Sebuah Kebulatan Tekat Menuju Pantai Keben

Participant : Galy, Kcing, Koje, Chuko, Lia, Nyop

Sempitnya waktu tak akan mengurungkan niat kami untuk melakukan suatu perjalanan. Bahkan rangkaian perjalanan kami masih terus berlangsung hingga Ramadan 1432 H menjelang. Tak ada niat dari kami untuk mengabaikan datangnya bulan suci tersebut. Ini semua lebih karena masing-masing dari kami memiliki kesibukan yang beragam. Sebagai imbasnya, jika suatu perjalanan telah dispakati maka kapan pun dan dimana pun tempatnya tak akan jadi masalah bagi kami.

Lagi-lagi perjalanan kami mengarah ke Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Adalah Pantai Keben yang telah membawa kami untuk kembali mengusik ketenangan Desa Ngadipuro. Pantai Keben adalah salah satu pantai terindah dari sekian banyak pantai yang dimiliki desa ini. Sayang sekali keindahan Pantai Keben belum bisa secara instan untuk dinikmati. Akses yang sangat sulit merupakan momok utama bagi siapa pun yang ingin menikmati keindahannya.

Dengan tekat yang kuat, kami berusaha untuk mangatasi segala rintangan yang menghadang selama perjalanan berlangsung. Nahasnya sebuah insiden fatal terjadi dipenghujung perjalanan, dan karenanya kami harus menempuh 4 km terakhir dengan berjalan kaki. Rute awal yang  kami lalui adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak, tetapi demi memangkas jarak dan menghindari rute memutar kami putuskan untuk potong kompas. Kami pun mencoba menarik sebuah vektor yang mengarah langsung menuju Pantai Keben. Dengan keputusan tersebut, sama artinya kami harus berjibaku naik turun bukit sambil berjalan di sela-sela tanaman tebu.

Cuaca terik dan medan yang terjal memberikan bayang-bayang frustasi di benak kami. Tapi jika kami kembali, tentunya perjuangan yang telah dijalani akan terasa sia-sia. Dan dengan kebulatan tekat, kami putuskan untuk tetap menerjang. Satu dua tanaman tebu pun kami libas :twisted:. What?? 8O Bukan karena tanaman tersebut menghalangi jalan, melainkan untuk memberi asupan energi bagi tubuh kami yang sudah mulai letih :mrgreen:. Syukurlah, tak seberapa lama kemudian Pantai Keben mulai terlihat. Kami pun semakin bergairah untuk segera menginjakkan kaki di sana.

Kondang Keben merupakan penghalang terakhir sebelum kami sampai di Pantai Keben. Dengan berhati-hati kami menyisir tepian kondang tersebut dan akhirnya sampai pada klimaks dari perjalanan ini. Pantai Keben!!

Keindahan alam tak akan pernah dapat didiskripsikan secara sempurna melalui kata-kata. Oleh karenanya, perkenankanlah gambar-gambar di atas mewakili keindahan Pantai Keben.

Ternyata ada hikmah dibalik perjalanan yang meletihkan ini. Setelah berfikir keras dan mengerahkan segala naluri, akhirnya kami dapat kembali dengan melalui rute baru yang relativ lebih mudah. Dan dengan demikian, kami dapat sedikit memberikan gambaran mengenai rute menuju Pantai Keben.

Secara umum ada dua rute yang dapat dilalui untuk menuju Pantai Keben. Rute Pertama adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak. Rute ini tergolong sulit karena terik dan permukaan jalannya bergelombang. Rute Kedua adalah menyusuri hutan jati di sebelah barat Dusun Banyu Urip, yakni dengan mengikuti jalan menanjak setelah menuruni jalan rabat beton. Turunan dengan jalan beton berada kurang lebih 500 m di selatan tugu SH Terate. Rute ini tergolong lebih mudah untuk dilalui. Selain teduh, rute ini juga memiliki permukaan jalan yang rata. Pada akhirnya rute ini tetap berujung pada ladang tebu, tetapi sudah lebih dekat dengan Pantai Keben. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Keben dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Ekspedisi Bakung, Menjelajahi Goa Hingga Pantai

