Menelisik Peninggalan Sejarah di Lembah Sungai Rini, Blitar (Prasasti Rini)

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Sungai dan Gunung merupakan dua unsur penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat masa klasik di Jawa. Sesuai dengan ajaran Hindu Budha yang mereka anut, sungai dan gunung memegang peranan penting bagi sistem peribadatan di masa silam. Di Blitar, sudah bukan rahasia lagi jika banyak ditemukan peninggalan sejarah masa klasik di sekitar Gunung Kelud dan Sungai Brantas. Lalu bagaimanakah dengan Blitar timur? Terutama yang terletak di timur Sungai Lekso dan di bawah naungan Gunung Kawi? Apakah juga begitu?

Gunung KawiGunung Kawi

Doko, sebuah kecamatan yang terletak di timur Lekso, membentang hingga Gunung Kawi di sisi utaranya. Dataran yang memiliki kontur berlembah-lembah ini ternyata menyimpan jawaban dari pertanyaan di atas. Tak perlu menjelajahi keseluruhan dari kecamatan yang luas ini. Cukup di Desa Doko saja kami bisa menemukan jejak jejak sejarah masa silam.

Tepatnya di Dusun Bebekan, Desa Doko, Doko, Kab. Blitar terdapat sebuah prasasti. Prasasti tersebut dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan dikenal sebagai punden watu tulis. Prasasti tersebut sejatinya adalah Prasasti Rini yang berangka tahun 1164 Masehi, semasa dengan pemerintahan Sri Aryeswara dari Kerajaan Kadiri[1].

cungkup prasasti riniTidak lah sulit untuk menemukan Prasasti Rini. Dari Doko kami tinggal menuju Dusun Bebekan. Setelah melintasi Sungai Rini, kami pun tiba di Bebekan. Prasasti Rini berada di dalam cungkup, tepat di pinggir jalan dusun. Prasasti Rini sendiri di rawat oleh komunitas masyarakat Hindu asli Blitar, yang mungkin sudah memeluk Hindu turun temurun sejak masa silam.

Kesejarahan Prasasti Rini memang belum terkuak dengan jelas, akan tetapi jika kita telisik mengenai hal-hal di sekitarnya. Hem.. Sepertinya mulai ada titik terang. :D Prasasti Rini, Sungai Rini, dan komunitas Hindu pribumi. Sepertinya itu berkaitan.

prasasti rini bebekan prasasti rini blitarSungai Rini merupakan sungai purba yang hulunya langsung berasal dari Gunung Kawi, nantinya sungai ini akan menyatu dengan Sungai Genjong dan berhilir di Sungai Brantas, Desa Pakel, Selopuro. Dalam cerita rakyat, Sungai Rini dikenal sebagai sungai yang aman. Apa bila terjadi letusan Gunung Kelud, material lahar yang mengalir melalui Sungai Brantas tidak akan pernah bisa mengalir ke Sungai Rini. Otomatis sustainebilitas peradaban di sekitar Sungai Rini bisa terus berlanjut. Dan kebetulan keberadaan masyarakat Hindu lokal Dusun Bebekan juga masih bertahan hingga sekarang. Mungkin itulah dasar mengapa Prasasti Rini dianugerahkan di tempat ini.

Apakah itu kebetulan?

Ataukah memang saling berkaitan? :D

travellers at prasasti rini——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Revisi terakhir : –

Sumber :

  1. Penelitian dan Pengkajian Kepurbakalaan di Sepanjang Sungai Lekso Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur

Menyambangi Tanda Sejarah di Gunung Gogoniti, Blitar

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Gunung Gogoniti, atau ada juga yang menyebutnya bukit, secara keletakan berada di antara Kecamatan Doko dan Kesamben, Blitar. Tak ada yang menyangkal mengenai keindahan gunung ini. Pepohonan pinus yang menyelimuti permukaan gunung, tampak begitu kontras dengan hamparan sawah yang hijau permai, membuatnya indah dipandang. Semakin indah pula jika cuaca cerah dan Gunung Kawi tampak menyertai Gogoniti dari utara.

