Menyibak Peninggalan Sejarah di Karanggayam, Srengat, Blitar

Participant: Galy, Lia

Teronggok di pinggir jalan desa. Terdiam terpapar panas dan hujan. Dengan sisa-sisa tubuh yang telah hancur, ia tetap ada. Tetap bertahan sebagai penanda kehidupan yang telah lalu. Ia adalah sang danyang, penunggu Desa Karanggayam.

situs karanggayam blitarSejatinya benda ini adalah sebuah peninggalan sejarah. Bentuknya memang telah hancur, yang bisa disaksikan saat ini tinggalan pecahannya saja. Masyarakat menyebut benda/ situs ini sebagai danyangan (tempatnya danyang).

Danyang/ dayang adalah sesuatu benda/ makhluk/ kekuatan/ sosok yang dianggap mendiami sebuah tempat sejak pertama kali tempat tersebut ada. Biasanya danyang dikaitkan dengan mitos-mitos yang ada di desa tersebut dan dianggap sebagai pelindung desa. Oleh karenanya, dulu saat masyarakat mau mengadakan suatu hajat, sebelumnya mereka meminta izin pada danyangan agar hajatnya direstui oleh penunggu desa. Kini tradisi tersebut sudah mulai ditinggalkan.

Masih seputar pokok bahasan yang sama, istilah danyang di sini cukup menarik untuk ditelaah. Perlu diingat bahwa di sekitar Karanggayam legenda tentang orang-orang mentaraman memang cukup popular. Menurut legenda, masyarakat di sini berasal dari orang-orang Mataram Islam yang eksodus ke bang wetan (Jawa Timur) setelah pecahnya Perang Diponegoro. Mereka membabat hutan dan mendirikan desa-desa yang namanya mirip dengan desa tempat asal mereka. Contohnya seperti Karanggayam, Ngaglik, Slemanan di Kecamatan Srengat, Blitar. Nama-nama tersebut bisa dijumpai di sekitar Yogyakarta yang dulunya merupakan pusat Mataram Islam. Bila legenda ini dikaitkan dengan istilah danyangan, berarti benda bersejarah yang disebut danyangan itu telah ada sebelum orang-orang mentaraman membabat desa ini. Buktinya orang-orang tersebut menyebutnya dengan istilah “danyang”.

situs dayangan karanggayam blitar

situs dayangan karanggayam

peninggalan sejarah desa karanggayam blitarBenda cagar budaya di Situs Danyangan Karanggayam ini sebenarnya adalah pecahan yoni. Jika diamati dengan seksama, posisi yoni tersebut telah dibalik. Yang unik dari yoni ini adalah ornament hiasnya. Dilihat dari sisa-sianya tampaknya yoni ini adalah yoni nagaraja, yakni yoni yang ceratnya disangga seekor nagaraja. Ditilik dari oranamen hiasnya, tampaknya yoni ini berasal dari era Majapahit. Oramennya bisa dibilang mirip dengan Yoni Gambar di Jombang, Yoni Klintirejo di Mojokerto, dan Yoni Tegowangi di Kediri. Kesemuanya adalah peninggalan Kerajaan Majapahit. Untuk corak keagamaan situs ini adalah Hindu, sebab yoni adalah perlambang Dewi Parwati yang merupakan salah satu dewa dalam agama Hindu.

cerat yoni karanggayamBagian yang diduga sebagai cerat dan penyangga yoni.

yoni karanggayam blitarLubang persegi untuk menancapkan lingga (kiri), hiasan sayap bisa merupakan bagian dari garuda/ naga/ narasingan.

Tidak jauh dari situs ini juga terdapat sebuah prasasti. Prasasti tersebut dalam posisi roboh dengan permukaan yang sudah aus. Di Desa Kunir (sebelah barat Karanggayam) juga terdapat beberapa prasasti yang saat ini berada di komplek Makam Aulia Cemandi. Melihat banyaknya tinggalan benda cagar budaya di sekitar Karanggayam, tampak dulunya kawasan ini merupakan pemukiman kuno. Hal tersebut didukung dengan letak Karanggayam yang berbatasan dengan sungai Brantas, di mana sungai tersebut merupakan jalur transportasi utama di era kerajaan Hindu Budha di Jawa.