Participant: Galy, Kcing

Bakung merupakan kecamatan yang berada di ujung barat daya Kabupaten Blitar. Kacamatan ini kaya akan potensi wisata alam yang cukup menarik untuk dikembangkan, mulai dari goa hingga pantai. Tentunya keberadaan objek-objek tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Kecamatan Bakung yang memang berada di dataran tinggi gunung kidul dan berbatasan langsung dengan laut selatan.

Pada kesempatan ini kami sepakat untuk mengeksplorasi kekayan wisata alam yang dimiliki Kecamatan Bakung. Jika selama ini Goa Umbul Tuk dan Pantai Pangi menjadi objek wisata andalan, maka pada perjalanan ini kami mencoba menelusuri lebih dalam lagi mengenai potensi wisata lain yang ada di Kecamatan Bakung. Berikut beberapa objek wisata alam yang cukup potensial untuk di kembangkan:

Goa Umbul Tuk (Embul Tuk)

Goa Umbul Tuk adalah salah satu objek wisata goa andalan yang terkenal di Kabupaten Blitar. Goa yang dikenal karena memiliki aliran sungai bawah tanah ini berada di Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung. Untuk menjangkau lokasi Goa Umbul Tuk tidaklah sulit, karena penunjuk arah menuju kawasan wisata ini cukup lengkap dan memadai. Untuk lebih jelasnya rute menuju Goa Umbul Tuk dapat disimak pada halaman ”Rute dan Informasi” pada pembahasan mengenai Pantai Pangi.

Karena merupakan salah satu objek wisata andalan, fasilitas di Kawasan Wisata Goa Umbul Tuk sudah cukup memadai. Bagi pengunjung yang ingin menyusuri lorong-lorong goa sambil berbasah-basahan, sudah disediakan kamar ganti. Sedangkan bagi pengunjung yang sekedar ingin bercengkrama, di kawasan wisata ini sudah disediakan fasilitas gazebo dan kantin.

Sekilas sejarah mengenai penemuan Goa Umbul Tuk. Goa Umbul Tuk ditemukan pada tahun 1984 oleh Bapak Tukimin. Goa ini kemudian diberi nama Umbul Tuk karena ketika debit airnya tinggi, goa hanya dapat dimasuki dengan menyelam terlebih dahulu.

umbultuk

Goa sepanjang 1,5 km ini memiliki debit air yang berubah-ubah tergantung musim dan memiliki kedalaman air yang bervariasi. Goa ini juga memiliki percabangan, sehingga pengunjung yang ingin menyusuri goa wajib ditemani oleh pemandu. Pemandu akan menemani pengunjung dengan penerangan seadanya. Dan dibawah penerangan yang minim tersebut, keindahan stalagtit-stalagtit Goa Umbul Tuk dapat dinikmati.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Gayasan

Masih berada di kawasan Desa Tumpakkepuh, tepatnya sedikit bergeser ke timur dari Pantai Pangi, terdapat sebuah pantai yang cukup luas dan masih asri. Pantai itu adalah Pantai Gayasan. Pantai Gayasan merupakan pantai yang lokasinya berada di ujung timur Kecamatan Bakung. Untuk menuju Pantai Gayasan cukup dengan mengikuti jalanan ke arah timur dari Balai Desa Tumpakkepuh. Balai Desa Tumpak Kepuh sendiri kurang lebih berjarak 1 km di sebelah timur kawasan wisata Goa Umbul Tuk. Medan untuk menuju Pantai Gayasan tergolong masih sulit, jalanannya cukup sempit dan bergelombang.