bukit gogonitiSelain menawarkan keindahan alam, ternyata Gogoniti juga menyimpan suatu tanda sejarah. Letaknya terletak di puncak bukit. Warga setempat menyebutnya punden, tempat untuk nyadaran dan bersih desa. Yang dipundenkan adalah tokoh sesepuh desa bernama Nitikusumo. Rasa penasaran pun mendorong kami untuk menuju punden tersebut.

menuju puncak gogonitiBukanlah perkara yang mudah untuk menuju ke Punden Nitikusumo. Punden yang terletak di puncak bukit itu hanya dapat diakses melaui jalan macadam. Tanjakan dan tikungan yang berkelok-kelok juga menambah tantangan dalam perjalanan ini.

punden gogonitiTak seberapa lama menyusuri hutan, akhirnya kami menjumpai sebuah bangunan berbentuk rumah. Bangunan ini tampak tertutup dari luar. Cendela-cendelanya ditutup kain berwarna putih. Hal ini semakin membuat kami penasaran. Kami sempat ragu, apa ini cungkup dari punden Nitikusumo? Setelah beberapa kali mengamati, akhirnya Mas Adon menyakinkan bahwa bangunan ini memanglah cungkup dari punden yang kami cari.

Perlahan kami beranikan diri untuk masuk kedalam bangunan. Setelah masuk, kami melihat sebuah makam yang dikelilingi empat buah umpak. Uniknya, nisan dari makam tersebut adalah prasasti. Prasasti itulah yang selama ini dikenal dengan nama Prasasti Gogoniti.

Sayang sekali prasasti ini telah aus. Meski samar-samar masih terlihat guratan aksara di tubuhnya, tapi itu terlalu sulit untuk dibaca. Tapi andaikan utuh pun paling kami ya gak bisa baca hehehe :D

situs gogonitiprasasti gogonitiBerhubung minim sekali keterangan mengenai prasati ini, akhirnya kami bertanya-tanya pada pakarnya. Menurutnya, ada pendapat yang menyatakan bahwa prasasti ini adalah peninggalan dari Kerajaan Singhasari masa Pemerintahan Krtanegara.

Prasasti Gogoniti ini secara administratif masuk dalam wilayah Desa Kemirigede, Kesamben, Kab Blitar. Rute termudah untuk menuju situs ini dari Blitar adalah: Blitar – Wlingi –Kesamben – Pertigaan setelah Kantor Kecamatan Kesamben ke kiri (ke utara) – Ikuti jalan raya hingga Desa Kemirigede (melewati Desa Pagerwojo, Desa Tepas) – Sampai di Desa Kemirigede ketemu dengan TK di kiri jalan – setelah TK tersebut belok ke kiri pada pertigaan – Kemudian tinggal mengikuti jalan beton sampai macadam dan masuk hutan. Situs Prasasti Gogoniti berada di dalam sebuah bangunan cungkup.

Ayo yang penasaran dengan Prasasti Gogoniti bisa langsung sambang ke mari. Indah panorama alamnya, menantang medannya, keren tanda sejarahnya :D

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : Mas Andrik (Pamong Budaya Blitar 2015)

Melacak Peninggalan Sejarah di Desa Jabung, Talun, Blitar (Situs Jabung)

Participant: Galy, Upheeck

arca situs jabungPerjalanan kami menjelajahi peninggalan-peninggalan sejarah di Blitar kini telah sampai di Desa Jabung, Kec. Talun, Kab. Blitar. Letak Desa Jabung cukup menarik karena berdekatan dengan desa desa yang memiliki peninggalan sejarah seperti Desa Jeblog (Situs Jeblog), Desa Mronjo (Situs Watu Bonang), dan Desa Bendosewu (Candi Tapan). Rute menuju Desa Jabung adalah sebagai berikut: Blitar – Kanigoro – Perempatan Kanigoro ke timur – Pertigaan Pasar Bendosewu ke selatan (belok kanan) – bertemu perempatan belok ke kanan – Desa Jabung (Tugu masuk Desa Jabung).

