Wajah Baru Candi Gambar Wetan Blitar Pasca Ekskavasi (Renewal)

 Participants : Anggun, Galy, Dea Atmaji, Eliyana, Shara, Adik nicko

candi gambar wetanSejak dulu Candi Gambar Wetan memang selalu menarik untuk dikunjungi. Area situs yang luas dan struktur bangunannya yang menyatu dengan bukit, telah membuat kagum para pengunjungnya. Pasca ekskavasi pastilah para pengunjung semakin terperanjat, sebab beberapa struktur yang selama ini terpendam di dalam bukit kini mulai ditampakkan ke permukaan. Postingan ini akan sedikit mengupas wajah baru Candi Gambar Wetan pasca ditampakkannya struktur terpendam, dan merupakan pembaharuan dari posting kami terdahulu yang berjudul Sebuah Janji di Candi Gambar Wetan.

Candi Gambar Wetan terletak di Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri, Nglegok, Blitar. Ada dua rute umum untuk menuju lokasi candi, dan pengunjung harus cerdik memilihnya. Rute I : pertigaan Kantor Desa Penataran ke kanan – Pacoh – DAM Kali Bladak – Perkebunan Gambar – Candi. Rute II : Penataran – Kedawung – Sumberasri – Pertigaan Garuda (Sumberasri) ke kanan – Perkebunan Gambar – Candi Gambar. Pertimbangan memilih kedua rute tersebut adalah faktor cuaca. Meski Rute I lebih pendek dari pada Rute II, namun rute tersebut sangat rawan dilalui saat hujan, sebab kendaraan bisa tersapu aliran lahar dingin saat melintas di area DAM Bladak. Jadi perhatikan benar keadaan cuaca saat akan menyambangi candi ini. Untuk kondisi tracknya juga lumayan berat. Dari perkebunan hingga candi hanya tersedia jalan tanah yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua sejauh 1.7 km.

Masih seperti yang dulu, rute menuju Gambar Wetan memang selalu menantang. Jalannya berpasir, bergelombang-gelombang, sempit, dan sedikit berkelok. Setelah melewati medan terjal tersebut akhirnya kami sampai di lokasi candi.

candi gambarCiri khas Candi Gambar Wetan masih belum berubah, taman bunganya tampak indah dan menyejukkan mata.

Dari depan pagar belum tampak adanya perubahan pada candi ini. Padahal rumornya ada beberapa struktur baru yang telah ditemukan. Kami pun segera masuk untuk menuntaskan rasa penasaran. Eits… tapi terlebih dahulu kami mengisi buku tamu pada pos jaga.

travellers di candi gambar wetanStruktur yang pertama kali kami tuju adalah tangga candi. Dari tangga inilah nantinya para pengunjung dapat menaiki bukit untuk mengunjungi bagian lain dari Candi Gambar Wetan. Di sebelah kiri tangga terdapat sebuah arca dwarapala, arca ini lazimnya ditemukan berpasangan, namun pasangan arca ini justru berada di luar pagar pelindung candi. Entah bagaimana ceritanya bisa ada di sana. Mungkin selama ini masih dimanfaatkan masyarakat setempat untuk ritual sehingga arca tersebut tetap dibiarkan di luar pagar. Untuk menuju lokasi arca tersebut kita tinggal menaiki tangga dan menemukan pintu pagar di sebelah kanan. Dari pintu tersebut kita bisa menuruni bukit dan menjumpainya.

dwarapala gambar wetanSelanjutnya kami menaiki tangga untuk menuju bagian lain dari Candi Gambar Wetan. Nah dari sini perubahan baru tampak. Ada yang berbeda dengan struktur ini di mana talut dan sebagian papi tangga yang dahulu tertimbun kini sudah ditampakkan. Selain itu dulu di sini hanya ada satu arca dwarapala, sekarang ada dua. Strukutur dan arca baru ini kalau tidak salah merupakan temuan pasca ekskavasi pada Mei 2014 silam. Dengan ini total ada empat arca dwarapala di area Candi Gambar Wetan, dua di bawah tangga dan dua di atas tangga. Dua pasang arca dwarapala ini memiliki gaya pahatan yang berbeda di mana arca dibagian bawah memiliki bentuk yang lebih tambun.

