Membentangkan Sayap Hingga Candi-Candi Tulungagung

Participant: Galy, Tiko

Dedikasi untuk membentangkan sayap travellers hingga ke kota tetangga kini mulai diwujudkan. Setelah beberapa waktu yang lalu kami melakukan perjalanan ke Pare untuk menyambangi Candi Tegowangi dan Candi Surowono, kini kami mulai mengarahkan perjalanan ke candi-candi yang berada di Kabupaten Tulungagung. Posting ini pun menjadi saksi sekaligus bukti atas dedikasi yang kami cita-citakan. Oleh karenanya, meski kami bukan orang yang paham betul mengenai candi-candi setempat, kami tidak akan asal-asalan dalam membuat posting ini dan berusaha mencari sumber terbaiki.

Candi Miri Gambar

Secara administratif Candi Mirigambar terletak di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol. Kondisi candi yang tersusun dari batu bata ini telah runtuh tinggal menyisakan bagian kaki dan gapura.  Meskipun demikian keindahan seni pahat pada candi ini masih dapat dinikmati. Keindahan tersebut tercermin pada sisa-sisa reliefnya yang terpahat halus di permukaan batu bata. Relief tersebut mengisahkan tentang legenda Angling Dharma, sehingga Candi Mirigambar sering juga disebut dengan sebutan Candi Angling Dharma.

Candi Mirigambar diperkirakan dibangun pada akhir abad XII hingga akhir abad XIV, sesuai dengan kronogramnya yang menunjukkan angka tahun 1214 Saka dan 1310 Saka. Ditilik dari rentang tahun tersebut, pembangunan candi Mirigambar tergolong cukup lama, yakni sejak akhir pemerintahan Kertanegara (Singosari) hingga masa pemerintahan Hayam Wuruk (Majapahit). Banyaknya tinggalan-tinggalan lain di sekitar Candi Mirigambar, mengindikasikan bahwa dahulunya lokasi ini merupakan sebuah komplek percandian yang sangat luas. Sehingga tidak mengherankan jika pembangunannya memakan waktu yang cukup lama. Tinggalan-tinggalan lain yang berada di sekitar Candi Mirigambar antara lain Bekas Pemandian Mliwis Putih, Candi Tuban, dan reruntuhan candi lain 300 m di timur Candi Mirigambar.

——————————————————————————————————————————————-

Candi Sanggrahan

Secara administratif Candi Sanggrahan terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Mengenai rute dan informasi selengkapnya tentang Candi Sanggrahan  dapat diakses pada halaman Rute dan Informasi.

Candi yang dikenal oleh sebagian masyarakat dengan sebutan candi cungkup ini, diriwayatkan dalam Kitab Negarakertagama sebagai tempat pendharmaan Bhre Paguhan dari masa Kerajaan Majapahit[1]. Sedangkan dalam cerita rakyat Sina Wijoyo Suyono, Candi Sanggrahan dikenal sebagai tempat yang dipergunakan untuk beristirahatnya rombongan pembawa jenazah Gayatri (Rajapadmi) sebelum didharmakan di Candi Gayatri[2].

Dari segi arsitektur, Candi Sanggrahan merupakan komplek percandian yang dibangun dari kombinasi batu bata dan batu andesit. Komponen batu-bata secara umum mendominasi komplek percandian ini, yakni meliputi bagian selasar, gerbang, dan candi-candi perwara. Sedangkan batuan andesit hanya digunakan untuk menyusun bangunan utama. Pada bagian kaki candi terdapat relief yang diperkirakan merupakan bagian dari cerita Tantri Kamandaka. Relief tersebut menceritakan tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing. Relief ini sering dijumpai pada candi-candi yang bercork Budha, sehingga diperkirakan latar keagamaan Candi Sanggrahan adalah Budha.

——————————————————————————————————————————————-

Goa Selomangleng

Goa Selomangleng yang berada di Desa Sanggrahan, Tulungagung ini merupakan ceruk yang dibuat pada sebuah batu besar. Lokasi goa tersebut cukup terpencil dan berada disekitar tebing Gunung Walikukun. Secara harfiah selo berarti batu dan mengleng berarti miring, sehingga dengan kata lain Goa Selomangleng adalah goa yang berada pada tebing batu. Ditinjau dari bentuk tinggalan yang berupa goa dengan lokasi yang terpencil di kaki gunung, diperkirakan fungsi Goa Selomangleng adalah sebagai tempat pertapaan atau karsyan.

