Penyusuran Situs-situs Bersejarah di Blitar Terus Berlanjut (part II)

Participant : Galy, Kcing

Munculnya Posting lanjutan ini merupakan wadah untuk menginformasikan situs-situs bersejarah yang sempat kami jumpai selama melakukan agenda perjalanan lain. Selain itu posting ini juga bertujuan untuk mengurangi penumpukan tulisan-tulisan baru yang kami update pada posting sebelumnya dengan tajuk pernyusuran situs-situs bersejarah di Blitar. Semoga posting ini dapat bermanfaat.

Sayang kan jika kami sempat merekam tapi tidak sempat menginformasikannya.. :D

Situs Jeding

Situs Jeding merupakan berkas pemandian kuno (petirtaan) yang terletak di Desa Jeding, Kecamatan Sanankulon. Berkas pemandian ini berada dilokasi yang cukup terpencil dan dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan dengan mata air yang masih mengalir. Sayang sekali di situs ini tidak ditemukan fragmen lain selain struktur bangunan bata kuno.

Meski belum memperoleh klarifikasi dari penduduk setempat, ada kemungkinan bahwa Situs Jeding memiliki kaitan dengan asal-usul Desa Jeding. Jeding sendiri adalah kata dalam bahasa jawa yang berarti tempat mandi.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Dayu

Situs atau Candi Dayu kini tinggal menyisakan sebuah arca relief yang berada di halaman salah seorang warga Desa Dayu. Dulunya warga setempat memang sempat menemukan arca-arca lain seperti nandi, arca Bathara Guru (kemungkinan arca Siwa), dan arca seorang wanita. Sayangnya ketika warga memiliki inisiatif untuk merawatnya, benda-benda cagar budaya tersebut justru dicuri oleh pihak tak bertanggung jawab.

Keberadaan Situs Dayu memang tidak lepas dari mitos masyarakat setempat mengenai keberadaan Dahyang Dewi Ronce. Dewi Ronce adalah penjaga Desa Dayu, keberadaanya sering ditunjukkan melalui penampakan seekor harimau jadi-jadian yang merupakan kendaraannya, tutur warga setempat.

Ditilik dari arca-arca yang pernah ditemukan di desa ini, diperkirakan bahwa corak keagamaan Situs Dayu adalah agama Hindu.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Combong

Situs Combong kini tinggal menyisakan sebuah lingga yang tertanam di area persawahan Desa Combong, Kecamatan Garum. Lingga tersebut berada persis dipinggir jalan, sehingga mudah untuk ditemukan. Laporan Knebel 1905/1906 menginformasikan bahwa di area Desa Combong memang pernah ditemukan beberapa fragmen kuno seperti arca Brahma dan nandi. Sayang sekali saat ini tinggalan yang tersisa tinggalah lingga ini. Ditilik dari keberadaan lingga, diduga bahwa Situs Combong berlatar belakang agama Hindu. Lingga biasanya diletakkan diatas sebuah yoni sebagai perlambang dewa Siwa dengan Parwati istrinya.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Palulo

Situs Palulo adalah situs peninggalan sejarah bercorak hinduistis yang terletak di Dusun Palulo, Desa Nglegok, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Corak hinduistis tersebut ditandai dari temuan yoni di area Situs Palulo. Selain yoni, di area Situs Palulo juga dapat dijumpai fragmen lain seperti umpak dan batu yang menyerupai pecahan yoni.

Sejauh pengamatan kami, tidak dijumpai kronogram pada fragmen-fragmen di Situs Palulo ini. Sehingga sejauh ini, baru latar belakang keagamaan saja yang dapat di ungkap pada situs ini.

 ——————————————————————————————————————————————-

Situs Jati Malang

Situs Jati Malang Terletak di lingkungan Jati Malang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kodya Blitar. Tidak banyak informasi sejarah mengenai situs yang berada di depan gapura masuk Jl Cut Mutia ini. Narasumber yang kami temui hanya membenarkan bahwa beberapa fragmen yang menyerupai miniatur candi atau mungkin kemuncak candi tersebut merupakan benda bersejarah. Beliau juga menuturkan bahwa benda-benda tersebut adalah milik desa dan lokasinya tidak boleh dipindahkan secara sembarangan.

 ——————————————————————————————————————————————-

Situs Sawah Reco (Situs Tanggung)

Situs Sawah Reco atau Situs Tanggung adalah situs peninggalan sejarah baru, yang gencar diberitakan pada awal tahun 2011 ini. Situs ini ditemukan kembali oleh Pak Dugel saat mengolah sawah miliknya yang terletak di Dusun Santren, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kodya Blitar. Beliau berhasil menemukan kembali fragmen-fragmen kuno seperti: bata kuno, fosil yang diduga kerangka manusia, lumpang, dan yoni. Temuan-temuan tersebut kini disimpan di kediaman Pak Dugel, dan sebagian lagi tetap dibiarkan berada di lokasi penemuan.

Dikutip dari http://www.dahanapura.co.cc/: Penemuan kerangka manusia beserta bekal kubur, mengingatkan pada sistem penguburan pada masa Perundagian atau akhir masa prasejarah, yakni sistem kubur tempayan.

Kini yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah temuan kerangka dan temuan fragmen-fragmen bercorak hinduistis pada Situs Sawah Reco ini menandakan adanya akulturasi kebudayaan prasejarah dengan kebudayaan Hindu? Mengingat selain temuan yoni, di area persawahan Dusun Santren juga pernah terdapat dua buah Arca Dwarapala. Sedikit melenceng dari ide pokok paragraph ini, konon keberadaan dua buah arca dwarapala itulah yang menyebabkan area persawahan di Dusun Santren ini disebut ”Sawah Reco.”

Misteri Situs Sawah Reco ini semakin pelik dengan cerita masyarakat setempat mengenai keberadaan bangunan zaman kolonial Belanda di persawahan Dusun Santren yang tersapu lahar Gunung Kelud beserta para penghuninya. Menurut narasumber lain yang kami temui, pasca terjangan lahar tersebut para petani sering menemukan batu bata berukuran besar dan kerangka manusia. Memang jika ditinjau, lokasi bekas bangunan kolonial tersebut terletak ± 750 m di timur lokasi penemuan yoni. Tetapi kemungkinan apapun tetap saja bisa terjadi. Lalu dari era manakah sebenarnya kerangaka yang ditemukan bersama yoni tersebut berasal? Apakah berasal dari zaman hindu buda? Atau dari zaman kolonial?? Tentunya semua ini masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Juli 2011

Sumber :

  • Pak Dugel dan Warga Dusun Santren, Kelurahan Tanggung
  • Warga Jati Malang, Kelurahan Sentul
  • http://www.dahanapura.co.cc/

Perihal travellers2009
Dikebanyakan hal, sebuah nama tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hanya sekumpulan anak yang gila akan travelling. Itulah kami D'Travellers.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.