Menelusuri Peninggalan Sejarah di Desa Gadungan Gandusari Blitar

Participant: Galy, Upheeck, Syaiful, Aima, Andrik, Anggun, Bagus, Chris, Dafid, Fandi, Ian, Sumantri, Veri, Yuli

travellers di candi wringin branjangCandi Wringin Brajang merupakan titik awal perjalanan kali ini. Di sini kami ber 12 menunggu kedatangan Mas Andrik dan Mas Sumantri (Juru Pelihara Wringin Baranjang). Setelah melewati beberapa waktu dan setelah insiden lepasnya rantai speda motor Mbak Ian, akhirnya kedua tokoh tersebut muncul. Interaksi positif pun mulai terjadi. Teman-teman yang sudah penasaran segera bertanya-tanya perihal sejarah Candi Wringin Branjang kepada Mas Andrik selaku Pamong Budaya, sedangkan saya, setelah berkenalan dengan Mas Sumantri langsung membicarakan mengenai rute perjalanan ini. Sesuai dengan judulnya, ini adalah perjalanan menjelajahi tempat-tempat bersejarah di Desa Gadungan. Jadi, ada banyak tempat yang akan kami tuju dalam perjalanan ini.

Gadungan merupakan sebuah desa di Kecamatan Gandusari, Kab. Blitar. Desa ini berada di kaki Gunung Gedang yang merupakan rangkaian dari Gunung Kelud. Desanya cukup terpencil di era modern ini, namun merupakan tempat yang sangat penting di era klasik silam. Hal ini terbukti dengan banyaknya sebaran benda cagar budaya di desa ini.

Meski terletak dalam satu desa, tapi mencari tempat-tempat tersebut bukan lah perkara yang mudah. Oleh karenanya kami di bantu Mas Sumantri. Setelah sepakat, perjalanan pun dimulai dengan urutan sebagai berikut: Candi Wringin Branjang, Komplek Situs Gadungan (Situs Gunung Gedang), Kekunaan Sukomulyo, Kekunaan Rotorejo, Kekunaan Putukrejo, Situs Sukosari, Kekunaan Punden Mbah Suko, Situs Lingga Gadungan, Kekunaan Punden Dermosari.

Candi Wringin Branjang

Sebagai titik awal perjalanan, candi ini memiliki segudang daya tarik untuk di bahas, mulai dari asal usul, sejarah, arsitekture, hingga orientasi.

candi wringin branjang gadunganMenurut cerita yang berkembang, saat awal mula di temukan, candi ini dililit pohon serupa beringin. Oleh karenanya candi ini dinamai Wringin Branjang. Candi ini memiliki arsitektur dan tata letak yang unik. Bentuk candinya cukup simple, hanya terdiri dari bilik candi berbentuk kubus dengan atap berbentuk limas. Kaki Candi dipercaya masih terpendam di bawah tanah. Orientasi candi ini juga unik, kalau kebanyakan candi menghadap timur atau barat, candi ini justru menghadap ke selatan. Asumsinya adalah candi ini diperuntukkan bagi dewa-dewa yang bersemayam di puncak Gunung Kelud di sebelah utara candi. Inilah salah satu ke unikan candi-candi Jawa Timur, dan ini ada di Blitar lho :D

Untuk kesejarahan mengenai Candi Wringin Branjang bisa mengacu pada angka tahun yang ditemukan di Situs Gadungan. Situs Gadungan sendiri terletak sekitar 100 meter di utara Candi Wringin Branjang. Sesuai dengan urutan perjalanan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Situs Gadungan.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Gadungan

Situs Gadungan atau disebut juga Candi Gunung Gedang. Situs ini mencakul lokasi yang cukup luas. Tinggalannya juga sangat beragam, mulai dari struktur bangunan hingga tinggalan tinggalan lepas. Pada bagian depan kita bisa melihat struktug gapura. Sedikit bergeser kebelakang ada beberapa tinggalan lepas, dan struktur bangunan berbentuk altar. Pada bangunan altar terdapat sebuah tugu berangka tahun 1231 Saka atau 1309 Masehi. Angka tahun ini lah petunjuk kesejarahan dari Situs Gadungan dan situs-situs di sekitar Gunung Gedang termasuk Candi Wringin Branjang. Kurun waktu tersebut masuk dalam era kerajaan Majapahit.