dwarapala candi gambar wetanBeranjak dari arca dwarapala, kini kami menuju ke struktur bangunan lainnya yang berada lebih di belakang. Yup kami menuju ke bangunan Candi Gambar Wetan. Sebelum sampai ternyata kami sudah dibuat kagum dengan tamuan baru di sekitar sana, yakni berupa struktur talut dan tangga. Kali ini tangganya berada lebih ke tengah, tidak berlurusan dengan tangga naik atau pun dengan lokasi candi. Tangga baru tersebut justru lebih dekat pada tatanan fragmen arca di kiri bangunan candi. Wah ini semakin menarik. Dengan tersingkapnya struktur ini, spekulasi terhadap Candi Gambar Wetan justru semakin liar. Kira-kira bagaimana ya bentuk asli dari keseluruhan situs ini. Atau jangan-jangan bukit ini kalau digali isinya candi semua? Untuk menjawab semua itu sepertinya kita harus bersabar sambil menunggu ekskavasi dan penelitian selanjutnya. Semoga kelak seluruh misteri yang menyelimui candi ini dapat terkuak.

eskavasi candi gambar wetanSetelah sempat dibuat kagum dan sejenak berspekulasi, akhirnya kami sampai juga di struktur bangunan yang selama ini dianggap sebagai candi utama. Bangunan tersebut telah runtuh, menyisakan bagian kaki dengan sebuah tangga masuk lengkap dengan pipi tangga bergaya ukel gelung. Sayangnya bangunan ini hanya tersusun alakadar dengan beberapa batu yang diletakkan tidak pada tempatnya. Padahal bangunan ini memiliki ragam hias yang cukup indah, terlihat dari ornament-ornamen yang tersisa.

candi gambar wetan blitar

ganaPada pojok pojok bangunan terdapat relief yang menggambarkan raksasa gana

relief panjiTerdapat figure bertopi (panji?) pada salah satu reliefnya.

relief gambar wetanRelief Punokawan

raksasaRelief Raksasa

Menurut catatan Krom 1923, ada relief yang mengisahkan tetang Bukbuksah Gagangaking di Candi Gambar Wetan. Tapi kini kita belum tahu di manakah letak relief tesebut, apakah terpendam atau sudah hilang? Pasalnya, pada ekskavasi Mei 2012 tim peneliti berhasil menemukan beberapa panil relief namun ditimbun kembali. Untuk kronogram mengenai Candi Gambar yang telah tercatat adalah 1410 dan 1438 Masehi. Kurun waktu tersebut masuk dalam periode Kerajaan Majapahit. Sepertinya baru ini saja yang tercatat dalam literatur. Masih cukup tebal misteri yang menyelimuti Candi Gambar Wetan. Semoga ekskavasi dan penelitian kedepan akan semakin menyingkap tabir misteri itu. Kita tunggu saja bagaimana wajah Gambar Wetan yang lebih baru lagi.


Writer : Galy Hardyta

Ayo Ngadem di Candi Bacem Blitar

Participant: Adon, Galy, Andrik

travellers di candi bacemHey kalian yang sering main ke Blitar selatan, terutama yang ke arah Pantai Serang atau Ngadipuro. Yok mampir di mari. Ini nih Candi Bacem, salah satu peninggalan sejarah yang terletak di di Blitar selatan. Candi Bacem secara adminstratif masuk dalam wilayah Desa Bacem, Kec. Sutojayan, Blitar. Letaknya cukup strategis karena berada tidak jauh dari rute menuju Pantai Serang dan Pantai-pantai Ngadipuro. Dari Terminal Lodoyo kita tinggal ke selatan (searah rute menuju Ngadipuro) sampai menemukan plang petunjuk arah Candi Bacem lalu mengikutinya. Candi Bacem berada di belakang SDN Bacem 3.

Kemarin sepulang dari Pantai Serang, kami menyempatkan diri mampir di Candi Bacem. Tempatnya teduh karena berada di antara rerumpunan bambu. Cocok buat ngadem setelah panas-panasan dari pantai. Di sini suasananya cukup tenang sehingga cocok untuk menenangkan hati.

