Candi Tembarak, Bukti Kejayaan Kertosono Dimasa Klasik

Self travelling

Terlebih dahulu saya ingatkan, bagi yang tidak suka liat candi-candi kecil yang tak terawat, lebih baik jangan dilanjutkan membaca. Karena candi yang akan diulas ini kondisinya sangatlah memprihatinkan.

Sebenarnya saya sudah tau kalau kondisi Candi Tembarak sudah rusak dan tidak utuh. Ibarat kata pelantun lagu “Minyak wangi” candinya sudah tak asik lagi :P hehehehe. Tapi tanpa sedikitpun keraguan saya tetap berangkat. Sambil menikmati suasana sore saya pun meluncur menuju Kertosono.

Kertosono merupakan salah satu kecamatan penting di Kabupaten Nganjuk. Lokasinya berada diujung timur Nganjuk dan berbatasan dengan Sungai Brantas. Kertosono juga menjadi titik pertemuan tiga kabupaten, yakni Kabupaten Jombang, Kediri, dan Nganjuk. Karena lokasinya yang strategis ini, Kertosono memegang peranan penting sejak jaman kolonial hingga sekarang. Bukti jejak Kolonial yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah jembatan Kertosono lama. Sedangkan untuk saat ini, peranan Kertosono tidak perlu diragukan lagi. Kertosono kini merupakan tempat bertemunya berbagai arus lalu lintas dari kota-kota penting di Jawa Timur. Kertosono dari utara menghubungkan dengan Surabaya, dari selatan menghubungkan Blitar, dari barat menghubungkan dengan Madiun. Tentunya Kertosono merupakan pintu gerbang sekaligus penyokong Nganjuk di sebelah timur. Melihat fakta-fakta tersebut Kertosono memanglah tempat yang sangat stategis, dan dengan adanya Candi Tembarak, hal ini akan semakin menandaskan kejayaan Kertosono dari kurun waktu yang lebih awal.

Candi Tembarak secara administratif terletak di Desa Tembarak, Kec. Kertosono, Nganjuk. Lokasi candi ini berada di ujung selatan Desa Tembarak yang berbatasan dengan Desa Gondang. Untuk menuju candi ini banyak rute yang bisa dipilih. Dari arah Blitar bisa lewat Kediri jurusan Kertosono/ Surabaya, selepas Kediri langsung belok kiri ke arah jembatan Kertosono, setelah melalui jembatan bisa djumpai perempatan besar, dari perempatan tersebut belok kiri hingga Gang XIV Tembarak, candi berada di tengah sawah di selatan mushola. Dari arah Jombang bisa menuju jembatan Kertosono dan mengikuti rute yang sama. Kalau dari arah Nganjuk langsung saja ke arah jembatan Kertosono, sampai di perempatan (sebelum jembatan) belok kanan dan langsung saja menuju Gang XIV.

Candi Tembarak terletak di tengah area persawahan. Akses jalan yang tersedia hanyalah jalan setapak dan dilanjutkan dengan pematang sawah, sehingga untuk menuju lokasi candi saya harus berjalan kaki. Lokasi Candi Tembarak ditandai dengan adanya bangunan beton yang suduah tak beratap, di sana lah Candi Tembarak berada.

situs candi tembarakCandi Tembarak kondisnya sangat memprihatinkan. Candi yang ditemukan sekitar tahun 2005 ini sebenarnya pernah memperoleh penanganan pemerintah, namun kini kondisinya sudah terbengkalai. Candi Tembarak memang telah runtuh, yang bisa dilihat tinggalah tumpukan bata yang samar-samar masih tersusun membentuk bidang candi. Kini tumpukan tersebut terendam kubangan air, sehingga bentuknya hanya terlihat samar. Sungguh disayangkan mengingat candi ini merupakan salah satu bukti kejayaan Kertosono di masa klasik.

candi tembarak

batu candi tembarak

tembarak templeCandi Tembarak terletak tidak jauh dari Sungai Brantas, kira-kira hanya 500 m di barat sungai. Sungai Brantas merupakan jalur perdagangan penting sejak masa kerajaan Hindu-Buda di tanah Jawa, sehingga tidak mengheran jika banyak ditemukan sisa candi/ bangunan klasik di pinggirnya. Selain candi, di sekitar Tembarak juga sering ditemukan tinggalan-tinggalan lepas lainnya. Salah satunya adalah sebuah yoni di pemukiman sebelah utara Candi Tembarak. Menurut penuturan warga setempat yoni ini dulunya ditemukan tidak jauh dari Sungai Brantas. Tidak menutup kemungkinan yoni ini memiliki keterkaitan dengan Candi Tembarak. Yoni sendiri merupakan simbol Dewi Parwati yang merupakan salah satu dewa agama Hindu.

yoni tembarakYoni asli cuma ceratnya dimodivikasi

Selain candi dan artefak-artefak masa klasik, di timur Kertosono juga didapati daerah bernama Bandar Kedung Mulyo. Saat ini daerah tersebut merupakan bagian Kabupaten Jombang yang tepat berseberangan dengan Kertosono, di antara kedua wilayah tersebut mengalir Sungai Brantas. Nama “bandar” merujuk pada istilah pelabuhan, hal ini bisa memberikan gambaran bahwa dulunya wilayah sekitar Kertosono merupakan sebuah pelabuhan/ bandar.