Di Desa Jabung ini dapat dijumpai benda cagar budaya (BCB) berupa yoni. Yoni tersebut terletak dipinggir jalan. Kondisinya terpendam sehingga hanya tampak bagian atasnya. Cerat yoni tersebut juga telah patah.

yoni jabung blitar

travellers in situs jabungTidak jauh dari yoni tersebut juga pernah ditemukan artefak lain berupa potongan kepala arca tokoh wanita. Penduduk setempat menyebutnya dengan kepala Dewi Sri. Potongan arca tersebut ditemukan saat sedang menggali parit sawah tak jauh dari lokasi yoni berada. Kini kepala arca tersebut telah disemen di tembok pekarangan salah seorang warga.

Keberadaan peninggalan sejarah ini telah membuktikan adanya suatu peradaban yang pernah mendiami wilayah Jabung di masa silam. Resapi makna yang tersirat dari peninggalan peradaban masa silam. Mari lakukan yang terbaik untuk esok yang lebih baik.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Galy Hardyta & Muhammad Rofi’i (Upheeck)

Revisi terakhir : —

Situs Ploso Selopuro Blitar, Misteri yang Belum Terpecahkan

Participant: Galy, Upheeck

Perjalanan kami menelusuri situs –situs peninggalan sejarah di Blitar akhirnya sampai juga di Desa Ploso, Kec. Selopuro, Kab Blitar. Di pinggiran desa ini, tepatnya pada sebuah makam terdapat sebuah benda cagar budaya berupa yoni. Keberadaan yoni tersebut sangat mencolok, bahkan bisa dilihat dari persawahan pinggir jalan raya Selopuro-Kesamben. Untuk menuju lokasi tersebut kita bisa menyusuri sebuah gang di selatan Kantor Desa Ploso. Jalan tersebut akan mengarah ke sawah dan pemakaman. Tak perlu susah susah mencari lokasi BCBnya, karena artefak tersebut dicat putih dan berada di atas sebuah tugu, benar-benar sangat mencolok.

situs ploso blitar

yoni ploso selopuroMeski mudah ditemukan, tapi asal-usul kesejarahan dari Situs Ploso ini tidak banyak yang mengetahui. Ketika kami mencoba menanyai panduduk setempat mengenai kesejarahan dari situs ini, ternyata mereka tidak banyak yang mengetahui. Penduduk justru lebih ngeh dengan tokoh yang dimakamkan di sana. Usut punya usut, ternyata bangunan yang kami kira tugu itu sebenarnya adalah sebuah makam. Makam tersebut ditinggikan karena merupakan makam tokoh penting yang bernama Panji Suryo Admojo. Beliau adalah pendatang di Desa Ploso tapi sangat disegani di sana. Hanya itu lah informasi yang bisa kami dapatkan. Mengenai dari mana asal yoni tersebut masih belum ada jawaban. Akhirnya kami hanya mendokumentasikan perwujudan dari situs tersebut, dan menunggu jika suatu saat ada jawaban dari misteri ini.

travellers in situs ploso

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Galy

Revisi terakhir : —

Ngurus Passport Malah Nemu Inskripsi Kuno di Kantor Imigrasi Blitar

Participant: Bokir, Galy

imigrasi blitarIni beneran, bukan pas berangkat atau pas pulang, tapi kami bener-bener ngliat Benda Cagar Budaya itu di Kantor Imigrasi Blitar. Awal mula cerita adalah ketika Bokir mau ngurus passport di Kantor Imigrasi Kelas II di Srengat Blitar. Alibinya sih dia mau liburan ke Singapura, tapi paling-paling dia mau daftar jadi TKI. :twisted: Pas mau masuk ke ruang pembuatan passport eh kami malah liat sebuah jambangan batu. Letaknya berada di kanan pintu masuk. Meski sedikit terpukau tapi kami tetap menyelesaikan dulu buat paspronya, setelah semua urusan kelar baru deh kami pantengin tuh BCB.