Candi Bacem sendiri juga cukup menarik untuk diamati. Sekilas candi ini memang telah runtuh dan hanya tampak seperti tumpukan bata saja. Padahal tidak demikian.

candi bacemCandi Bacem terdiri dari sebuah candi induk dan sebuah candi perwara (pendamping). Keduanya tersusun dari bata dan sebagian kecil batu andesit. Candi induk menghadap ke arah barat, ini bisa dilihat dari sisa-sisa tangga masuknya yang masih ada. Di atas candi induk terdapat 9 umpak bermotiv hias, dua upak polos, fragmen antefik, dan struktur kemuncak.

candi induk candi bacemBangunan Induk

struktur didnding candi bacemBangunan induk Candi Bacem belum sepenuhnya hancur, kita masih bisa melihat bagian pelipitnya.

Bangunan perwara Candi Bacem relatif lebih utuh. Di sisi utara masih terlihat struktur dinding yang kokoh. Di atas candi kita bisa melihat 6 umpak polos dan sebuah kemuncak.

candi perwara candi bacemBangunan pendamping

Ditilik dari sisi-sisa struktur bangunan yang masih ada, diduga bentuk asli Candi Bacem ini menyerupai gazebo kalau jaman sekarang. Jadi bentuknya merupakan bangunan terbuka, dengan bilik candi dan atap candi digantikan oleh struktur tiang kayu(hilang/lapuk) dengan umpak batu dibawahnya dan atap genting di atasnya. Hal tersebut semakin didukung dengan banyaknya pecahan tembikar yang turut tertumpuk bersama batu bata.

antefik candi bacemantefik

umpak candi bacemKemuncak

Mengenai kesejarahan Candi Bacem masih menjadi misteri. Ada pendapat yang menyataan bahwa candi ini merupakan peninggalan dari era Majapahit. Candi yang tersusun dari bata memang identik dengan peninggalan Majapahit, tapi sebenarnya tidak demikian. Bahan penyusun candi itu disesuaikan dengan sumberdaya alam yang ada ditempatnya atau juga dengan teknologi yang berkembang dimasanya. Jika suatu daerah melimpah batu andesitnya maka candi akan cenderung disusun dari batu andesit, begitu pula jika yang melimpah adalah batu kapur atau pun tanah liat. Asumsi yang mendasari pendapat bahwa Candi Bacem merupakan peninggaan Majapahit adalah dari ukuran batanya. Semakin muda usianya, biasanya semakin kecil ukuran batanya. Pada Cand Bacem ini ukuran batanya memang lebih kecil ketimbang bata dari candi-candi lainnya.

Gimana? Niatnya cuma ngadem tapi malah jadi cerita panjang lebar. :D Yok yang penasaran, langsung aja ngadem di TKP. :P

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Mengintip Yoni Mungil di Situs Mintoragan Blitar

Participant: Galy, Andrik

Memang layak jika Blitar menyandang julukan sebagai “regency of thousand temple”, pasalnya sebaran situs-situs bersejarah di wilayah ini cukup merata. Semakin ke timur sebaran situs cagar budaya semakin rapat dan masih banyak yang belum terdokumentasikan. Salah satunya adalah Situs Mintoragan di Dusun Mintoragan, Desa Boro, Selorejo, Blitar.

Konon pada Situs Mintoragan ini kita bisa menjumpai sebuah yoni dengan ukuran mini. Untuk menuntaskan rasa penasaran dan mendokumentasikannya, maka kami merancang perjalanan ini. Seperti biasa perjalan dimulai dari Blitar kota. Selanjutnya kami bertolak ke timur mengikuti jalan raya Blitar – Malang. Singkat cerita, sesampai Selorejo kami melanjutkan perjalanan melalui jalan kembar. Memasuki Ngreco kami melanjutkan perjalanan ke Boro. Karena masih belum tahu dimana Situs Mintoragan berada, kami pun bertanya pada warga. Syukurlah setalah sedikit mondar-mandir akhirnya kami bisa menemukannya.

situs mintoragan blitarSitus Mintoragan terletak di tegah pemukiman warga. Situs ini ditandai dengan Pohon Asam dan sebuah bangunan cungkup di sampingnya. Posisi cungkup tidak melindungi situs karena keberadaanya diperuntukan sebagai pesanggrahan para peziarah.