Secara umum Pantai Gayasan memiliki pasir pantai berwarna putih dengan sedikit campuran pasir hitam. Di sebelah kiri Pantai Gayasan terdapat sungai yang cukup dalam. Semakin mendekati bibir pantai, sungai tersebut semakin dangkal dan berkelok membelah pantai menjadi dua bagian. Ombak di pantai Gayasan cukup menantang. Konon jika sedang beruntung, ombak di pantai ini dapat digunakan untuk oleh raga surfing.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Pasur

Bergeser ke ujung barat Kecamatan Bakung, tepatnya di Desa Bululawang terdapat sebuah pantai yang menyuguhkan eksotika pasir hitam. Ya benar.. ;) Pantai yang kami maksud adalah Pantai Pasur.

Jika membicarakan Pantai Pasur, yang terbayang di benak kita pastilah kondisi pantai yang sudah tidak asri lagi. Memang benar, saat ini 6,974 Ha dari pantai ini tengah ditambang hingga tahun 2031 mendatang. Penambangan itu dilakukan untuk mengambil kandungan pasir  besi yang terkandung dalam pasir pantai. Semoga penambangan tersebut tidak berujung pada rusaknya lingkungan, dan kelak dilakukan reklamasi setelah penambangan usai.

Meskipun tengah ditambang, Pantai Pasur tidak dapat menyembunyikan pesona keindahannya. Pemandangan yang sangat mempesona dapat kita nikmati di bagian kiri pantai ini. Pesona tersebut terpancar dari kombinasi antara pasir hitam dengan pemandangan pulau karang di depannya. Sembari menikmati pesona tersebut, kita dapat berteduh dibawah naungan tebing tinggi dengan vegetasi yang masih alami.

——————————————————————————————————————————————-

Goa Ngetup

Goa Ngetup adalah sebuah objek wisata baru dan belum dikembangkan di Kecamatan Bakung. Goa Ngetup berada di Dusun Sumberjambe, Desa Kedungbanteng. Untuk menuju Dusun Sumberjambe, cukup dengan mengikuti jalan desa di sebelah Balai Desa Kedungbanteng. Setelah menyusuri jalan desa sejauh ± 500 m, akan dijumpai dua buah percabangan jalan. Untuk rute yang lebih pendek dapat dipilih percabangan sebelah kiri. Lokasi goa ini sangat tersembunyi, dan kami pun harus berulangkali bertanya kepada warga sekitar untuk menemukannya.

Secara umum kondisi Goa Ngetup masih terkesan belum terjamah. Seperti halnya Goa Umbul Tuk, Goa Ngetup juga merupakan goa dengan aliran sungai bawah tanah. Yang membedakannya adalah: jika pada Goa Umbul Tuk air mengalir keluar dari mulut goa, maka pada Goa Ngetup air justru mengalir ke dalam goa.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Cuaca Cerah = Ke Pantai Lagi

Participant: Galy, Kcing

Cuaca yang mulai kondusif di bulan Juli, mengugah kembali hasarat kami untuk menyusuri pantai-pantai di Blitar selatan. Kali ini, penyusuran kami arahkan ke Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Benar..!! ;) di desa inilah Pantai Serang yang terkenal itu berada. Awalnya maksud kami hanya sekedar menengok keadaan di Pantai Serang. Akan tetapi naluri berburu telah menghantar kami untuk naik turun bukit menyusuri pantai-pantai lain di sekitar Pantai Serang. Dan seakan tak percaya, pantai-pantai tersebut cukup menarik dan menantang untuk dijelajahi. Berikut ulasan tentang pantai-pantai yang telah kami susuri di Desa Serang.

Pantai Serang

Pantai Serang adalah pantai utama dan pusaka di Desa Serang. Pantai ini merupakan sebuah teluk dengan kemiringan pantai yang landai. Pasir pantainya berwarna hitam karena bercampur dengan pasir besi.

Sebenarnya Pantai Serang cukup indah untuk dinikmati, apalagi bila di lihat dari gardu pandang yang terletak di atas bukit sebelah timur pantai ini. Sayang sekali kebersihan di pantai ini kurang terjaga, sehingga mengurangi keindahan dan kurang sedap untuk dipandang.