gapura situs gadunganStruktur Gapura Situs Gadungan

tinggalan lepas situs gadunganTinggalan lepas Situs Gadungan

situs gadunganAltar Situs Gadungan, gambar lebih banyak click here

Selain struktur bangunan yang tersusun dari batu candi, di sekitar Situs Gadungan juga ditemukan struktur berundak yang disusun dari batu-batu alam, keren. Yang lebih keren lagi di utara situs Gadungan ini juga masih bisa dijumpai reruntuhan bangunan lainnya, seperti Punden Mbah Semar, dan Punden Gadungan. Wow luas banget kan cakupan dari situs-situs di seputar Gunung Gedang ini.

kekunaan punden semarPunden Semar

hutan pinus gadunganHutan Pinus, daya tarik pemandangan di sekitar Punden Semar

kekunaan punden gadunganPunden Gadungan

Kuat dugaan bahwa Candi Wringin Branjang, Situs Gadungan, dan punden-punden di sekitarnya merupakan satu komplek percandian yang saling berkaitan. Melihat dari keletakannya yang dekat dengan Gunung Kelud, diduga komplek percandian ini diperuntukkan bagi dewa-dewa yang bersemayam di puncak Kelud. Mengagumkan.

——————————————————————————————————————————————-

Kekunaan Sukomulyo

kekunaan sukomulyo gadunganSetelah jangkep mengelilingi komplek percandian di Gunung Gedang kami beranjak menuju Kekunaan Sukomulyo. Kekunaan Sukomulyo terletak di Dusun Sukomulyo. Kekunaan ini terdiri dari kumpulan benda-benda cagar budaya. Ada yoni, umpak, pipi tangga bercirikan ukel gelung. Sepertinya benda-benda ini dulunya menyusun suatu bangunan. Pada kekunaan ini juga ditemukan fragmen-fragmen yang terbuat dari terakota dan batu putih. Cukup unik bukan, mengingat desa ini tidak memilki sumber daya batu putih. Kuat dugaan fragmen yang berbahan batu putih ini didatangkan dari wilayah lain. Mungkin Blitar selatan atau bisa jadi Tulungagung.

yoni sukomulyoYoni Sukomulyo

kekunaan sukomulyoFragmen yang sebagian terbuat dari tembikar dan batu putih

Di antara situs dan kekunaan yang tersebar di Desa Gadungan, Kekunaan Sukomulyo ini lah yang paling kaya akan ragam hias.

——————————————————————————————————————————————-

Kekunaan Rotorejo

arca mbah gimbalArca dewa berlengan empat, tangan kanan belakang memegang tasbih

Kekunaan Rotorejo terletak di Dusun Rotorejo. Kekunaan ini lebih popular disebut dengan nama Mbah Gimbal. Mbah Gimbal adalah arca dewa yang ada di Kekunaan ini. Selain arca dewa, dijumpai pula beberapa batu candi.

kekunaan rotorejoBerbeda dengan Kekunaan Sukomulyo yang terletak di pinggir jalan desa, Kekunaan Rotorejo ini sangat terpencil. Rute menuju kekunaan ini juga lumayan berat. Kami harus melewati jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok. Tapi kalau dari arah Waduk Ngusri jalannya tak terlalu berat.

travellers di waduk ngusriPLTMH ngusriMampir di Waduk Ngusri mumpung searah

——————————————————————————————————————————————-

Kekunaan Putukrejo

kekunaan putukrejoKekunaan Putukrejo terletak di Dusun Putukrejo. Kekunaan ini dikenal juga dengan nama Watu Gilang. Pada kekunaan ini bisa dijumpai beberapa umpak, batu candi, dan kemuncak miniatur candi. Arsitektur yang terlihat dari benda-benda ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur situs-situs di Gunung Gedang.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Sukosari

situs sukosariLokasi Situs Sukosari ini cukup tersembunyi, letaknya berada di Dusun Sukosari. Pada Situs ini ditemukan batu-batu candi, umpak, dan puncak altar. Arsitekturnya minimalis serupa dengan Kekunaan Putukrejo dan situs-situs di Gunung Gedang.