Ternyata mitos mengenai keberadaan yoni mungil di situs ini memang benar. Di sini kami menjumpai sebuah yoni dan dua buah lingga di kanan kiri yoni. Ukuran benda-benda tersebut cukup mini. Lebar yoni saja hanya sekitar 25 cm saat kami ukur. Benar-benar mini dan unik.

yoni mintoragan

yoni mintoragan blitarBerdasarkan keberadaan lingga dan yoni, corak keagamaan Situs Mintoragan adalah agama Hindu.

situs mintoragan boroSelain Yoni, pada situs Mintoragan kami juga menjumpai beberapa bata kuno, dan batu-batu bulat. Mungin batu batu ini merupakan isian candi atau mungkin juga penyusun suatu punden berundak seperti pada Situs Gadungan di Gandusari.

situs mintoraganKenapa ya ukuran yoni di Situs Mintoragan begitu kecil? Apa agar mudah dipindahkan? Atau mungkin ada maksud lain? Ada yang tau jawabannya?

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Bertemu Inskripsi Kuadrat di Situs Bioro Kediri

Participant: Galy, Zid

Perjalanan kali ini memang kami arahkan ke sekitar Kandangan, Kediri. Titik yang menjadi tujuan utama kami adalah sebuah situs yang berada di Dusun Bioro, Kandangan. Perjalan ini sendiri dimulai dari Pare dan langsung menuju Kandangan. Kami sempat nyasar, seharusnya kami belok ke kiri setelah Pasar Kandangan, tapi kami justru berbelok sebelum Jembatan Damarwulan. Setelah tersadar kami segera berbalik dan melanjutkan perjalanan melalui rute yang semestinya. Jika dirangkum rute Pare – Bioro adalah sebagai berikut: Perempatan Pare ke timur (arah Kandangan/ Malang) – Jembatan Damarwulan lurus – Pasar Kandangan ke utara (kiri) – Dusun Bioro berada di kiri jalan raya Jombang.

arca kandangan kediriSebelum sampai di Bioro kami sempat berhenti sejenak di eks Stasiun Kandangan. Di sana kami melihat beberapa arca unfinished yang berjajar dipinggir jalan. Total ada tiga arca. Salah satu arca tampak sebagai Ganesa, dan sebuah lagi adalah arca Siwa karena dilengkapi dengan senjata trisula. Sedangakan arca ketiga belum jelas menggambarkan tokoh apa. Keberadaan arca unfinished ini masih menjadi teka-teki, apakah ini arca baru atau merupakan cagar budaya? Ini masih perlu dipertegas oleh keterangan ahli.

Setelah sempat tertunda, kami memulai kembali perjalanan menuju Bioro. Gang kecil khas perkampungan kami susuri dengan pelan hingga akhirnya kami tiba pada naungan sebuah pohon besar. Berdasarkan praduga atas keberadaan pohon besar yang biasanya menaungi situs keramat, kami pun melangkah dengan yakin. Tebakan kami tidak salah, di sini memang benar lokasi Situs Bioro. Lokasi situs ini berpagar, namun cukup lembab dan gelap karena tertutup Pohon raksasa. Suasana magis pun cukup kuat terasa.

Pada Situs Bioro ini kami menjumpai beberapa benda cagar budaya antara lain: genuk (gentong), batu dakon, dan yang paling menarik adalah sebuah tugu kecil berinskripsi. Keseluruhannya terbuat dari batu andesit.

situs bioro kediriDari tugu berinskripsi ini kita bisa mengetahui latar sejarah dari benda cagar budaya di Situs Bioro. Inskripsi tersebut ditulis manggunakan aksara kuadrat. Aksara Kuadrat adalah jenis aksara yang berasal dari masa Kerajaan Khadiri, namun masih popular hingga masa Kerajaan Tumapel/ Singhasari. Pesan yang termuat dalam inskripsi Situs Bioro ini merupakan sengkalan yang menunjukkan tahun 1171 saka. Tahun 1171 ini masuk dalam timeline sejarah Kerajaan Tumapel. Tepatnya masuk dalam masa pemerintahan Wisnu Wardhana yang kelak memindahkan Kutharaja Tumapel ke Singhasari.

prasasti bioro kediriSelain latar sejarah, kita juga bisa menyaksikan betapa inskripsi ini adalah sebuah mahakarya yang indah. Sejak dulu penggunaan aksara kuadrat memang sudah mengundang kekaguman. Pasalnya, aksara yang sejatinya merupakan aksara kawi ini dipahat lebih menonjol dari permukaan tubuh prasastinya. Bukankah penulisan yang seperti itu lebih berteknik ketimbang aksara-aksara lainnya yang dipahat ke dalam?