Fasilitas umum di kawasan wisata Pantai Serang sudah cukup memadai, antara lain terdapat Masjid, gazebo, kedai makanan, jasa penitipan kendaraan, dan MCK yang sebagian besar dikelola oleh penduduk sekitar. Sedangkan fasilitas gardu pandang yang tersedia sebenarnya merupakan sarana yang digunakan untuk melakukan rukyat (melihat Hilal dalam rangka menentukan awal Bulan Ramadan).

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Maesan Padang/ Mesang Padang

Bergeser sedikit ke selatan gardu pandang, terdapat sebuah pantai kecil yang cukup indah. Pantai tersebut adalah Pantai Maesan Padang/ Mesang Padang. Pantai ini merupakan tempat persinggahan perahu para nelayan. Secara umum Pantai Maesan Padang memiliki panorama yang cukup memukau karena dibentengi oleh formasi batuan karang yang melingkar.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Selok Gogor

Pantai Selok Gogor adalah pantai lain di kawasan wisata Pantai Serang. Letaknya berada di sebelah barat Pantai Serang. Pantai ini dapat dijangkau dengan mendaki bukit di sebelah barat Pantai Serang.

Secara umum kondisi Pantai Selok Gogor masih lebih asri bila dibandingkan dengan kondisi Pantai Serang. Sedangkan secara kenampakan, pantai ini dibagi menjadi dua bagian oleh sebuah tebing yang indah. Pantai bagian timur sedikit kotor, karena berdekatan dengan area tambak milik penduduk. Sedangkan pantai di bagian barat masih sangat asri dan alami. Pasir hitamnya akan berkilauan saat diterpa cahaya mentari.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Serit

Bergeser lagi ke sebelah barat Pantai Selok Gogor, akan dijumpai sebuah pantai yang cukup luas. Pantai tersebut adalah Pantai Serit, yakni pantai paling barat di Kawasan Wisata Pantai Serang.

Meski abrasi telah sedikit mengikis bibir pantainya, namun keindahan tetap terpancar dari Pantai Serit. Rimbunnya vegetasi dan keberadaan sungai air payau di sekitar pantai ini turut menyemarakkan keindahannya.

——————————————————————————————————————————————-

Bajak Laut :twisted:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : -

Sumber : Warga Desa Serang

Berteman Badai Menuju Rowo Gebang

Participant : Galy, Koje, Meitika

Sudah menjadi rahasia umum bila Blitar selatan memiliki belasan pantai yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata andalan. Sayang sekali sebagian besar dari pantai-pantai tersebut belumlah dikembangkan dengan baik. Hingga kini baru beberapa pantai saja yang telah dikembangkan, seperti Pantai Tambakrejo, Pantai Serang, Pantai Jolosutro, Pantai Pangi, dan Pantai Peh Pulo (Wedhiombo). Pengembangan pantai-pantai tersebut cukup beralasan sebab pantai-pantai tersebut bukanlah pantai tunggal, disekitar pantai-pantai tersebut terdapat pantai lain yang dapat dijadikan sebagai objek pendukung. Misalnya saja Pantai Tambakrejo yang lokasinya berdampingan dengan Pantai Pasir Putih (Pasetran Gondo Mayit), dan Pantai Serang yang berdampingan dengan Pantai Serit. Seperti halnya pantai-pantai tersebut lokasi Pantai Peh Pulo juga cukup strategis, karena diapit oleh dua pantai yang indah, yakni Pantai Wedhiciut dan Pantai Babagan Rowo Gebang.

Keberadaan pantai-pantai lain disekitar Peh Pulo ini telah menarik perhatian D’Travellers. Terutama karena akses menuju Pantai Peh Pulo sudah cukup memadahi, sehingga tidaklah terlalu sulit untuk mengeksplorasi pantai-pantai lain di sekitarnya. Hal ini juga disesuaikan dengan cuaca ekstrim yang sering melanda. Apabila dalam kondisi seperti ini kami memaksakan perjalanan ke tempat yang berkenampakan lebih liar, dikawatirkan perjalanan kami justru akan berujung petaka.

