Nyadran, Gaya Baru Perburuan Candi Di Blitar

Participant  : Galy, Kcing

Nyadran adalah sebuah kearifan lokal yang hingga kini masih terpelihara dengan baik dikalangan masyarakat pedesaan. Nyadran merupakan aktivitas mendekatkan diri kepada leluhur disuatu tempat, di mana leluhur tersebut dipercaya bersemayam. Aktivitas itu sendiri dapat diejawantahkan menjadi beberapa tujuan, seperti meminta izin, memiliki hajat, atau sekedar untuk mencari ketenangan batin.

Jujur, nyadran yang kami lakukan bukanlah aktivitas seperti yang terdiskripsi di atas. Nyadran yang kami maksud hanyalah istilah untuk gaya baru dalam berburu candi di Blitar. Berburu candi selalu membuka berbagai kemungkinan, dan kini kemungkinan itu mengarah pada beberapa lokasi nyadran di Blitar. Berikut beberapa lokasi nyadran yang diperkirakan memiliki kaitan dengan banguan candi:

Petilasan Pangeran Song Song Buwono

Petilasan Pangeran Song Song Buwono adalah sebuah komplek makam keramat yang berada di lereng Gunung Betet, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Menurut legenda yang berkembang, makam tersebut merupakan tempat persemayaman seorang tokoh pelarian dari Kasunanan Surakarta. Secara umum, makam-makam yang berada di area Petilasan Pangeran Song Song Buwono hanya terlihat seperti tumpukan bata kuno yang disusun secara acak. Bahkan, makam-makam tersebut menggunakan umpak batu berukir sebagai nisannya. Bagaimana bentuk asli dari petilasan ini belum diketahui hingga sekarang, namun jika dilihat dari tinggalan-tinggalan yang ada kemungkinan  bentuk aslinya adalah sebuah bangunan kuno.

Sedikit menarik ketika Ferry Ryandika mengaitkan antara Gunung Betet dengan kunjungan Hayam Wuruk ke Blitar. Dikisahkan dalam Nagarakrtagama bahwa Hayam Wuruk pernah mengunjungi sebuah tempat bernama Tetu di Lodaya (sekarang Sutojayan). Berikut kutipan singkat pendapat Ferry Ryandika mengenai keterkaitan Tetu dengan Gunung Betet:

Nama Tetu dalam uraian Kakawin Nagarakrtagama sampai sekarang identifikasi tempatnya belum terlacak dan diketahui. Namun Tetu memiliki arti papan yang biasanya merupakan bagian dari bale (atap) atau dapat juga berarti kereta perang (Zoetmulder, 1995: 1245). Nama Tetu sekarang boleh jadi terletak di sebelah barat perempatan pasar Lodaya (Sutojayan) atau alun-alun Lodaya yang sekarang disebut Gunung Betet yang terletak di Desa Kembangarum, Kecamatan Sutojayan, kemungkinan Tetu (“tet-u”) tinggal menjadi “tet” kini berubah menjadi “Be-tet”.

Mungkinkah yang dimaksud dengan Tetu tersebut adalah Petilasan Pangeran Song Song Buwono? Jika itu benar, kemungkinan Tetu telah mengalami alih fungsi ketika Islam tengah berkembang di tanah Jawa.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Makam Maling Aguno (Situs Prambutan)

Makam Maling Aguno adalah sebuah makam kuno yang terletak di Dusun Prambutan, Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Lokasi makam ini berada di lereng timur Gunung Pegat bagian barat. Makam ini dipercaya berkaitan erat dengan legenda Maling Aguno. Konon, Maling Aguno adalah seorang pencuri yang membagi-bagikan hasil curiannya kepada rakyat tertindas. Terlepas dari tindakannya yang dianggap kurang tepat, tetapi dia dipandang sebagai salah satu tokoh heroik dimata rakyat kecil.

Julukan ”Maling Aguno” merupakan sebuah bukti kuat di mana ia memang dipandang sebagai tokoh heroik. ”Maling Aguno” sama artinya dengan pencuri yang migunani (berguna). Dalam konteks ini, yang dianggap berguna adalah tindakannya dalam membantu rakyat kecil.