inskripsi bioro

prasasti bioroSedikit berbeda dengan prasati kuadrat dari masa Khadiri yang kebanyakan polos, tugu Prasasti Bioro ini justru dihiasi dengan pahatan-pahatan indah. Hal ini tidak mengherankan, karena pada masa Tumapel/ Singhasari adalah puncaknya seni pahat masa klasik. Oleh karenanya sulur sulur pada inskripsi Bioro pun dipahat begitu indah.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Zidny

Editor: Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Kepo-Kepo Kelompok Arca Pijiombo Blitar

Participant : Veri, Diki, Tama

Hujan datang mengguyur saat kami mulai turun dari Sirah Kencong. Jalur baru Sirah Kencong via Tegalasri pun tak luput dari guyuran hujan. Terpaksa deh kami mencari tempat berteduh.

Saat melewati daerah Pijiombo kami melihat semacam gardu. Gardu itu berada di sebelah kiri jalan dari arah Sirah Kencong. Sontak kami berhenti untuk berteduh. Gardu itu tampak mencurigakan, di situ kami mulai kepo. Seperti ada bau-baunya situs hehehehe. :D Saya berinisiatif memanjat pagar untuk melihat isi gardu dari jarak yang lebih dekat. Ternyata firasat saya benar, di sana terdapat sekelompok arca kuno masa Hindu Budha.

Pada kelompok arca di Pijiombo ini kami bisa menjumpai arca narasinga, arca tokoh, jambangan batu, serta fragmen-fragmen lainnya.

arca pijiomboArca Narasinga terlihat dari samping. Arca ini digambarkan mengangkat kedua tangannya. Tinggnya 75 cm, lebar dasar 35 cm, tebal 35 cm.

situs pijiombo blitarJambangan batu ini dihiasai Padma (pahatan kelopak teratai).

situs pijiomboArca Tokoh yang digambarkan sedang duduk.

pijiomboFragmen lain Arca Pijiombo.

Tak ada diskripsi yang menjelaskan mengenai keberadaan arca-arca ini. Menurut suatu laporan penelitian di tahun 1995, bentuk fisik dan ornament pahat arca-arca ini memiliki kemiripan dengan Candi Sirah Kencong. Kuat dugaan bahwa arca ini dipindahkan dari Sirah Kencong ke Pijiombo, karena pada masa kolonial tempat ini merupakan komplek petinggi perkebunan.

Saat ini Kelompok Arca Pijiombo berlokasi di belakang bekas perkebunan kopi Pijiombo, Desa Ngadirenggo, Wlingi, Blitar. Kami sudah kepo. Kapan giliran kalian kepoin Pijiombo?

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Feryan Herma Fauzi (Veri)

Photographer : Feryan Herma Fauzi

Editor : Galy Hardyta

Sumber :
Penelitian dan Pengkajian Kepurbakalaan di Sepanjang Sungai Lekso Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur

Berjumpa Arca Mbah Bodho di Lingkungan Bodhoan, Blitar

Participant: Galy, Zid

Memasuki sebuah ruang gelap nan sempit, bau bauan minyak serimpi dan dupa menusuk tajam ke hidung. Masih di tempat yang sama, dua buah arca dengan wajah seram tampak berada dalam posisi siaga. Ini lah Arca Bodhoan, dua buah arca dwarapala yang terletak di lingkungan Bodhoan, Nglegok, Blitar. Dalam keseharian arca dwarapala oleh masyarakat awam memang disebut mbah bodho, oleh karenanya tidak menutup kemungkinan jika nama lingkungan Bodhoan diambil dari dua arca mbah bodho ini.

arca bodhoanAda yang unik dari Arca Bhodhoan ini. Salah satu arcanya tampak unfinished, sedangkan yang satunya lagi tampak langka.

dwarapala bodhoanAda juga yang menganggap arca unfinished ini sebagai arca kera.

arca dwarapala bodhoan blitarLalu apa keunikan dari Dwarapala Bodhoan yang satu ini? Ayo coba kita cermati. Bagi yang sudah pernah mampir ke Dwarapala Singosari pasti bisa menebaknya.

