, Koje yang berpasangan dengan Chuko, Galy dengan Lia, dan Bokir dengan Sekar. Lain ceritanya, walau saat itu Meitika dibonceng oleh Tiko, cinta mereka merupakan cinta dalam kontek persahabatan. Sedangkan Cahyo bermotor sendirian. Cinta persahabatan yang terjalin sangat kental dalam perjalanan ini.

Kami memulai perjalanan setelah semua persiapan lengkap, termasuk menambah angin pada ban sepeda motor untuk menghindari resiko kebocoran, mengingat medan yang akan kami lalui cukup sulit. Dalam perjalanan semuanya bersantai, sampai-sampai kami kehilangan Bokir dan Sekar yang melaju cukup kencang. Akhirnya kami harus berhenti di DAM (bendungan) daerah Semen untuk menghubungi Bokir dan Sekar, yang ternyata malah tertinggal jauh. Setelah beberapa saat menunggu, mereka pun datang dan perjalanan dilanjutkan kembali.

Perjalanan mulai menegangkan. Jalanan yang kami lalui adalah jalan beraspal yang rusak berat, sehingga membuat kami harus ekstra hati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Skala rusaknya jalan sudah menginjak level parah, batu-batu di mana-mana, apabila jatuh pastilah menimbulkan memar. Walaupun demikian, hal itu tidak mengurangi keceriaan kami. Bahkan kami sempat berfoto ria di tengah perjalanan.

Kami tiba di tujuan sekitar pukul 10.30. Setelah memarkir sepeda motor, kami bergegas menuju area kebun teh Sirah Kencong. Kami mejelajahi setiap sudut perkebunan teh, mengamati pekerja yang memetik daun teh, dan tak lupa kami juga berfoto, mendokumentasikan apapun yang kami bisa. Setelah puas dengan kebun teh, Tiko mempunyai usulan untuk menuju ke Candi Sirah Kencong yang terdapat di perkebunan tersebut. Kami memulai perjalanan menuju candi tersebut dengan berjalan kaki menyusuri perkampungan.

Setelah berjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di Candi Sirahkencong. Secara umum Candi Sirahkencong terdiri dari tiga bangunan pokok, yakni bangunan candi pertama yang terletak di sebalah utara, kemudian candi kedua ditengah, dan bangunan ketiga terletak di sebelah selatan. Ketiga bangunan tersebut menghadap ke arah Barat dan di muka tiap-tiap bangunan terdapat batur candi[1].

Pada tubuh bangunan Candi Sirahkencong terdapat relief  dangkal yang seprti digores-gores saja yang menggambarkan orang berbadan kurus dalam pose duduk wajrasana. Tangannya direntangkan seolah-olah meroleh ajakan ajakan Harimau yang membuka mulutnya dan duduk di mukanya. Relief tersebut adalah relief yang diambil dari cerita Bukbuksah Gagangaking[1].

Selain menyajikan aroma sejarah, pemandangan di sekitar Candi Sirahkencong juga tak kalah indahnya. Terutama kesan gradasi warna yang timbul pada hamparan kebun teh di sekitar candi. Setelah puas dengan reruntuhan candi dan pesona pemandangan disekitarnya, kami memutuskan turun ke kedai untuk makan siang.

Setelah makan siang, kami beranjak menuju mushola untuk menunaikan kewajiban kami sebagai muslim. Tak disangka kami bertemu beberapa kenalan kami di mushola. Kami merasa puas karena selain menikmati pemandangan di Sirah Kencong kami juga bertemu teman-teman lama. Berhubung hari sudah mulai sore (sekitar pukul 14.00), kami memutuskan untuk mengakhiri perjalan dan bergegas untuk pulang.

Perjalanan pulang tak kalah mengasyikannya dengan perjalanan awal. Bokir dan Sekar mengendarai sepeda motor yang mereka tumpangi dengan kencang di jalan berbatu. Inilah yang mendasari kenapa Bokir dijuluki sebagai ahli medan ekstreme. Walaupun demikian, itu tak menyebabkan mereka hilang lagi (hehehehe…) Eh… bukan mereka yang hilang tetapi malah sandalnya yang hilang.

Setelah mengetahui bahwa sandalnya ditemukan Koje, Bokir  pun merasa lega. Tetapi dengan maksud bercanda Koje malah melempar sandal Bokir ke arah jurang. Merasa tak ada gunanya pasangan sandalnya di bawa pulang, akhirnya Bokir membuangnya ke jurang juga. (Mengharukan + menggelikan!!)

Pukul 16.00 kami tiba di rumah Bokir setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Dan baru di situlah, Galy sadar bahwa kunci sepeda motornya jatuh akibat lubang kunci yang sudah rusak. Dengan meminjam kunci sepeda motor Meitika, masalah itu bisa diatasi untuk sementara. Setelah istirahat sekitar 30 menit di rumah Bokir, pada pukul 16.30 kami semua memutuskan untuk  pulang ke rumah masing-masing.

Dalam perjalanan ini, banyak sekali pelajaran moral yang kami dapat. Banyak sekali…… yang membuat The Travellers sendiri lebih bermakna.

Obyek wisata lain di kawasan Agrowisata Sirah Kencong dapat disimak pada posting:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Aulia Meitika Kusumawardhani

Revisi terakhir : Maret 2011

Sumber : [1] LOCAL CONTENT DAN COUNTY PROFILE KABUPATEN BLITAR

Perihal travellers2009
Dikebanyakan hal, sebuah nama tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hanya sekumpulan anak yang gila akan travelling. Itulah kami D'Travellers.

6 Tanggapan untuk SIRAH KENCONG, Perjalanan Penuh Cinta

  1. Anom Harya mengatakan:

    Mantap tante Meitika. Kemarin aku gowes kesini dan memang jalurnya menantang. Kalo kamu pulang lewat makadam, aku via jalur tanah yang ada di sekitar hutan tropis. Turunannya bikin kangen. Bulan Februari 2012 aku mampir lagi kesana.

    Terima kasih atas tulisanmu tentang Candi di Sirah Kencong.

    Sukses :)

  2. susi mengatakan:

    waaaah bagus buangeeeets tuh panorama alamnya, kira2 biayanya mahal gak ya nd medan perjalanannya sulit gak ya……..

  3. Pingback: PENINGGALAN SEJARAH 3 » menambah wawasan

  4. the umble boy mengatakan:

    Wich….asyik bgtz…..
    np ga ampe Mt.Bothakz na skalian….
    amu kud PA yo???

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.