Goa Selomangleng memiliki dua buah ceruk, dengan ceruk utama menghadap ke barat dan ceruk lainnya menghadap ke selatan.  Pada dinding ceruk utamanya terpahat relief Arjunawiwaha. Keberadaan relief tersebut diharapkan mampu menguatkan hati si pertapa, mengingat Arjunawiwaha merupakan sebuah kisah mengenai Arjuna yang bertapa untuk memohon senjata sakti dari para dewa. Dalam pertapaanya itu Arjuna mendapat gangguan dari bidadari-bidadari utusan Bathara Indra. Karena ketulusan hatinya, Arjuna tak bergeming sedikitpun dan akhirnya memperoleh senjata berupa Gendewa.

——————————————————————————————————————————————-

Candi Gayatri (Candi Boyolangu)

Candi Gayatri atau Candi Boyolangu secara administratif terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Candi ini adalah komplek percandian yang terdiri dari candi induk dan dua buah candi perwara. Seluruh banguan pada komplek candi ini berbahan dasar batu bata, hanya beberapa komponen saja yang terbuat dari batu andesit, misalnya umpak dan arcanya.

Menurut kitab Negarakertagama Candi Gayatri merupakan tempat pendharmaan Gayatri. Semasa hidupnya Gayatri (salah satu istri Raden Wijaya/ Krtarajasa Jayawardhana) dikenal sebagai pendeta wanita Budha Kerajaan Majapahit dengan gelar Rajapadmi, sehingga setelah meninggal Gayatri didharmakan sebagai Dhyani Budha Wairocana.  Candi tempat pendharmaan Gayatri ini bernama Pradjnaparamitapuri, dan dibangun pada tahun 1281 Saka hingga 1311 Saka sesuai dengan kronogram yang terpahat pada umpaknya[1]. Pendirian Candi Gayatri yang bertahap tersebut dapat dilihat hingga kini, yakni dengan adanya struktur hiasan candi yang tumpang tindih dengan struktur kaki candi.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Makam Soka

UPDATE APRIL 23, 2011 OLEH TRAVELLERS2009

Situs Makam Soka merupakan situs peninggalan bersejarah yang terletak di Dusun Soka, Desa Karangsari, Kecamatan Rejotangan. Ditilik dari segi lokasinya, Situs Makam Soka memiliki kesamaan dengan Situs Makam Ki Ageng Sengguruh, yakni berada di area pemakaman umum. Situs bersejarah yang terletak di area pemakaman biasanya dianggap oleh masyarakat disekitarnya sebagai cikal bakal atau sadranan yang digunakan untuk upacara ritual dalam berbagai kegiatan. Kebudayaan seperti ini masih berjalan hingga sekarang, sehingga situs-situs seperti Situs Makam Soka masih jarang dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi maupun penelitian.

Situs Makam Soka terdiri dari sebuah prasasti, tumpukan batu-batu candi, umpak dan lumpang. Berdasarkan catatan yang termuat dalam Inventaris Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak di Kabupaten Tulunggagung, diketahuai bahwa prasasti di Situs Makam Soka berangka tahun 1123 Saka atau 1201 Masehi. Sehingga kemungkinan besar Situs Makam Soka merupakan peninggalan sejarah dari era Raja Krtajaya dari Kerajaan Kadiri.

Ada satu hal yang janggal pada prasasti yang ditengarahi berasal dari era Kerajaan Kadiri ini, yakni adanya lambang surya dalam prasati tersebut. Meski sedikit berbeda dengan Surya Majapahit, tetap saja keberadaan lambang surya tersebut menimbulkan keambiguan. Pasalnya lancana Kerajaan Kadiri era Krtajaya adalah garudamuka. Hingga kini belum ada titik terang mengenai kejanggalan tersebut, terutama karena masih minimnya data sejarah dan informasi dari masyarakat sekitar mengenai Situs Makam Soka.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Februari 2012

Sumber :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 321 pengikut lainnya.