Menyusuri Belantara Gunung Gedang

Participant : Bokir, Galy, Kcing, Meitika.

Liburan telah tiba, tak ada alasan lagi untuk menunda-nunda petualangan. Pada liburan ini kami memberanikan diri untuk berpetualang menyusuri rimbunnya belantara Gunung Gedang. Gunung Gedang adalah salah satu dari rangkaian pegunungan kecil yang berada di sekeliling Gunung Kelud. Meski Lokasinya tak begitu jauh dari pusat kota tapi tiada yang akan menyangka jika suasananya masih cukup asri dan cukup alami.

Kami memulai perjalanan dari base camp D’Travellers di Jl Brigjen Katamso 68 Gedog. Untuk sampai di area Gunung Gedang kami menempuh rute Garum-Gandusari. Jalanan beraspal hingga berpasir pun kami lalui untuk sampai ke Gunung Gedang. Setiba di kaki Gunung Gedang kami disuguhi hamparan hutan pinus yang teduh, dan tepat sebelum masuk area hutan pinus kami menjumpai Candi Wringin Branjang. Dalam tulisan ini kami tidak akan membahas tentang Candi Wringin Branjang karena telah di bahas dalam posting sebelumnya. Kami sempat berbincang dengan Juru Kunci Candi Wringin Branjang, untuk sekedar menanyakan kenampakan alam Gunung Gedang.

Menurut penuturan beliau, Gunung Gedang membujur dari arah timur ke barat, dan memiliki dua buah puncak. Puncak Utama berada di bagian timur, sementra posisi kami saat itu berada di sebelah barat. Untuk mencapai puncak Gunung Gedang kami harus menyusuri area hutan pinus dan menjumpai beberapa situs bersejarah di dalamnya. Setelah puas berbincang-bincang kami pun memulai ekspedisi.

Situs Gandusari

Tak seberapa lama setelah kami meninggalkan Candi Wringin Branjang kami mulai memasuki area hutan pinus, dan benar kami menjumpai beberapa bangunan kuno yang disebut sebagai Situs Gandusari. Sungguh menakjubkan, kami tidak menyangka jika di dalam hutan tersebut terdapat sisa-sisa bangunan peradaban kuno.

Kami pun menyempatkan diri untuk mengamatinya. Kenampakan bangunan–bangunan tersebut memiliki kemiripan dengan Candi Wringin Baranjang, yakni memiliki relief yang datar.

Situs Gandusari terdiri dari sebuah gapura(meski tersisa bagian kakinya saja), darmasala, altar, arca-arca, dan miniatur candi. Sampai saat ini bagian altar utama masih digunakan sebagai area pemujaan, hal ini ditandai dengan dupa-dupa yang masih tertancap.

Arca di Situs Gandusari ini tekesan primitif, bahkan lebih primitif dari pada Arca Warak. Wujud arca hanya nampak sebagai goresan-goresan tipis pada batu. Setelah mengamati dan mengabadikan moment di Situs Gandusari, kami melanjutkan ekspedisi untuk masuk lebih dalam ke belantara Gunung Gedang.

——————————————————————————————————————————————-

Gunung Gedang

Selain peninggalan-peninggalan sejarah dan lingkungan yang masih asri, kultur masyarakat pedesaan masih terasa kental di sini. Sebagian besar aktivitas mereka masih dilakukan di hutan, inilah yang tidak dapat kita jumpai di area perkotaan. Selain itu mereka ramah dan bersahaja. Potensi ini sungguh cocok jika dikembangkan untuk desa wisata.

Tak seberapa lama setelah kami menyusuri  hutan pinus, kami mulai memasuki area pepohonan pisang yang tepat berada di bawah lereng gunung. Mungkin hal inilah yang menyebabkan gunung ini disebut sebagai Gunung Gedang. Karena ”gedang” adalah sebutan pisang dalam bahasa Jawa.

Melihat kemiringan medan di depan ± 60ο, kami pun memutuskan untuk memarkir kendaraan dan memulai pendakian. Medan yang terjal tak menjadi halangan bagi kami, meski sesekali kami merasa kuwatir jika terperosok atau jatuh. Baru separuh perjalanan menuju puncak kami sudah disuguhi dengan pemandangan “kali” sungai putih, dan rerumpunan hutan pinus yang nampak cantik terlihat dari lereng. Kami pun melanjutkan perjalanan. Vegetasi pun mulai lebat, tak jarang kami harus membuka jalan untuk terus menuju puncak gunung. Perjuangan kami tak sia-sia, akhirnya kami pun sampai di area datar, yang diyakini sebagai puncak barat Gunung Gedang. Jarak area tersebut menuju puncak utama tidak begitu jauh. Namun karena vegetasi yang benar-benar rapat, dan peralatan kami yang tidak memadahi, kami putuskan untuk mengurungkan niat menuju puncak utama Gunung Gedang.

Meski tertahan di puncak barat Gunung Gedang kami tidak merasa kecewa, sebab suasana di sini sungguh menawan dan menghibur. Bahkan sesekali kami masih menjumpai satwa liar. Semua ini semakin menambah kekaguman kami terhadap tempat ini. Aromnya, suasananya, pemandanganya, dan satwa-satwa liarnya sungguh menyejukan hati. Tak sia-sia kami sampai ke tempat ini.

Dari sini kami memperoleh pelajaran, bahwa segala sesuatu yang kami usahakan belumlah tentu bisa tercapai. Ketika semua itu belum berhasil tercapai, cobalah tengok sekitar kita, maka kita akan melihat dan memahami seberapa jauh usaha kita.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : Juru kunci Candi Waringin Branjang

Perihal travellers2009
Dikebanyakan hal, sebuah nama tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hanya sekumpulan anak yang gila akan travelling. Itulah kami D'Travellers.

Sebuah Tanggapan untuk Menyusuri Belantara Gunung Gedang

  1. Pingback: PENINGGALAN SEJARAH 5 » menambah wawasan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.