Setelah kami amati ternyata pada jambangan batu tersebut terdapat inskripsi kuno. Aksaranya sih seperti aksara jawa, tapi yang ini kelihatan lebih kuno. Selain inskripsi, jambangan ini juga dihiasi oranamen-ornamen bermotif sulur dan bunga. Sayangnya tidak ada keterangan apa pun mengenai jambangan berinskripsi ini.

jambangan batu di kantor imigrasi blitar

situs srengat

jambangan batu srengatYang membuat kami bingung adalah, kenapa bisa ada BCB di Kantor Imigrasi?? Kontras banget kan?? Tapi setelah usut punya usut ternyata Kantor ini dulunya adalah bekas Pendopo Kawedanan Srengat (kantor administrasinya Wedono Srengat). Menurut keterangan satpam kantor imigrasi, jambangan ini dulunya adalah salah satu koleksi pendopo Kawedanan Srengat, sementara koleksi lain saat ini sudah diamankan di Museum Penataran Nglegok. Oo.. Pantas saja, kalau gini kan jadi jelas duduk perkaranya. :D

travellers in situs kawedanan srengatNamun setelah didiskusikan di grup fecebook D’Travellers (https://www.facebook.com/groups/travellers2009/), ternyata diketahui bahwa inskrisipsi pada jambangan ini adalah buatan baru, hanya jambangannya saja yang peninggalan kuno.

diskusi fb travellersMemang sejarah… Terkadang hanya dibuat untuk kepentingan pemerintah yang berkuasa :twisted:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Photographer : Galy

Revisi terakhir : —

Gowes Jelajah, Menelusuri Peningalan Sejarah di Dusun Mojo, Plosoarang, Blitar (Situs Mojo)

Participant: Galy, Koje

makam sonojoyoGowes atau sepedahan adalah rutinitas yang sudah lama tidak kami lakukan. Maklum sesudah kuliah kami jadi jarang bangun pagi. Kalau sudah siang mau sepedahan ya males, udara sudah kotor. Syukurlah setelah sekian lama akhirnya kami berkesempatan untuk bergowes lagi. Untuk mengisi sela-sela liburan, kami sepakat untuk bergowes menyusuri pelosok-pelosok desa di Blitar, dan tanpa direncanakan perjalanan kami sampai di Dusun Mojo, Desa Plosoarang, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

nandi situs mojoJika diamati dan diblusuki dengan seksama, ternyata di Dusun Mojo banyak tersebar benda cagar budaya masa klasik. Awalnya kami menjumpai arca nandi di halaman salah seorang warga, karena terdorong rasa penasaran kami pun mblusuk-mblusuk hingga ke makam keramat dan kolam gurami. Hasilnya kami menjumpai arca nandi lainnya dan sebuah sandung. Masih banyak lagi benda cagar budaya lainnya seperti yoni, lumpang, dan lapik arca. Melihat adanya yoni dan arca nandi, dapat diketahui bahwa corak keagamaan dari Situs Mojo adalah Hindu. Yoni adalah perlambang Dewi Parwati dan nandi merupakan kendaraan Dewa Siwa a.k.a Mahadewa.

situs mojo plosoarang blitarNandi di Makam Sonojoyo (Leluhur Dusun Mojo)

Yang menarik dari sebaran benda cagar budaya di Situs Mojo ini dalah keberadaan sandung (miniatur rumah). Ada yang berpendapat bahwa sandung berkaitan dengan ritus pemujaan Dewi Sri (Dewi Padi). Dewi Sri adalah dewa lokal yang keberadaanya tetap dipertahankan meskipun pengaruh Hindu Budha telah berkembang di Nusantara. Bahkan ritus terhadap Dewi Sri masih terus berlangsung hingga era modern ini, meski akhir-akhir ini sudah jarang. Kalau di era sekarang miniatur rumahnya tidak terbuat dari batu melainkan kayu dan sejenisnya. Udah langka banget yang melakukan ritus ini, tapi kalau mau liat gambarnya bisa googling.

