Blitar Timur, Perburuan Percandian Terakhir
Februari 15, 2010 4 Komentar
Participant : Galy, Kcing
Blitar timur menjadi target perburuan candi terakhir bagi kami. Tak terasa dengan perjalanan ini seluruh candi di Blitar telah kami kunjungi. Semoga semua pencapaian ini tak akan sia-sia.
Ralat pernyataan di atas dalam tulisan: Situs-situs Bersejarah di Blitar, Legenda dari Mulut ke Mulut
Candi Plumbangan
Jika Trowulan ada gapura bajang ratu, nah inilah bajang ratunya Blitar..!!
Candi Plumbangan terletak di Desa Plumbangan Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Lokasinya berada di area pemukiman penduduk, sehingga tak sulit untuk menemukannya. Mengenai rute menuju Candi Plumbangan dapat dilihat pada halaman “Rute dan Informasi.”
Jika ditinjau dari bentuknya, bangunan bersejarah yang disebut sebagai Candi Plumbangan ini sebenarnya bukanlah sebuah candi. Bangunan ini lebih tepat disebut sebagai gapura gaya paduraksa, yaitu gapura dengan atap menyatu. Dirunut dari fungsinya, gapura paduraksa dapat berfungsi sebagai candi ruwatan serta dapat juga sebagai batas wilayah atau komplek bangunan tertentu. Selain bangunan utama berupa gapura paduraksa, disekeliling Candi Plumbangan juga terdapat prasasti dan sekumpulan artefak lain seperti yoni, arca, dan jaladwara (unsur bangunan yang berfungsi untuk mengalirkan air).
Candi Plumbangan diperkirakan dibangun pada era Kerajaan Majapahit pada awal pemerintahan Wikramawardana, sesuai dengan monogram yang bertuliskan 1312 Saka(1390 M)[1] pada bagian ambang pintunya. Tapi uniknya benda-benda cagar budaya yang terdapat disekeliling Candi Plumbangan justru berasal dari masa yang berbeda. Misalnya saja Prasasti Plubangan (Panumbangan) yang merupakan peninggalan dari era Raja Kameswara (Kerajaan Kadiri) pada tahun 1042 Saka atau 1120 M[1]. Seperti halnya peninggalan dari era Kameswara yang lain, pada prasasti tersebut juga dipahatkan ornamen candrakapala(lambang Kerajaan Kadiri dari era Kameswara)[2].
Keberadaan Prasasti Panumbangan yang dipertahankan berada di sekitar Candi Plumbangan, dimungkinkan karena isinya masih relevan dengan kondisi di era Kerajaan Majapahit. Selain itu, prasasti atau piagam memang dianggap sebagai benda pusaka, sehingga biasanya diwariskan secara turun temurun. Bahkan jika rusak, masyarakat atau pihak yang mewarisi prasasti tersebut dapat mengajukan perbaikan kepada raja yang memerintah. Seperti tercatat dalam Negarakertagama, saat Dyah Parih memohon perbaikan atas Prasasti Gedangan yang dikeluakan pada era Dinasti Isyana kepada Hayam Wuruk pada tahun 1373 M [3].
——————————————————————————————————————————————-
Candi Tepas
Candi Tepas terletak di Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Kondisi candi ini telah runtuh sehingga sulit diketahuai bagaimana bentuk aslinya. Kondisi candi yang seperti itu dimungkinkan karena bahan dasar candi berasal dari batuan yang mudah terkikis. Batu-batu candi yang terkikis tersebut mengakibatkan Candi Tepas seakan-akan tersusun dari batu-batuan yang lonjong.
Sayang sekali kami tidak menjumpai juru kunci Candi Tepas, sehingga kami tidak memperoleh informasi yang memadahi mengenai candi ini.
Setelah cukup puas mengitari Candi Tepas kami pun melanjutkan perjalanan menuju Candi Selotumpuk. Dan syukurlah kami dapat berjumpa dengan Juru Kunci Candi Selotumpuk. Beliau sempat mengulas tentang Candi Tepas yang memang lokasinya berdekatan dengan Candi Selotumpuk. Menurut keterangan beliau Candi Tepas adalah candi peninggalan Kerajaan Majapahit.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Selotumpuk
Candi Selotumpuk atau Candi Watu Tumpuk terletak di Desa Pagerwojo yang bersebelahan dengan Desa Tepas. Secara umum kondisi candi yang berada di puncak Gunung Batok ini telah runtuh. Meskipun telah runtuh, keindahan seni pahat pada Candi Selotumpuk masih dapat dinikmati, seperti pahatan pada antefiknya yang sangat mendetail. Yang membedakan candi ini dengan candi-candi lain di Jawa Timur adalah fragmen kalanya yang tidak digambarkan seperti pada umumnya. Fragmen kala tersebut lebih menyerupai wajah seekor kera dari pada wajah raksasa pada umumnya.