Secara umum, makam kuno ini hanyalah tumpukan batu yang disusun secara acak. Batu-batu tersebut ada yang berbentuk balok dengan permukanan yang polos, dan ada juga yang memiliki ukiran. Terlepas dari legenda yang berkembang, mungkin saja tumpukan batu di makam ini adalah komponen sebuah candi. Mengingat selain Candi Petapan, di Gunung Pegat juga pernah ditemukan sisa-sisa bangunan kuno lain seperti Kekunaan Mleri dan Situs Ngemplak. Bahkan Kekunaan Mleri yang diperkirakan merupakan sebuah candi, kini kondisinya telah dirubah sehingga menyerupai komplek pemakaman.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Mbah Keling

Situs Mbah Keling merupakan lokasi sadranan bagi warga Dukuh Karang Turi, Desa Jajar, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Meski saat ini Situs Mbah Keling berbentuk makam kuno, namun warga setempat percaya bahwa makam tersebut sebenarnya adalah reruntuhan candi. Ciri-ciri tersebut terlihat dari temuan lingga semu beserta batu-batu candi lainnya. Selain itu, situs ini dipercaya memilki tinggalan-tinggalan berupa arca. Sayang sekali arca-arca tersebut telah raib saat terjadinya peristiwa ikonoklastik.

Secara lokasi, Situs Mbah Keling berdekatan dengan Prasati Jajar (Pagiliran/Watu kasur). Diantara keduanya hanya berjarak ±  500 m dan dipisahkan oleh aliran Sungai Mlalo. Meskipun berdekatan, namun belum diketahui apakah Situs Mbah Keling memiliki kaitan sejarah dengan prasati peninggalan Raja Kameswara dari Kerajaan Kadiri tersebut.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Swangsang

Situs Swangsang atau akrab disebut dengan pedahyangan ini berada di TPU Swangsang, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kodya Blitar. Situs Swangsang terdiri dari beberapa batu bata kuno, batu candi, perapih dan umpak. Berdasarkan keterangan narasumber yang kami temui, selain fragmen-faragmen yang kami sebutkan tadi, di lokasi Situs Swangsang ini juga terdapat beberapa arca. Namun arca-arca tersebut raib saat terjadinya peristiwa ikonoklastik.

Awalnya fragmen yang tersisa dari peninggalan yang dipercaya berasal dari era Majapahit ini disusun dan membentuk sebuah makam kuno. Kini makam tersebut telah dirapikan beserta batu bata kuno penyusunnya.

Berdasarkan legenda yang berkembang, situs ini berkaitan dengan keberadaan Situs Gedog. Senada dengan keberadaan Situs Gedog, keberadaan Situs Swangsang ini juga merupakan sebuah pengingat bahwa penduduk Bendogerit tidak diperkenankan menikah dengan penduduk Gedog.

 ——————————————————————————————————————————————-

Lihat lah sisi positifnya, setidaknya situs-situs tersebut tetap lestari berkat suatu kearifan lokal yang disebut Nyadran.

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber :

  • Juru Kunci Petilasan Pangeran Song Song Buwono
  • Warga Dukuh Karang Turi
  • Warga Dusun Prambutan
  • Warga Kelurahan Bendogerit
  • http://tatkalam.blogspot.com/2011/07/kunjungan-hayam-wuruk-ke-blitar.html

Perihal travellers2009
Dikebanyakan hal, sebuah nama tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hanya sekumpulan anak yang gila akan travelling. Itulah kami D'Travellers.

4 Tanggapan untuk Nyadran, Gaya Baru Perburuan Candi Di Blitar

  1. Wisnu Hermawan mengatakan:

    hmm, swangsang….. menurut salah satu versi ada legenda tragis berkaitan dengan makam yang dikenal sebagai dahnyang bendogerit itu. Menurut orang tua di bendogerit, makam itu adalah makam seorang anak kecil dan seekor anjing yang meninggal karena kesalahpahaman; Pembangunan makam itu dilakukan beberapa tahun (kalo gak salah 2 thnan) terakhir oleh walikota Djarot sepertinya. Sayang dgn dibangunnya makam itu, batu2 bata besar yang melingkupinya juga tertutup oleh polesan semen baru…..
    Siip…..

    • travellers2009 mengatakan:

      matur nuwun mas wisnu atas tambahan informasinya..
      menelusuri legenda yang ada dimasyarakat biasanya memang akan menemui beberapa versi cerita berbeda.. dan setelah kami ingat2, beberapa tahun yang lalu makam tersebut memang masih berupa tumpukan bata kuno.. oke, akan kami ralat pernyataan kami yang kurang tepat.. :D

  2. eko bastiawan mengatakan:

    pastingannya lho selalu mantap gan … :)
    wuapik soro… dan menginspirasi pengen mengunjungi juga …
    suwon …

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.