Awalnya kami sempat ragu, sebab sebelum berangkat wilayah Blitar tengah diliputi awan gelap. Tapi kerena dari kejauhan langit di selatan Blitar tampak terang, akhirnya kami memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan ini. Dan benar, kami pun disambut oleh hangatnya sinar mentari sesaat setelah tiba di Pantai Peh Pulo. Melihat cuaca yang cukup mendukung, kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Babagan Rowo Gebang di sebelah barat Pantai Peh Pulo. Rute yang kami ambil adalah dengan mendaki bukit yang memisahkan kedua pantai tersebut. Namun nahas, baru separuh perjalanan mendadak cuaca berubah. Hujan mulai mengguyur dan cuaca kian memburuk, kondisi ini memaksa kami untuk berhadapan langsung dengan bandai. Beberapa kali kilat menyambar dan terdengar gemuruh ombak yang menghantam tebing-tebing disekitar pantai. Dalam suasana itu kami mencoba tetap tenang dan menunggu hingga badai reda di sebuah gubung kecil.

Setelah sabar menanti akhirnya badai pun berlalu. Sesaat setelah badai berlalu kami bermaksut untuk melanjutkan perjalanan, namun kebimbangan menerpa kami karena langit bagian barat masih terlihat gelap. Kondisi ini memaksa kami untuk kembali ke Pantai Peh Pulo.

Tak mau pulang dengan tangan hampa, kami mencoba opsi lain yakni menuju Pantai Wedhiciut yang berada di timur Pantai Peh Pulo. Namun sayang jalan setapak menuju pantai tersebut masih terlalu licin dan berbahaya untuk dilalui. Akhirnya kami pun menunggu dan hanya mondar-mandir di Pantai Peh Pulo.

Tenaga yang sudah terkuras dan mentari yang mulai terik membuat kondisi menjadi tak mungkin lagi untuk mengulangi pendakian. Dalam kondisi itu saya mencoba menemui warga sekitar untuk mencari rute termudah menuju Pantai Babagan Rowogebang. Syukurlah beberapa warga berkenan memberikan informasi terkait pantai tersebut.

Berdasarkan informasi dari warga, Pantai Babagan Rowo Gebang dapat dijangkau dengan menyusuri lembah sebelah utara dari bakit yang memisahkan pantai tersebut dengan Pantai Peh Pulo. Sayangnya rute ini tidak dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor, karena harus melewati area persawahan warga. Dengan kata lain rute tersebut hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah. Setelah menyusuri lembah dan persawahan sejauh 1 km, akhirnya keindahan Pantai Babagan Rowo Gebang dapat dinikmati.

Pantai yang juga terletak di Desa Sumbersih ini tidak kalah memukaunya dengan Pantai Peh Pulo. Pantainya masih sangat bersih dan alami, pasirnya halus tidak seperti Pantai Peh Pulo yang pasirnya tercampur material kapur sisa-sisa biota laut. Tak hanya itu, keindahan pantai ini juga disemarakkan oleh keberadaan Pulau  Rowo Gebang yang terhampar indah di muka pantai. Kami rasa cukup ini yang dapat didiskripsikan dari pantai ini. Berikut kenampakan Pantai Babagan Rowo Gebang yang berhasil kami dokumentasikan.

Nah menarik bukan…  Jadi jagan lupa untuk mampir ke pantai ini saat berwisata ke Pantai Peh Pulo(Wedhiombo)…

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : Warga Desa Sumbersih

Ngadipuro, Ekspedisi 4 Pantai

Participant: Galy, Kcing, Nyop, Binti

Meski sudah masuk dipenghujung liburan semester, semangat kami untuk terus melakukan ekspedisi tak pernah luntur. Sejalan dengan obsesi kami yang ingin menjelajahi pantai-pantai yang berada di Blitar, kami pun melakukan ekspedisi ke Desa Ngadipuro. Desa yang terletak di Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar ini memang dikenal memiliki beberapa pantai yang indah.