Menurut keterangan juru kunci, candi ini dibangun oleh pasukan Kerajaan Majapahit sebagai pesanggrahan. Untuk keterangan atau pun keperluan lebih lanjut dapat menghubungi Bapak Sutaji Juru Kunci Candi Selotumpuk di 085234285766.
——————————————————————————————————————————————-
Candi Tapan
UPDATE JUNI 10, 2010 OLEH TRAVELLERS2009
Candi Tapan terletak di Dusun Bakulan, Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Lokasinya berada di bawah pepohonan yang berada di tepi Sungaii Jari. Selain bangunan berupa candi, dijumpai pula sejumlah arca, nandi, dan yoni. Arca-arca yang ditemukan di area Candi Tapan menunjukan figur raksasa. Keberadaan arca raksasa pada area percandian biasanya dimaksudkan sebagai penjaga. Peran penjaga tersebut biasanya diwujudkan dalam wujud dwarapala. Akan tetapi raksasa-raksasa tersebut tidak menggambarkan sosok dwarapala seperti pada umumnya.
Berdasarkan temuan yoni dan nandi di area tersebut, dapat disimpulkan bahwa latar belakang keagamaan Candi Tapan adalah agama Hindu. Yoni adalah simbol aspek wanita yang juga merupakan penggambaran istri Dewa Siwa (dewa dalam agama Hindu). Sedangkan nandi adalah kendaraan Dewa Siwa yang berupa lembu jantan berwarna putih.
Keberadaan Candi Tapan sebenarnya sudah diketahui penduduk sekitar sejak lama, namun baru pada bulan maret 2010 Candi Tapan mulai diteliti oleh pihak BP3 Jawa timur. Jika dilihat dari formasi penyebaran arca, diperkirakan luas area Candi Tapan akan bertambah dan memakan lahan yang cukup luas.
Disebut Candi Tapan karena masyarakat sekitar percaya bahwa area tersebut merupakan area pertapaan, namun yang bertapa di area ini bukanlah makhluk kasat mata seperti kita, ujar Pak Kabit juru pelihara Candi Tapan. Masyarakat sekitar juga mempercayai bahwa area tersebut hingga kini masih digunakan sebagai pertapaan makluk halus, sehingga masyarakat sekitar selalu waspada ketika bercocok tanam di sekeliling area tersebut.
——————————————————————————————————————————————-
Terimakasih Kepada :
Adik-adik yang turut membantu Juru Kunci Candi Selotumpuk
——————————————————————————————————————————————-
Writer : Galy Hardyta
Revisi terakhir : September 2011
Sumber :
- Juru Kunci Candi Selotumpuk
- Juru Kunci Candi Tapan
- [1]LOCAL CONTENT DAN COUNTY PROFILE KABUPATEN BLITAR
- [2]Soekmono R. 2007. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius. Yogyakarta
- [3]Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Negara Kretagama. PT LKiS Pelangi Aksara






banyak situs2 candi di kediri blitar yg tertimbun tanah untuk mengetahui letak bekas2 kamu harus sering2 baca kitab2 kuno dan menganalisa dimana sebenarnya situs2 itu terkubur ada sedikit bocoran kerajaan kediri peninggalan sri aji joyo boyo itu ada di desa mamenang bekas kraton.keputren dan taman sari ketimbun tanah letusan gunung kelud untuk mencari tau situs itu tertimbun perlu alat sensor yg bisa melacak adanya rongga di bawah tanah aku yakin dan pasti bekas kerajaan sri aji joyo boyo berada di bawah desa mamenang karna info ini kudapat dari kitab gatoloco intisari pembicaraan sunan bonang dan buta locaya.sekian trims.
terimakasih infonya…
Sebelumnya kami mohon maaf jika balasan ini kurang berkenan. Kami akan menyampaikan beberapa point dalam balasan ini.
-Untuk pencarian candi maupun benda-benda bersejarah yang masih terpendam yang dilakukan oleh orang awam itu dilarang dalam undang-undang.
-Sumber tertulis memang bisa dijadikan acuan dalam mempelajari sejarah, namun kita sebaiknya berhati-hati dalam memilih refrensi. Serat-serat seperti gatoloco diperkirakan merupakan karangan penjajah pada masa kolonial dulu. Isinya pun bertentangan dengan kitab pararaton maupun negarakertagama. Dengan demikian alangkah baiknya jika kita berhati-hati dalam memilih refrensi.
saya setuju dengan jawaban diatas serat gatoloco memang tidak dapat dijadikan referensi primer dalam pengungkapan fakta sejarah, lebih baik merujuk pada naskah2 kuno era majapahit yg sudah di jadikan sumber primer seperi pararaton & negarakertagama. untuk penggalian situs purbakala mungkin orang awam tidak di perkenankan, tapi kalo sekedar memetakan dan mendokumentasikan situs yg terkubur g masalah kan……
Yup..
Trimakasih sudah berkunjung..