Percandian Majapahit di Gandusari
Februari 2, 2010 2 Komentar
Participant : Galy, Kcing
Perjalanan kali ini cukup berat dan melelahkan. Bukan terjalnya medan ataupun jauhnya jarak yang memberatkan perjalanan kami, melainkan kerelaan kami untuk melakukan perjalanan ini dengan berdua saja. Kondisi ini terjadi karena para travellers tengah menempuh pendidikan di kota-kota yang berbeda, sehingga sulit untuk berkumpul.
Lokasi yang kami tuju kali ini adalah Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Kecamatan yang terletak di timur laut Kodya Blitar ini memang terkenal dengan keindahan panorama alamnya, seperti panorama alam lereng Gunung Kelud dengan pesona air terjun coban wilis yang begitu memukau. Namun jika mau menelusurinya dengan lebih dtail, sebenarnya Kecamatan Gandusari memiliki peninggalan-peninggalan sejarah yang patut untuk dikenal dan dilestarikan. Berikut ini peninggalan-peninggalan yang telah kami telusuri:
Candi Kotes
Secara administratif Candi Kotes terletak di Desa Sukosewu. Arsitektur Candi Kotes ini cukuplah unik, jika di perhatikan dengan seksama bentuk candi ini tidaklah simetris. Bangunan utama candi ini tediri dari sebuah candi induk dan sebuah altar persembahan.
Selain bangunan candi, di kawasan Candi Kotes juga terdapat beberapa tinggalan lain seperti: arca, batu candi, miniatur candi, umpak, dan yoni. Sayang sekali kondisi arca-arca di kawasan Candi Kotes telah rusak. Umumnya arca yang tersisa tinggal bagian kakinya saja, sehingga tidak dapat dikenali lagi.
Dengan adanya yoni, dapat disimpulkan bahwa Candi Kotes adalah candi dengan latar belakang keagamaan Hindu. Sebab yoni adalah simbol aspek wanita yang juga merupakan penggambaran istri Dewa Siwa (dewa dalam agama Hindu).
Pada Candi Kotes terpahat kronogram bertarikh 1222 dan 1223 Saka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bangunan ini berasal dari tahun 1300 dan 1301 Masehi, atau dengan perkataan lain, bangunan ini sejaman dengan pemerintah raja pertama Majapahit[1]. Latar belakang pendirian Candi Kotes diperkirakan merupakan anugrah yang diberikan raja kepada masyarakat Kotes karena telah melindunginya selama dalam masa pelarian. Saat kutaraja Singosari jatuh dalam pemberontakan Jayakatwang, Raden Wijaya terlebih dahulu singgah di Desa Kotes sebelum akhirnya menuju Kudadu Jombang untuk menghimpun kekuatan bersama Arya Wiraraja dari Madura[2].
Keterangan dari sumber-sumber di atas juga sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh Juru Kunci Candi Kotes. Menurut keterangan beliau candi ini memanglah peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Dari beliau pula kami mendapat informasi tentang Situs Sukosewu yang terletak tidak jauh dari candi ini. Setelah memperoleh informasi yang cukup kami pun melanjutkan perjalanan.
——————————————————————————————————————————————-
Situs Sukosewu
Situs Sukosewu berdekatan dengan Candi Kotes (± 500 m). Namun karena lokasinya cukup terpencil situs ini menjadi kurang dikenal.
Situs Sukosewu terdiri dari tiga buah miniatur candi dan sebuah arca yang telah rusak. Gaya pahatan pada miniatur candi mirip dengan gaya pahatan pada Candi Kotes. Hal ini sesuai dengan keterangan juru kunci mengenai keberadaan situs ini yang erat kaitanya dengan keberadaan Candi Kotes.
Untuk lebih jelasnya, lokasi Situs Sukosewu dan Candi Kotes dapat dilihat di halaman “Rute dan Informasi.”
——————————————————————————————————————————————-
Candi Wringin Branjang
Candi Wringin Branjang terletak di Desa Gadungan, di lereng Gunung Gedang yang terpencil. Meski terpencil kondisi Candi Wringin Branjang cukup terawat. Pada bangunan utama telah terdapat pos penjaga dan telah diberi pagar kawat.
Bentuk bangunan Candi Wringin Branjang tergolong tidak lazim. Gaya arsitekturnya cukup sederhana, yakni tubuh candi berbentuk persegi dengan atap limas menyerupai bentuk rumah modern. Bangunan dengan bentuk dan ukuran seperti Candi Wringin Branjang ini lazim ditemui di pemakaman jawa dengan sebutan cungkup, oleh karena itu masyarakat sekitar menyebut Candi Wringin Branjang dengan sebutan Candi Cungkup.