Pantai-pantai yang menjadi target kami kali ini adalah pantai-pantai yang berada di antara Pantai Pudak dan Pantai Serit (Kawasan Wisata Pantai Serang). Seperti ekspedisi kami ke Pantai Banteng Mati yang lalu, kami belum mengetahui nama pantai-pantai yang akan kami kunjungi kali ini. Untung saja kami berjumpa dengan penduduk sekitar dan sempat berbincang-bincang. Berdasarkan keterangan mereka akhirnya kami mengetahui nama pantai-pantai tersebut, yakni Pantai Dung Dowo, Pantai Bakung, Pantai Selok Kancil, dan Pantai Benelan.

Perjuangan menyusuri pantai-pantai ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Mau tidak mau kami harus menyeberangi bukit-bukit yang memisahkan masing-masing pantai tersebut. Kami memang tak perlu membuka jalan, sebab sudah tersedia jalan setapak menuju ke masing-masing  pantai, namun kenampakanya cukup terjal dan ditumbuhi semak-semak yang rapat. Dengan penuh perjuangan akhirnya kami mampu mengunjungi seluruh pantai yang menjadi tujuan kami ini. To the point saja, seperti inilah rupa pantai-pantai tersebut:

Pantai Dung Dowo

Pantai Dung Dowo memiliki dua pantai yang dipisahkan oleh tebing. Kedua pantainya dihubungkan oleh batuan karang yang tersusun alami. Untuk melaluinya harus ekstra hati-hati, sebab kondisinya licin dan kadang-kadang dihantam ombak.

Secara umum pemandangan di pantai ini cukup indah. Pasirnya putih dan pantainya bersih. Di hadapan kami juga disuguhi oleh formasi pulau karang yang indah.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Bakung

Pantai Bakung adalah pantai terpanjang dari keempat pantai yang kami kunjungi kali ini. Sepintas kondisi pantainya mirip dengan Pantai Peh Pulo, daratan pantainya tidak hanya didominasi oleh pasir tetapi juga batuan karang alami. Dari pantai ini kami dapat menikmati formasi pulau karang yang nampak dari Pantai Dung Dowo dengan jelas. Sayang sekali pantai ini sedikit kotor.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Selok Kancil

Secara umum Pantai Selok Kancil memiliki luas yang tidak terlalu luas. Dari sini kami dapat melihat aktivitas kapal-kapal nelayan yang berlayar dari Pantai Serang.

Karena rute yang terjal dan cuaca yang semakin panas, Nyop dan Binti terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya. Selagi saya dan Cing melanjutkan perjalanan, mereka tetap tinggal di pantai ini sembari beristirahat.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Benelan

Sepintas Pantai Benelan memiliki kenampakan yang mirip dengan Pantai Selok Kancil. Yang membedakan adalah keberadaan sejumlah batuan karang dengan bentuk yang unik.

Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju pantai-pantai di atas dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Februari 2011

Sumber : Warga Desa Ngadipuro

Pudak, Perjalanan Menembus Hujan

Participant                                        : Galy, Meitika, Tiko, Nyop, Lia, Poppy

Sudah menjadi tradisi bagi travellers untuk tidak melewatkan satu pun moment liburan untuk berpetualang. Tak terkecuali libur Ramadhan tahun ini. Jika libur Ramadhan kemarin kami mengeksplorasi Candi Sawentar, maka pada Ramadan kali ini kami mencoba mengeksplorasi Pantai Pudak. Pantai Pudak terletak di Dusun Banyu Urip, Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Ini adalah kunjungan kali pertama kami ke Pantai Pudak. Sebelumnya kami sudah sering mendengar tentang keindahan pantai ini dari perbincangan-perbincangan di dunia maya. Pada kesempatan ini kami akan membuktikannya sendiri.