——————————————————————————————————————————————-

Kekunaan Punden Mbah Suko

kekunaan punden sukoPunden Mbah Suko dengan bagian miniatur candinya

lingga semu punden sukoLingga Semu

Masih di Dusun Sukosari. Kali ini kami menjumpai beberapa benda cagar budaya di makam leluhur dusun. BCB yang kami jumpai adalah bagian miniatur candi dan lingga patok.

——————————————————————————————————————————————-

Situs Lingga Gadungan

Tak hanya di Punden Mbah Suko, di dekat Monumen Mastrip Desa Gadungan ternyata juga bisa dijumpai sebuah lingga. Lingga ini berukuran sangat besar, Tingginya sekitar 150 cm, belum termasuk bagian yang terpendam. Lingga yang terletak di area persawahan ini diduga merupakan tapal batas desa kuno. Selain lingga, di sekitar persawahan ini juga bisa dijumpai batu candi yang terpendam.

lingga tapal batasLingga tapal batas terlihat dari kejauhan

lingga tapal batas gadunganGede juga lingganya :D

——————————————————————————————————————————————-

Kekunaan Dermosari

kekunaan dermosariKekunaan ini terletak di area pemakaman umum. Letaknya berada disekitar makam sesepuh Dusun Dermosari. Benda Cagar Budaya yang kami jumpai di sini berupa kemuncak.

——————————————————————————————————————————————-

Demikian lah tempat-tempat bersejarah yang kami telusuri dalam perjalanan ini. Perjalanan yang cukup memberi wawasan bagi kami. Sungguh julukan region of thousand temple layak disematkan pada Blitar. Ini masih di Desa Gadungan saja BCBnya sudah bejibun banyaknya, belum desa-desa lain. Kami sudah membuktikan. Kalian? :D

kekunaan mbah gimbal——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Narasumber : Mas Andrik (Pamong Budaya) & Mas Sumantri (Juru Pelihara Wringin Branjang)

Revisi terakhir : —

Menguak Kemegahan Candi Tepas di Kesamben Blitar (Renewal)

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Candi Tepas memang telah runtuh. Batu-batu penyusunnya bahkan sudah aus dan bentuknya tidak lagi persegi. Dari kaki candi yang tersisa, hanya sebagian kecil saja permukaan dindingnya yang masih utuh.

candi tepasCandi Tepas secara administratif terletak di Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Letaknya berada di sebelah utara Pura Desa Tepas. Dari Blitar rute menuju Candi Tepas adalah sebagai berkut: Blitar – Kesamben – Setelah Kantor Kecamatan Kesamben ada pertigaan arah SMKN 1 Doko – Ikuti arah SMKN 1 Doko sampai tiba di Desa Tepas – Petunjuk arah menuju Candi Tepas terletak di kiri jalan.

Tak banyak informasi yang bisa didapatkan dari Candi Tepas. Kesejarahan mau pun bentuk asli dari candi ini juga masih kabur. Dari cerita rakyat yang berkembang, candi ini dipercaya berasal dari era Kerajaan Majapahit. Sedangkan bentuk candi yang bisa kita lihat sekarang adalah bagian kaki candinya saja. Kemungkinan bentuk Candi Tepas serupa dengan bentuk candi-candi di Jawa Timur lainnya, yakni berbentuk tinggi dan langsing di bagian tubuh candinya (sebagai referensi mungkin bentuknya semacam Candi Sawentar, Blitar). Tubuh dan atap candi telah runtuh dan batu-batu penyususnya kini ditumpuk di sekitar bangunan candi.

candi tepas kesamben blitarCandi Tepas menghadap ke arah barat

candi tepas tampak sampingDari samping, tampak sisa-sisa dinding Candi Tepas yang masih utuh.

candi tepas tampak belakangCandi Tepas dilihat dari belakang.

puncak candi tepasPuncak Candi Tepas sekarang.