Dwarapala Bodhoan ini memiliki detail yang hampir sama dengan Dwarapala Singosari di Malang. Lihat bentuk gadanya. Bukannya seperti gada dwarapala yang lazim kita temui di Blitar, gada yang satu ini malah dipahat berulir serupa dengan yang di Singosari. Cara pegang gadanya juga sama-sama dihujamkan ke bawah. Lanjut ke kalung tengkorak yang dikenakan arca ini. Ternyata sama bro, Dwarapala Singosari juga pake atribut tengkorak yang sama. Padahal kalau dwarapala-dwarapala di Blitar kebanyakan atributnya hanya berupa upavita. Melihat kesamaan salah satu Dwarapala Bodhoan dengan Dwarapala Singosari, mungkin keduanya memiliki latar belakang yang sama. Bisa saja arca Bodhoan ini berasal dari masa Kerajaan Singhasari seperti pada arca Dwarapala Singosari Malang. Atau setidaknya, arca Dwarapala Bodhoan mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Tantrayana yang berkembang di masa Kerajaan Singhasari. Salah satu ciri aliran Tantrayana adalah adanya atribut tengkorak yang digambarkan cukup jelas.

Bagi yang belum tau Dwarapala Singosari bisa cek di sister blog ini.

Dwarapala berasal dari bahasa sansekerta yang bermakna penjaga pintu atau pengawal pintu gerbang. Apa kira-kira yang dijaga oleh kedua Dwarapala Bodhoan ini ya? Memang masih sebuah misteri, tapi kita bisa melihat kalau ada batu ambang pintu di depan keduanya.

arca bodhoan blitar——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Zidny

Revisi terakhir : —

Menyambangi Situs Sukosewu yang Semakin Cantik

Participant : Upeck, Veri

blitar situs sukosewuSitus Sukosewu secara administratif terletak di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kab. Blitar. Letaknya berada tidak jauh dari Candi Kotes. Kalau dari arah utara (Jalan Sumberagung – Gandusari) kita tinggal mengikuti arah menuju Candi Kotes yang terpampang jelas di beberapa rambu jalan. Kalau dari arah selatan Situs Sukosewu terletak di utara Candi Kotes. Kebetulan dalam perjalanan kemarin kami berangkat dari selatan.

Dulu untuk menuju Situ Sukosewu agak membigungkan. Posisinya cukup terpencil, dan tidak ada rambu petunjuk apa pun untuk menuju situs ini. Syukurlah kini pengelolaan situs ini sudah dibenahi dengan menambah papan petunjuk arah menuju situs. Papan petunjuk pun didesain dengan bentuk yang menarik, sehingga para pengunjung yang lewat menjadi tertarik dan penasaran.

Kami pun menuju Situs Sukosewu dengan mengikuti rambu petunjuk tersebut. Sedikit mblusuk-mblusuk di kebon warga memang, tapi ending dari rute ini begitu memukau. Pemandangan hijau dan kolam-kolam yang indah terhampar dengan Situs Sukosewu berada di tengahnya. Selanjutnya dengan melewati lembah kecil yang syahdu, kami pun sampai di lokasi situs.

Situs Sukosewu terdiri dari beberap batu candi, semacam lapik arca, altar, dan, miniatur candi. Benda-benda cagar budaya itu terletak saling berdekatan. Keberadaanya diduga berkaitan dengan Candi Kotes dan situs-situs lain di sekitar Gandusari. Bentuk altar dan batu-batu candinya tidak jauh berbeda dengan batu-batu candi dari Desa Gadungan di utara Desa Sukosewu. Periodisasi situs terdekat dari Situs Sukosewu seperti Candi Kotes masuk dalam timeline sejarah Kerajaan Majapahit yakni 1223 Saka/ 1301 Masehi. Mungkin Situs Sukosewu berasal dari era yang sama.

sukosewu

situs sukosewuDi luar area Situs Sukosewu terlihat beberapa batu candi yang berserakan di sawah. Kuat dugaan bahwa sebenarnya Situs Sukosewu ini menempati area yang lebih luas dari yang bisa kita lihat saat ini.

Area Situs Sukosewu sendiri terpelihara dengan rapi. Rerumputan dipangkas rapi, tanaman-tanaman hias ditata indah mengelilingi situs. Papan bertulisakan identitas “Situs Sukosewu” semakin melengkapi keindahannya. Lokasinya yang terpencil juga sangat cocok untuk menenangkan hati dan pikiran.

situs sukosewu blitar

travellers at situs sukosewuSudah pas, itu kesan kami. Situs mungil yang sederhana ini kini telah semakin cantik. Kapan kalian mulai meliriknya?

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Feryan Herma Fauzi (Veri)

Photographer : Feryan Herma Fauzi

Editor : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 850 pengikut lainnya