Petualangan menuju Pantai Pudak sebenarnya sudah sejak lama kami rencanakan, dan hari pemberangkatan juga sudah kami tentukan sebelumnya, yakni Senin 06 September 2010. Nahasnya pada hari itu cuaca di wilayah Blitar kurang bersahabat. Dalam perjalanan kami sempat beberapa kali diguyur hujan. Namun karena memang NEKAT, kami tetap melanjutkan perjalanan.

Untuk menuju Pantai Pudak kami harus melaui rute Blitar-Lodoyo(Sutojayan), dan dilanjutkan dengan rute menuju Ngeni. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Pudak dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.” Perjalanan kami sedikit terhambat ketika memasuki kawasan Ngeni. Kontur pegunungan yang terjal serta kondisi jalan yang rusak menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan ini. Tapi kami tetap melaju dan menghadapi semua tantangan yang ada, karena memang inilah satu-satunya rute menuju Pantai Pudak. Dengan tetap setia menyusuri jalan beraspal, akhirnya kami sampai di Gunung Nyamil. Dari Gunung Nyamil jarak menuju Pantai Pudak kurang lebih tinggal 4 km lagi.

Karena baru saja diguyur hujan semalaman, jalanan yang kami lalui semakin sulit saja, dan semakin tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan bermotor. Kami terpaksa menitipkan kendaraan pada penduduk sekitar, kemudian melanjutkan 2 km perjalanan yang terjal dan licin dengan berjalan kaki.

Rupanya cuaca yang tak bersahabat justru membantu kami dalam perjalanan ini. Dapat diperkirakan jika saat itu cuaca cerah, maka perjalanan akan berlangsung di bawah teriknya sinar matahari. Sebab, lahan di sekitar Pantai Pudak gundul. Tak ada pepohonan, yang ada hanyalah semak belukar dan tanaman pertanian.

800 meter dari pantai kami harus berjibaku dengan semak belukar yang rimbun. Setelah berhasil menerobos semak-semak dan menginjak-injak ladang penduduk akhirnya kami sampai juga di Pantai Pudak. Dan kesan pertama kami adalah.. MANTAB!! Meski tidak terlalu luas, Pantai Pudak cukup menawan. Pemandangan yang disuguhkan pantai ini sungguh sayang jika di lewatkan, terutama sebuah pulau kecil yang berada di muka pantai. Dan jika menyusuri pantai ke arah timur maka akan nampak tebing-tebing yang indah di bagian barat pantai.

Air laut di Pantai Pudak sangat jernih, dalam kondisi pasang kami masih dapat melihat dasar pantai yang tertutup air. Pasir pantainya juga sangat putih. Pasir pantainya tetap bersinar meski kondisi cuaca sedang tidak cerah.

Seperti tulisan-tulisan sebelumnya, kami rasa ga’ afdol kalo kami terlalu panjang lebar bercerita. Famous last word.. Selamat menikmati… (maaf jika foto-fotonya kurang menarik)

Cerita kocak dari sudut pandang berbeda : http://celciusjuusan.blogspot.com/2010/09/perjalanan-maut-ke-pantai-pudhak-blitar.html

Pantai Pudak Saat Cerah

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Menapaki Eksotika Pantai Banteng Mati

Participant : Galy, Kcing, Nyop

Sepertinya D’Travellers mulai berubah haluan, setelah sekian lama melakukan penelusuran mengenai peninggalan-peninggalan sejarah yang berada di Blitar, kini kami mulai melakukan ekspedisi ke pantai-pantai yang berada di Blitar. Setelah kemarin kami membahas tentang pantai Tambakrejo dan Pasir Putih, kini kami akan membahas tentang Pantai Banteng Mati atau akrab disebut dengan sebutan Pantai Mbanteng. Pantai Tersebut terletak di Desa Sidorejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Mengenai rute dan informasi selengkapnya dapat diakses pada halaman Rute dan Informasi.