Dari tinggalan-tinggalan baik berupa benda maupun topnimi, bisa dibayangkan bagaimana dulu Kertosono pernah berjaya di masa klasik.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : -

Photographer : Galy Hardyta

Candi Kidal, Simbol Bakti Anak pada Ibu

Participant: Galy, Tiko

We e e e… Alhamdulillah coy kita sudah sampai di Candi Kidal. Ini merupakan perjalanan pertama D’Travellers menjelajahi candi-candi di Malang. Ternyata ruwet juga nyari candi-candi di sono, jalannya rame banget, terus banyak percabangan pula. Bikin bingung.. Tapi setelah puter-puter cukup lama akhirnya kita sampai juga di TKP :D

travellers in candi kidalCandi Kidal. Candi ini secara administratif terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candinya keren, terlihat utuh, dan tertata. Bentuknya tinggi ramping, khas bentuk candi-candi langgam Jawa Timur. Kalau bagi orang Blitar bentuk ini pasti sudah gak asing lagi, bentuknya mirip dengan bentuk Candi Sawentar di Kanigoro. Nih coba kita bandingain. Sebelah kiri Candi Kidal Malang, sebalah kanan Candi Sawentar Blitar. Seperti saudara kembar hehehehe :D

candi kidal malang       candi sawentar blitar

Stop. Sudah dulu bercandanya. Judulnya sudah keren tapi prolognya malah absurd :D hehehehe.. Okey, sebelum kebablasan mari kita mulai mengulas Candi Kidal secara serius.

candi kidalCandi Kidal yang kita lihat saat ini adalah hasil pemugaran pada tahun 1986 – 1988 dan 1989/1990

kala candi kidalDi dalam bilik candi tidak dtemukan arca. Sebuah arca Siwa di Royal Tripical Institute Amsterdam, diduga berasal dari candi ini. Disamping arca terdapat bunga teratai yang keluar dari bonggol, hal tersebutkan menunjukan ciri arca era Singosari.

makara candi kidalBagian tangga Candi Kidal telah runtuh, namun masih menyisakan makara di kanan-kirinya.

Keberadaan Candi Kidal erat kaitannya dengan tokoh Anusapati, Raja ke dua dari kerajaan Singosari. Keterangan tersebut memang tidak dijumpai pada prasasti manapun, namun Kitab Negarakrtagama sudah menegaskannya. Dalam Negarakrtagama dijelaskan bahwa Raja Anusapati wafat tahun 1170 Saka dan didharmakan sebagai Siwa di Kidal. Tahun pendirian Candi Kidal dapat diperkirakan dari keterangan wafatnya Anusapati. Karena Anusapati wafat pada 1170 Saka/ 1248 M, maka diperkirakan pendirian Candi Kidal selesai pada 1260 Masehi, saat diadakan upacara Sradha yang dilakukan 12 tahun setelah raja wafat.

Sebagai pendarmaan Raja Anusapati, Candi Kidal ini cukup menarik untuk dikaji. Why? Coba perhatikan beberapa relief pada dinding candi ini. Relief tersebut merupakan gambaran dari kisah Garudeya. Garudeya merupakan kisah yang menceritakan bakti Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan para Naga. Relief tersebut dapat dibaca secara prasawya dan diperoleh urutan sebagai berikut:

garudeyaSisi selatan. Garuda dalam kekuasaan para Naga. Ibu garuda masih dalam perbudakan.

garudeya candi kidalSisi timur. Garuda mendapatkan Amerta sebagai penebus ibunya. Tirta Amerta direbut Garuda dari para Dewa dan diikatkan pada kuca (rumput).

relief garudeya candi kidalSisi utara. Garuda bersama ibunya meninggalkan para Naga karena telah terbebas dari perbudakan Sang Kadru.

Hem.. Mengapa ada kisah Garudeya pada candi pendharmaan raja? Mengapa bukan kisah-kisah pendarmaan seperti Sundamala? Apakah ini merupakan simbol kebaktian Raja Anusapati pada ibunya? Jika diturut dari kisah Pararaton memang ini ada benarnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Anusapati sebenarnya bukanlah anak Ken Arok dengan Ken Dedes, melainakan anak dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Anusapati baru mengetahui bahwa ayah kandungnya dibunuh Ken Arok setelah diberitahu Ken Dedes saat ia sudah dewasa. Kemudian Anusapati menuntut balas dan berhasil menumbangkan Ken Arok yang bergelar Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Anusapati berhasil menegakkan dharma bakti pada orang tuanya dan menjadi raja ke dua Singosari.

Apakah seperti ini pesan yang ingin disampaikan dari relief Garudeya di Candi Kidal? Benarkah Garuda itu Anusapati? Jika benar, ini akan sangat menarik. Tapi maaf, kami hanya berusaha memaknai perjalanan ini. :D

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : -

Sumber : Papan keterangan Candi Kidal

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 318 pengikut lainnya.