Sepintas bentuk Candi Tepas memang sudah tidak menarik. Ya mau gimana lagi, kerusakannya sudah terlalu massive. Kalau mau liat hal yang menarik yok coba mengelilingi area sekitar candi. Coba deh liat-liat ke luar pagar kawat yang mengelilingi Candi Tepas saat ini.

lingga patok candi tepasTernyata di area sekitar Candi Tepas masih banyak struktur-struktur bangunan yang terpendam. Tentunya struktur tersebut masih berkaitan dengan Candi Tepas. Yang paling mudah ditemukan adalah keberadaan lingga patok 25 meter di timur laut Candi Tepas. Lingga merupakan simbol Dewa Siwa, berbentuk memanjang dengan bagian atas berupa segi delapan dan bagian bawah persegi. Lingga biasanya menjadi kesatuan dengan Yoni (simbol Dewi Parwati). Kesatuan Lingga dan Yoni biasanya diletakkan di dalam bilik candi. Berbeda dengan Lingga, lingga patok berfungsi sebagai pembatas suatu tempat suci. Lingga patok biasanya diletakkan di pojok-pojok area candi. Di area Candi Tepas ini ada empat buah lingga patok. Foto di samping adalah lingga patok yang terletak di timur laut Candi Tepas. Lingga patok lainnya berada di rumah warga, dan ada pula yang berada di kebun sebelah barat Candi Tepas.

struktur pagar candi tepasTernyata masih ada lagi sisa-sisa kemegahan Candi Tepas lainnya, yakni struktur pagar yang mengelilingi Candi Tepas. Pagar yang kami maksud bukan lah pagar kawat yang mengelilingi candi, tapi pagar kuno yang sebagian masih terpendam. Stuktur ini lah yang sebenarnya merupakan pagar asli dari Candi Tepas.

Yang paling jelas terlihat adalah struktur pagar di sisi utara. Struktur tersebut tersusun dari batu bata, memanjang dari timur ke barat. Bahkan struktur tersebut terus memanjang hingga ke kebun di barat jalan Candi Tepas. Bisa kita lihat di kanan kiri jalan desa terlihat struktur pagar yang terputus tapi sebenarnya berhubungan. Saat kami telusuri ternyata struktur pagar tidak hanya di sisi utara saja. Baik di timur, barat, maupun selatan juga bisa dijumpai struktur yang dimaksud. Struktur tersebut berdenah persegi panjang, mengelilingi Candi Tepas dari semua arah. Wow keren. :o

struktur pagar candi tepas blitarSyaiful dan Adon menunjukkan struktur pagar yang terpotong jalan desa.

Candi yang selama ini hanya terlihat seperti tumpukan batu, ternyata masih menyimpan sisa-sisa kemegahannya. Setelah semua ini terkuak, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?? :)

Posting ini merupakan pembaharuan dari posting kami terdahulu yang berjudul “Blitar Timur, Perburuan Percandian Terakhir

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon & Galy

Revisi terakhir : –

Situs Trenceng Selopuro Blitar yang Penuh Misteri

Participant : Adon, Galy, Syaiful

pohon samanTeronggok di bawah Pohon Saman raksasa. Terpinggirkan sepi di tengah persawahan yang membentang luas. Di sana lah letak situs peningalan sejarah yang kerap disebut dengan nama Selo Terbang berada. Secara administratif Selo Terbang terletak di Dusun Trenceng, Desa Popoh, Selopuro, Blitar. Oleh karenanya situs ini juga disebut dengan nama Situs Trenceng.