Ekspedisi kali ini kami persiapakan dengan matang-matang, mulai dari pemindaian menggunakan foto satelit, mempersiapkan peralatan jelajah, hingga mempersiapkan peralatan P3K. Hal tersebut terjadi karena kami tidak mengetahui medan seperti apa yang akan kami hadapi nanti. Parahnya lagi sebenarnya kami belum mengetahui nama pantai ini.

Awalnya kami berencana melaksanakan ekspedisi ini dengan berjalan kaki, maklum dari foto satelit kenampakan rutenya kurang begitu detail. Untung saja kami bertemu dangan penduduk sekitar yang dengan senang hati menunjukkan rute menuju pantai. Ternyata kami tidak perlu berjalan kaki sebab kendaranan bermotor masih bisa dikendarai hingga ke pantai, meski harus melewati pematang sawah dan perbukitan yang terjal.

Tapi ternyata kendaraan kami tidak bisa benar-benar sampai ke pantai. Laju kami dihentikan oleh hamparan ladang tanaman tebu yang sangat rimbun. Akhirnya kami terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lalu siapa yang error :?: Padahal menurut keterangan penduduk, kendaraan harusnya bisa sampai ke pantai. Untung saja kami bertemu lagi dengan penduduk setempat. Berdasarkan keterangan beliau, sebenarnya memang ada dua rute meuju ke pantai dan rute yang kami tempuh kali ini adalah rute menuju Pantai Kresek. Dari Pantai Kresek tersebut kami dapat meneju pantai Banteng Mati dengan mudah, sehingga kami tidak perlu memutar arah.

Pantai Kresek

Setelah berhasil mengarungi ladang tebu yang rimbun kami pun sampai di Pantai Kresek. Pemandangan di Pantai Kresek cukup memukau. Selain laut biru, dihadapanya juga membentang tebing-tebing raksasa yang indah dan beberapa pulau kecil. Pasti bingung, ko’ bisa ada tebing di depan pantai? hehehe.. Sebenarnya ini wajar saja, karena Pantai Kresek memang tidak menghadap ke laut lepas di bagian selatan, melainkan menghadap ke arah tenggara. Keindahan Pantai Banteng Mati juga bisa dinikmati dari pantai Kresek ini, karena lokasi kedua pantai ini yang memang bersebelahan.

Sayang sekali Kondisi Pantai Kresk sedikit kotor, banyak sampah-sampah yang berserakan. Tapi kami yakin jika sampah-sampah tersebut bukan berasal dari pantai ini, sebab menurut keterangan penduduk pantai kresek masih jarang dijamah oleh manusia.

Karena kondisi kami belum siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Banteng Mati, kami sepakat untuk beristirahat sejenak di pantai ini sembari menikmati panorama yang ada. Tak disangka Cing dan Nyop malah menemukan goa kecil di sekitar pantai. Cing dan Nyop memberanikan diri untuk mengeksplorasinya, sedangkan aku nunggu di luar saja hehehe…  :mrgreen: Dari hasil jepretan Cing, nampak bahwa goa tersebut memiliki stalaktit dan stalakmit yang indah, meski goa itu sendiri tidak terlalu dalam.

Setelah tubuh kami fress, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Banteng Mati.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Banteng Mati (Pantai Mbanteng)

Dari Pantai Kresek, Pantai Banteng Mati dapat di tempuh dengan menyeberanggi sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Memang tidak diperlukan banyak tenaga untuk mendakinya, tapi kami harus berhati-hati karena medanya sedikit terjal.

Setibanya disana kami tidak mampu berkata apa-apa lagi. Sungguh menakjubkan, tak disangka Blitar masih memiliki pantai seluas Pantai Tambakrejo namun dengan suasana yang masih asri.

Kami rasa foto-foto di bawah ini lebih mampu menggambarkan bagaimana indahnya Pantai Banteng Mati. Dan satu kalimat penutup dari kami. Selamat menikmati.. :-)

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : warga Desa Sidorejo

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 436 pengikut lainnya.