sandung situs mojo plosoarangSandung (Miniatur Rumah)

Mempertimbangkan adanya sandung, dan lokasinya yang terletak di pinggir Sungai Brantas, kemungkinan dulu Dusun Mojo merupakan lumbung pertanian di tepi Brantas. Hasil pertanian bisa saja langsung diangkut ke sebelah selatan sungai melalui dermaga-dermaga, salah satu dermaga kuno ada di Situs Besole yang terletak agak ke timur dari Dusun Mojo.

Wow, dari gowes saja bisa panjang ceritanya. Malah berkhayal sampai masa silam. Yang jelas yang kami paparkan di atas hanya sekedar pendapat orang awam, jadi untuk mengungkap misteri situs ini masih perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Akhir kata dari kami, “sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.”

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Photographer : Galy Hardyta

Situs Gogourung, Bukti Kebenaran Negarakrtagama di Blitar??

Participant: Adon, Galy, Eni, Tiko

Sah sangke lodhaya sira manganti simping,

sweccha nambya mahajenga ri sang hyang dharma,

sakning prasada tuwi hana dohnya ngulwan,

na hetuyan bangunenanga wetan matra.

Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju Simping,

Dengan rela seraya memperbaiki candi tempat memuja leluhur,

Candi itu rusak tampak bergeser ke barat,

Itulah sebabnya direnovasi digeser agak ke timur.

Mwang tekang parimana ta pwa pinatut wyaktinya lawan prasasti,

hetuyan tinapan sama padhinepan purwwadhi sampun tinugwan,

ndan sang hyang kuti ring gurung gurunginambil bhumya sang hyang dharma,

gontong, wisnu rareka bajradharaneka pangheli sri narendra.

Serta merta penataannya diperbaiki disesuaikan dengan bunyi prasasti,

Lalu diukur yang benar dengan depa di ujung timur telah dibuat tugu,

Maka wihara di Gurung Gurung diambil halamannya untuk tempat candi,

Gotong, Wisnurare Bajradarana itu sebagai penggantinya oleh Baginda Raja.

Kutipan di atas diambil dari kitab Negarakrtagama. Kurun waktu kejadian tersebut berlangsung pada tahun saka Tritanurawi – 1283 (1361 Masehi), saat Maharaja Hayam Wuruk berkunjung ke Candi Penataran dan melanjutkan perjalanan ke Candi Simping, Blitar. Uniknya dalam kutipan tersebut disebutkan toponim “Gurung-gurung”. Dijelaskan bahwa pada wihara di “Gurung-gurung” diambil halamannya untuk tempat candi. Saat ini sekitar 800 m di barat Candi Simping terdapat Dusun “Gogourung” yang mirip dengan troponin “Gurung-gurung”. Di dusun tersebut, tepatnya di halaman Masjid Baitul Halim terdapat reruntuhan candi. Reruntuhan candi juga tersebar hingga ke pamakaman Dusun Gogourung. Apakah Dusun Gogourung ini merupakan “Gurung-gurung” yang dimaksud dalam Negarakrtagama? Semua masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

batu candi masjid baitul halim

situs gogourungBatu candi di halaman Masjid Baitul Halim Dusun Gogourung, Desa Dawuan, Kademangan, Kab. Blitar

situs gogourung blitarBatu candi di pemakaman Dusun Gogourung

Masjid Baitul Halim terletak di tepi jalan raya Blitar – Pantai Tambakrejo. Terletak di kanan jalan (utara jalan) dari arah Blitar. Jika sedang ngetrip ke Candi Simping atau Pantai Tambakrejo jangan lupa mampir di mari ya. Rasakan sensasi dan keunikannya. :D

travellers in gogourung——————————————————————————————————————————————-

Writer : Pristiko Gunawan

Photographer : Galy, Eni

Revisi terakhir : —

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 640 pengikut lainnya.