Berdasarkan penuturan Juru Kuncinya, diperkirakan Candi Wringin Branjang merupakan peninggalan dari era Kerajaan Majapahit. Dan jika ditinjau dari lokasinya, diperkirakan pula bahwa candi ini merupakan tempat pertapaan para rsi.
Di luar pagar kawat (tepatnya dibagian belakang) Candi Wringin Branjang dapat ditemuai berbagai bangunan dan tinggalan lain yang erat kaitanya dengan candi ini. Keberadaanya oleh pihak BP3 Jatim sering disebut dengan sebutan Situs Gandusari. Adapun bangunan dan tinggalan tersebut terdiri dari altar, arca, miniatur candi, dan struktur gapura. Keberadaan altar dengan posisi di bagian belakang dan menempati lokasi yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa altar tersebut merupakan bagian utama. Fakta tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa Candi Wringin Branjang dan Situs Gandusari merupakan komplek pertapaan para rsi. Sebagaimana keterangan yang tercantum dalam tulisan Hariani Santiko berikut:
Candi-candi yang hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan, pada umumnya tidak mempunyai garbhagrha dan arca perwujudan, tubuh candi diganti dengan altar dan/atau miniatur candi. Candi-candi kuil ini kebanyakan dipakai oleh para rsi dan terletak dilereng-lereng gunung.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Sumberagung
Candi Sumberagung terletak di Desa Sumberagung. Lokasinya cukup dekat dengan Candi Kotes (± 2 km). Kondisinya yang telah runtuh dan lokasinya yang terpencil (akses menuju candi ini hanya dapat dilewati kendaraan bermotor) mengakibatkan candi ini kurang dikenal. Untuk lebih jelasnya, lokasi Candi Sumberagung dapat dilihat di halaman “Rute dan Informasi.”
Kami tidak memperoleh keterangan apapun mengenai Candi Sumberagung, sebab kami tidak menjumpai juru kunci candi ini.
Jika diperhatikan Candi Sumberagung memiliki keunikan yang khas, yakni terdapat lobang persegi pada bagian tengah candi. Kurang jelas apa fungsi dari lobang tersebut. Keberadaan lobang pada candi biasanya digunakan untuk upacara pembakaran mayat atau untuk upacara pemujaan dewa api(Agni). Namun jika dilihat dari kedalaman lobang dan lokasi candi yang dekat sungai, dapat diperkirakan bahwa fungsi lobang tersebut adalah sebagai sumur.
Tidak ditemukanya yoni pada area sekitar Candi Sumberagung serta sisa-sisa reliefnya yang natural menimbulkan spekulasi bahwa latar belakang keagamaan Candi Sumberagung adalah agama Budha.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Rambut Monte
Candi Rambut Monte terletak jauh dari candi-candi yang telah kami kunjungi sebelumnya. Yakni berada di Kawasan Wisata Religi Rambut Monte di Desa Krisik.
Jika diamati dengan seksama, tampak bahwa penataan ulang Candi Rambut Monte terkesan dipaksakan. Penyusunan ulang batu-batu candinya banyak yang dislokasi. Hal tersebut dapat dimaklumi karena batu-batu candinya memang sudah tidak lengkap lagi. Meskipun demikian, bukan berarti Candi Rambut Monte tidak menyisakan keunikan sama sekali. Keunikan tersebut masih ada dan tercermin pada figure kalanya yang tidak digambarkan seperti kala pada umumnya.
Selain candi, di kawasan ini juga terdapat petirtaan dan goa yang menurut juru kunci adalah peninggalan eyang Rsi Rambut Monte, resi dari Kerajaan Majapahit. Dalam mitos yang berkembang di masyarakat, mata air petirtaan tersebut dipercaya berasal dari laut selatan. Mitos tersebut semakin dikuatkan oleh keberadaan spesies ikan langka yang mendiami petirtaan tersebut.
——————————————————————————————————————————————-
Writer : Galy Hardyta
Revisi terakhir : Januari 2012
Sumber :
- Juru Kunci Candi Kotes
- Juru Kunci Candi Rambut Monte
- Juru Kunci Candi Wringin Branjang
- Juru Kunci Situs Sukosewu
- Hariani Santiko dalam tulisannya “Agama Majapahit”
- [1] http://www.blitarkab.go.id/profile/sejarah/
- [2] Mardiono. 2006. Napak Tilas Jejak-jejak Kaki Wong Blitar dari Masa ke Masa





Pingback: PENINGGALAN SEJARAH 3 » menambah wawasan
fakta dan opini seputar candi-candi mataram kuno kunjungi http://ancientmataram.wordpress.com/