Candi Penataran, Batu Loncatan Kebersamaan Kami

In Penataran

In Penataran

Participant                                     :  Bokir, Galy, Kcing, Koje, Tiko, Chuko, Lia, Sekar, Uliv

Mencoba mengemas perjalanan dengan format baru. Dengan rute yang tak terlalu jauh menuju Candi Penataran, kami mencoba menempuhnya dengan bersepeda. Perjalanan ini harus kami jalani dengan berat hati, karena Meitika tidak dapat turut dalam perjalanan ini.

Perjalanan dimulai ketika matahari belum terlalu terik. Hamparan sawah nan permai serta canda tawa kami membaur meyatu membuat suasana perjalanan tetap riang bersemangat. Canda tawa dan olok-megolok terus menggelegar sampai kami melintasi jalanan berdebu di Kabupaten Blitar. Medan yang asik dan berliku terus menjaga kebersamaan kami. Tapi ternyata di tengah perjalanan ada yang sewot lho… Entah karena tersinggung atau apa (g’ jelas penyebabnya) Bokir memisahkan diri dari rombongan. Kami berusaha megejarnya, tapi kami kehilangan jejak. Di tengah pengejaran kami melintasi sungai yang berada di kawasan hutan Sumberingin, entah gila atau karena apa, tanpa basa-basi kami langsung  menceburkan diri dan berfoto-foto nasiss yang g’ penting(udah disensor aja malu-maluin). Kembali keperjalanan Sambil terus melakukan pengejaran kami bergegas melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami pun menjumpai jalan raya dan mempercepat laju kendaraan.

Jalanan yang menanjak, kesalahan pemilihan rute, dan matahari yang mulai terik sedikit mengganjal perjalanan kami. Perpecahan pun tak terelakkan, saling tidak percaya akan rute yang dipilih menyebabkan kami menempuh rute yang berbeda. Koje dan Chuko terus menyusuri jalan raya karena mereka pernah melewati rute itu sebelumnya, sedangkan Aku (Galy) beserta yang lain memilih jalur berdebu dengan maksud memotong rute dan memilih jalanan yang teduh.

Setelah menyusuri jalan berdebu tersebut kami memasuki area wisata Candi Penataran. Ternyata Kcing turut juga dalam perjalanan kali ini, dengan melintasi jalur yang berbeda dan dengan mengendarai sepeda motor. Dia jengkel karena telah menunggu sejak pagi. Dengan sedikit perundingan akhirnya kami dapat meredakan amarahnya. Kami segera menuju ke komplek Candi Penataran. Dan di sana kami berkumpul kembali dengan Bokir, Chuko dan Koje yang telah lebih dulu sampai.

relief candi penataran

Semua pertentangan yang terjadi seketika sirna oleh keindahan dan kemegahan candi tersebut. “Benar-benar megah” Kami rasa ungkapan tersebut tidaklah berlebihan, sebab Candi Penataran memanglah komplek percandian dengan komponen bangunan terlengkap di Jawa Timur. Komplek percandian tersebut terdiri dari beberapa bagian yaitu bale agung, candi angka tahun, candi naga, petirtaan, candi induk, dan komponen-komponen lainya seperti arca-arca, batu candi, candi perwara, miniatur candi, gapura candi, serta prasasti palah.

komponen percandian

Ada dua bangunan khas yang menjadi ciri khas Candi Penataran, yakni candi angka tahun, dan candi naga. Disebut candi angka tahun karena pada bangunan tersebut termuat dengan jelas sebuah sengkalan atau angka tahun 1269 Saka atau 1347 Masehi, sedangkan disebut candi naga karena pada  bangunan tersebut terpahat relief naga yang melilit tubuh bangunan.

Candi induk Penataran masih menunjukkan gaya arsitektur pada masa Kerajaan Kediri, yakni bentuknya yang tambun.  Pada candi induk terdapat arca-arca serta relief-relief kuno yang mengisahkan ramayana, dan fabel. Arca-arca yang terdapat pada Candi Penataran antara lain, arca Dwarapala, arca Ganesa, arca Bairawa, serta arca-arca yang mirip dengan arca yang kami temui di selomangleng (arca Narasinga lencana kerajaan Kadiri era pemerintahan Jayabaya).

Arca Dwarapala dan Ganesa pastinya sudah tidak asing lagi bagi kita, namun untuk arca Bairawa mungkin belum banyak yang mengetahuinya. Arca Bairawa adalah perwujudan Dewa Siwa dengan wujud yang paling menyeramkan. Sosoknya digambarkan dengan wujud raksasa yang berdiri di atas tumpukan tengkorak. Bairawa sendiri adalah suami dari Bairawi,(nama lain Durga sang dewi kematian).

Berdasarkan beberapa informasi yang kami peroleh, Candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam Prasasti Palah. Candi Penataran dibangun pada tahun 1197 Masehi, oleh Raja Srenggra yang memerintah kerajaan Kadiri antara tahun 1190 – 1200 Masehi.  Candi Penataran dibangun sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi mara bahaya yang disebabkan oleh letusan Gunung Kelud. Namun uniknya candi ini masih digunakan hingga masa Kerajaan Majapahit. Seperti dikisahkan dalam Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Girindra (raja penguasa gunung).

Sebagai candi yang keberadaanya berlangsung di tiga era kerajaan yang berbeda, keadaan Candi Penataran yang disaksikan saat ini tidaklah sama seperti saat candi ini didirikan pertama kali. Dilihat dari posisi bangunan yang didirikan pada era Kadiri, yaitu bale agung, tempat prasasti, candi induk, dan petirtaan yang ditempatkan agak berjauahan, menunjukkan bahwa memang disediakan lahan-lahan kosong yang dipersiapkan untuk melanjutkan pembangunan candi ini. Sayang sekali Kadiri mengalami keruntuhan pada tahun 1222 Masehi sebelum sempat mewujudkan cita-cita tersebut. Namun sepertinya memang sudah menjadi kehendak rakyat, sehingga kerajaan-kerajaan yang berkuasa selanjutnya turut melanjutkan pembangunan candi ini. Pada era pemerintahan Kertanegara dari Singosari, didirikan bangunan di sebelah kanan agak kedepan dari candi induk, yakni Candi Naga. Reliaf naga menunjukkan gubahan angka tahun “Naga Muluk Sinangga Jalma” yang menggambarkan angka 9021 dengan dibaca terbalik menyatakan angka tahun 1209 Saka atau 1287 Masehi. Pada era pemerintahan Jayanegara dari Majapahit, ditempatkan arca dwarapala sebagai tanda penguasaan komplek bangunan ini menjadi candi negara. Melengkapi ruang kosong di depan candi induk, Hayam Wuruk mendirikan candi angka tahun di era pemerintahannya.

Candi Penataran

Kami rasa hanya itulah sekelumit informasi yang dapat kami sampaikan terkait Candi Penataran. Setelah puas menikmati dan mengagumi salah satu maha karya leluhur bangsa tersebut, kami sepakat untuk mengakhiri perjalanan ini. Jalanan menurun menghantarkan kepulangan kami. Kami pun bahagia karena dapat pulang dangan kebersaman dan keceriaan lagi. Disadari atau tidak kemegahan candi tersebut telah menyatukan kami lagi. Tapi satu yang kami sadari. Kebersamaan itu akan selalu indah.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Januari 2012

Sumber :

  • Mardiono. 2006. Napak Tilas Jejak-jejak Kaki Wong Blitar dari Masa ke Masa

Perihal travellers2009
Dikebanyakan hal, sebuah nama tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hanya sekumpulan anak yang gila akan travelling. Itulah kami D'Travellers.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.