Rute termudah menuju Situs Trenceng adalah dengan berpatokan pada SDN Popoh 2. Dari SDN Popoh 2 ke utara sampai ketemu perempatan, kemudian belok kanan. Jalannya menurun kemudian kembali menanjak. Lurus saja mengikuti jalan. Sampai di area persawahan akan terlihat Pohon Saman raksasa yang menaungi Situs Trenceng.

Suasana di Situs Trenceng sangat lengang. Mungkin karena letaknya berada di tengah area persawahan. Hampir tidak ada lalu lalang penduduk kecuali para petani. Itu pun tedak setiap saat kita bisa menjumpai mereka. Suasana lengang yang dipadu kerindangan Pohon Saman membuat lokasi situs trenceng ini sangat nyaman untuk menenangkan hati.

travellers di situs trenceng situs trencengSitus Trenceng sendiri terdiri dari beberapa umpak batu dan pecahan benda cagar budaya. Kurang jelas bagaimana bentuk asli dari situs ini. Pada salah satu pecahan batu masih dapat dilihat pahatan yang menampilkan Padma. Padma adalah ukiran kelopak bunga teratai. Padma ini biasanya terdapat pada lapik arca maupun prasasti bercorak Hindu Budha. Sayang sekali karena masivnya kerusakan, bentuk asli situs ini masih merupakan misteri.

Umpak batu biasanya berfungsi sebagai landasan tiang penyangga bangunan. Mungkin umpak tersebut merupakan bagian dari bangunan yang menaungi obyek utama dari Situs Trenceng ini. Coba berandai-andai jika obyek utama dari Situs Trenceng adalah arca, mungkin wujudnya akan seperti arca Gayatri yang terletak di Candi Boyolangu Tulungagung. Sayangnya sekali lagi kita belum tau bentuk asli obyek utama situs ini.

situs trenceng blitar selo terbangSaat kami mencoba bertanya pada warga sekitar, kebanyakan dari mereka juga tidak mengetahui kesejarahan dari Situs Trenceng. Keberadaan situs ini memang masih penuh misteri. Jika di antara teman-teman ada yang memiliki informasi mengenai Situs Trenceng ini, silahkan menambahkan pada komentar di bawah. Mari bersama-sama kita kuak misteri dari Situs Trenceng, Desa Popoh, Selopuro. Karena bisa saja situs ini memiliki arti penting bagi sejarah bangsa.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Revisi terakhir : –

Candi Selotumpuk Blitar, Bukan Sekedar Tumpukan Batu (Renewal)

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Selotumpuk secara harfiah berarti batu tumpuk (Selo = Batu), oleh karenanya tidak aneh juga jika ada yang menyebut candi ini dengan nama Watu Tumpuk. Secara administratif candi ini terletak di Desa Pagerwojo, Kesamben, Kab. Blitar. Letaknya sedikit jauh dari pemukiman, karena berada di puncak Gunung Batok.

menuju candi selo tumpukMasih belum banyak yang berubah dengan akses jalan menuju Candi Selotumpuk. Untuk menuju candi kami masih harus memarkirkan kendaraan di rumah warga, karena sejauh ini memang belum ada tempat parkir khusus bagi pengunjung candi. Track pendakian juga masih sama, yakni berupa jalan setapak di antara pohon-pohon meranggas yang nantinya mengarah menuju puncak Gunung Batok. Gunung tersebut tidak terlalu tinggi, hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk mancapai puncak. Tapi tetap saja kami tidak bisa meremehkan pendakian kecil ini. Kerapatan vegetasi yang rendah, membuat suasana pendakian sedikit panas. Untung saja pendakian kami lakukan sore hari, jadi kami gak sampai gosong ketika tiba di puncak. :D

Sesampai di puncak, kami pun menjumpai candi yang dimaksud. Sesuai dengan namanya, Candi Selotumpuk benar benar terlihat seperti tumpukan batu. Tumpukannya jelas sudah tidak sesuai dengan bentuk aslinya, tapi salut karena tumpukannya rapi berbentuk persegi dengan kemuncak berada di tengah. Oke sebelum mengamati lebih lanjut, terlebih dahulu kami beristirahat di gazebo di samping candi. Ternyata pendakian tadi cukup melelahkan. Kami pun beristirahat sambil menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Batok.

pemandangan gunung batokOke, sekarang kembali ke Candi Selotumpuk. Setelah diamati dengan seksama, ternyata candi ini memiliki pahatan yang cukup indah. Tampak beberapa antefik dan batu candi dihiasi dengan pahatan ornamen sulur, mirip dengan ornamen sulur Candi Simping. Wah gaya Majapahitan tuh, sesuai dengan carita setempat yang menyatakan bahwa Selotumpuk adalah pesanggrahan Majapahit.

candi selo tumpukCandi Selotumpukcandi watu tumpukFragmen arca tokoh

candi selotumpuk blitarOrnamen hias Candi Selotumpuk

Lanjut ke kemuncak dan tubuh candi yang ada di tegah. Susunan tubuh candi tampak cocok dengan bagian Kala. Ukurannya juga tidak besar, bahkan lebih terlihat seperti miniatur candi saja. Jangan-jangan bentuk asli Candi Selotumpuk mirip dengan altar Candi Kotes. Di mana bagian altar hanya ditempati miniatur candi. Udah terlalu hancurnya sih, jadi kami hanya bisa menduga-duga.

candi selotumpukMiniatur candi dengan kala

Selanjutnya kami mengamati pula batu batu penyusun candi. Tampak jelas bahwa pada beberapa batu terlihat diberi penomoran. Aksara yang digunakan dalam penomoran adalah aksara Jawa Kuno. Keren banget, jelas-jelas bahwa candi ini dibangun dengan penuh perhitungan. Bagian bagiannya saja dinomorin.

watu tumpuk selotumpukPenomoran pada batu candi Selotumpuk

Oiya satu lagi. Meski sudah runtuh, tapi bukan berarti kita tak bisa melihat relief cerita pada candi ini. Coba amati dinding candi yang terletak di samping gazebo. Disana kami melihat relief yang menggambarkan dua tokoh yang sedang duduk bersila saling berhadapan. Salah satu tokoh digambarkan gemuk dan satunya kurus. Sangat mungkin bahwa relief tersebut adalah penggalan dari cerita Bukbuksah Gagangaking.

relief tokoh candi selotumpuk relief tokoh candi selo tumpukRelief Candi Selotumpuk

Hem.. meski sudah runtuh ternyata Selotumpuk masih meninggalkan sisa-sisa kemegahannya. Bagaimana? Masih mau bilang Selotumpuk sekedar tumpukan batu?? :P

Posting ini merupakan pembaharuan dari posting kami terdahulu yang berjudul “Blitar Timur, Perburuan Percandian Terakhir

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Revisi terakhir : –

Menelisik Peninggalan Sejarah di Lembah Sungai Rini, Blitar (Prasasti Rini)

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Sungai dan Gunung merupakan dua unsur penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat masa klasik di Jawa. Sesuai dengan ajaran Hindu Budha yang mereka anut, sungai dan gunung memegang peranan penting bagi sistem peribadatan di masa silam. Di Blitar, sudah bukan rahasia lagi jika banyak ditemukan peninggalan sejarah masa klasik di sekitar Gunung Kelud dan Sungai Brantas. Lalu bagaimanakah dengan Blitar timur? Terutama yang terletak di timur Sungai Lekso dan di bawah naungan Gunung Kawi? Apakah juga begitu?

Gunung KawiGunung Kawi

Doko, sebuah kecamatan yang terletak di timur Lekso, membentang hingga Gunung Kawi di sisi utaranya. Dataran yang memiliki kontur berlembah-lembah ini ternyata menyimpan jawaban dari pertanyaan di atas. Tak perlu menjelajahi keseluruhan dari kecamatan yang luas ini. Cukup di Desa Doko saja kami bisa menemukan jejak jejak sejarah masa silam.

Tepatnya di Dusun Bebekan, Desa Doko, Doko, Kab. Blitar terdapat sebuah prasasti. Prasasti tersebut dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan dikenal sebagai punden watu tulis. Prasasti tersebut sejatinya adalah Prasasti Rini yang berangka tahun 1164 Masehi, semasa dengan pemerintahan Sri Aryeswara dari Kerajaan Kadiri[1].

cungkup prasasti riniTidak lah sulit untuk menemukan Prasasti Rini. Dari Doko kami tinggal menuju Dusun Bebekan. Setelah melintasi Sungai Rini, kami pun tiba di Bebekan. Prasasti Rini berada di dalam cungkup, tepat di pinggir jalan dusun. Prasasti Rini sendiri di rawat oleh komunitas masyarakat Hindu asli Blitar, yang mungkin sudah memeluk Hindu turun temurun sejak masa silam.

Kesejarahan Prasasti Rini memang belum terkuak dengan jelas, akan tetapi jika kita telisik mengenai hal-hal di sekitarnya. Hem.. Sepertinya mulai ada titik terang. :D Prasasti Rini, Sungai Rini, dan komunitas Hindu pribumi. Sepertinya itu berkaitan.

prasasti rini bebekan prasasti rini blitarSungai Rini merupakan sungai purba yang hulunya langsung berasal dari Gunung Kawi, nantinya sungai ini akan menyatu dengan Sungai Genjong dan berhilir di Sungai Brantas, Desa Pakel, Selopuro. Dalam cerita rakyat, Sungai Rini dikenal sebagai sungai yang aman. Apa bila terjadi letusan Gunung Kelud, material lahar yang mengalir melalui Sungai Brantas tidak akan pernah bisa mengalir ke Sungai Rini. Otomatis sustainebilitas peradaban di sekitar Sungai Rini bisa terus berlanjut. Dan kebetulan keberadaan masyarakat Hindu lokal Dusun Bebekan juga masih bertahan hingga sekarang. Mungkin itulah dasar mengapa Prasasti Rini dianugerahkan di tempat ini.

Apakah itu kebetulan?

Ataukah memang saling berkaitan? :D

travellers at prasasti rini——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Revisi terakhir : –

Sumber :

  1. Penelitian dan Pengkajian Kepurbakalaan di Sepanjang Sungai Lekso Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur

Menyambangi Tanda Sejarah di Gunung Gogoniti, Blitar

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Gunung Gogoniti, atau ada juga yang menyebutnya bukit, secara keletakan berada di antara Kecamatan Doko dan Kesamben, Blitar. Tak ada yang menyangkal mengenai keindahan gunung ini. Pepohonan pinus yang menyelimuti permukaan gunung, tampak begitu kontras dengan hamparan sawah yang hijau permai, membuatnya indah dipandang. Semakin indah pula jika cuaca cerah dan Gunung Kawi tampak menyertai Gogoniti dari utara.

bukit gogonitiSelain menawarkan keindahan alam, ternyata Gogoniti juga menyimpan suatu tanda sejarah. Letaknya terletak di puncak bukit. Warga setempat menyebutnya punden, tempat untuk nyadaran dan bersih desa. Yang dipundenkan adalah tokoh sesepuh desa bernama Nitikusumo. Rasa penasaran pun mendorong kami untuk menuju punden tersebut.

menuju puncak gogonitiBukanlah perkara yang mudah untuk menuju ke Punden Nitikusumo. Punden yang terletak di puncak bukit itu hanya dapat diakses melaui jalan macadam. Tanjakan dan tikungan yang berkelok-kelok juga menambah tantangan dalam perjalanan ini.

punden gogonitiTak seberapa lama menyusuri hutan, akhirnya kami menjumpai sebuah bangunan berbentuk rumah. Bangunan ini tampak tertutup dari luar. Cendela-cendelanya ditutup kain berwarna putih. Hal ini semakin membuat kami penasaran. Kami sempat ragu, apa ini cungkup dari punden Nitikusumo? Setelah beberapa kali mengamati, akhirnya Mas Adon menyakinkan bahwa bangunan ini memanglah cungkup dari punden yang kami cari.

Perlahan kami beranikan diri untuk masuk kedalam bangunan. Setelah masuk, kami melihat sebuah makam yang dikelilingi empat buah umpak. Uniknya, nisan dari makam tersebut adalah prasasti. Prasasti itulah yang selama ini dikenal dengan nama Prasasti Gogoniti.

Sayang sekali prasasti ini telah aus. Meski samar-samar masih terlihat guratan aksara di tubuhnya, tapi itu terlalu sulit untuk dibaca. Tapi andaikan utuh pun paling kami ya gak bisa baca hehehe :D

situs gogonitiprasasti gogonitiBerhubung minim sekali keterangan mengenai prasati ini, akhirnya kami bertanya-tanya pada pakarnya. Menurutnya, ada pendapat yang menyatakan bahwa prasasti ini adalah peninggalan dari Kerajaan Singhasari masa Pemerintahan Krtanegara.

Prasasti Gogoniti ini secara administratif masuk dalam wilayah Desa Kemirigede, Kesamben, Kab Blitar. Rute termudah untuk menuju situs ini dari Blitar adalah: Blitar – Wlingi –Kesamben – Pertigaan setelah Kantor Kecamatan Kesamben ke kiri (ke utara) – Ikuti jalan raya hingga Desa Kemirigede (melewati Desa Pagerwojo, Desa Tepas) – Sampai di Desa Kemirigede ketemu dengan TK di kiri jalan – setelah TK tersebut belok ke kiri pada pertigaan – Kemudian tinggal mengikuti jalan beton sampai macadam dan masuk hutan. Situs Prasasti Gogoniti berada di dalam sebuah bangunan cungkup.

Ayo yang penasaran dengan Prasasti Gogoniti bisa langsung sambang ke mari. Indah panorama alamnya, menantang medannya, keren tanda sejarahnya :D

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : Mas Andrik (Pamong Budaya Blitar 2015)

Melacak Peninggalan Sejarah di Desa Jabung, Talun, Blitar (Situs Jabung)

Participant: Galy, Upheeck

arca situs jabungPerjalanan kami menjelajahi peninggalan-peninggalan sejarah di Blitar kini telah sampai di Desa Jabung, Kec. Talun, Kab. Blitar. Letak Desa Jabung cukup menarik karena berdekatan dengan desa desa yang memiliki peninggalan sejarah seperti Desa Jeblog (Situs Jeblog), Desa Mronjo (Situs Watu Bonang), dan Desa Bendosewu (Candi Tapan). Rute menuju Desa Jabung adalah sebagai berikut: Blitar – Kanigoro – Perempatan Kanigoro ke timur – Pertigaan Pasar Bendosewu ke selatan (belok kanan) – bertemu perempatan belok ke kanan – Desa Jabung (Tugu masuk Desa Jabung).

Di Desa Jabung ini dapat dijumpai benda cagar budaya (BCB) berupa yoni. Yoni tersebut terletak dipinggir jalan. Kondisinya terpendam sehingga hanya tampak bagian atasnya. Cerat yoni tersebut juga telah patah.

yoni jabung blitar

travellers in situs jabungTidak jauh dari yoni tersebut juga pernah ditemukan artefak lain berupa potongan kepala arca tokoh wanita. Penduduk setempat menyebutnya dengan kepala Dewi Sri. Potongan arca tersebut ditemukan saat sedang menggali parit sawah tak jauh dari lokasi yoni berada. Kini kepala arca tersebut telah disemen di tembok pekarangan salah seorang warga.

Keberadaan peninggalan sejarah ini telah membuktikan adanya suatu peradaban yang pernah mendiami wilayah Jabung di masa silam. Resapi makna yang tersirat dari peninggalan peradaban masa silam. Mari lakukan yang terbaik untuk esok yang lebih baik.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Galy Hardyta & Muhammad Rofi’i (Upheeck)

Revisi terakhir : —

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 699 pengikut lainnya.