Keberadaan benda-benda bersejarah seperti Situs Danyangan ini seakan menjadi tanda bahwa di tempat ini dulunya terdapat suatu kisah kehidupan. Mungkin inilah alasan mengapa sang danyang tetap bertahan hingga kini.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : -

Photographer : Galy Hardyta

Candi Tembarak, Bukti Kejayaan Kertosono Dimasa Klasik

Self travelling

Terlebih dahulu saya ingatkan, bagi yang tidak suka liat candi-candi kecil yang tak terawat, lebih baik jangan dilanjutkan membaca. Karena candi yang akan diulas ini kondisinya sangatlah memprihatinkan.

Sebenarnya saya sudah tau kalau kondisi Candi Tembarak sudah rusak dan tidak utuh. Ibarat kata pelantun lagu “Minyak wangi” candinya sudah tak asik lagi :P hehehehe. Tapi tanpa sedikitpun keraguan saya tetap berangkat. Sambil menikmati suasana sore saya pun meluncur menuju Kertosono.

Kertosono merupakan salah satu kecamatan penting di Kabupaten Nganjuk. Lokasinya berada diujung timur Nganjuk dan berbatasan dengan Sungai Brantas. Kertosono juga menjadi titik pertemuan tiga kabupaten, yakni Kabupaten Jombang, Kediri, dan Nganjuk. Karena lokasinya yang strategis ini, Kertosono memegang peranan penting sejak jaman kolonial hingga sekarang. Bukti jejak Kolonial yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah jembatan Kertosono lama. Sedangkan untuk saat ini, peranan Kertosono tidak perlu diragukan lagi. Kertosono kini merupakan tempat bertemunya berbagai arus lalu lintas dari kota-kota penting di Jawa Timur. Kertosono dari utara menghubungkan dengan Surabaya, dari selatan menghubungkan Blitar, dari barat menghubungkan dengan Madiun. Tentunya Kertosono merupakan pintu gerbang sekaligus penyokong Nganjuk di sebelah timur. Melihat fakta-fakta tersebut Kertosono memanglah tempat yang sangat stategis, dan dengan adanya Candi Tembarak, hal ini akan semakin menandaskan kejayaan Kertosono dari kurun waktu yang lebih awal.

Candi Tembarak secara administratif terletak di Desa Tembarak, Kec. Kertosono, Nganjuk. Lokasi candi ini berada di ujung selatan Desa Tembarak yang berbatasan dengan Desa Gondang. Untuk menuju candi ini banyak rute yang bisa dipilih. Dari arah Blitar bisa lewat Kediri jurusan Kertosono/ Surabaya, selepas Kediri langsung belok kiri ke arah jembatan Kertosono, setelah melalui jembatan bisa djumpai perempatan besar, dari perempatan tersebut belok kiri hingga Gang XIV Tembarak, candi berada di tengah sawah di selatan mushola. Dari arah Jombang bisa menuju jembatan Kertosono dan mengikuti rute yang sama. Kalau dari arah Nganjuk langsung saja ke arah jembatan Kertosono, sampai di perempatan (sebelum jembatan) belok kanan dan langsung saja menuju Gang XIV.

Candi Tembarak terletak di tengah area persawahan. Akses jalan yang tersedia hanyalah jalan setapak dan dilanjutkan dengan pematang sawah, sehingga untuk menuju lokasi candi saya harus berjalan kaki. Lokasi Candi Tembarak ditandai dengan adanya bangunan beton yang suduah tak beratap, di sana lah Candi Tembarak berada.

situs candi tembarakCandi Tembarak kondisnya sangat memprihatinkan. Candi yang ditemukan sekitar tahun 2005 ini sebenarnya pernah memperoleh penanganan pemerintah, namun kini kondisinya sudah terbengkalai. Candi Tembarak memang telah runtuh, yang bisa dilihat tinggalah tumpukan bata yang samar-samar masih tersusun membentuk bidang candi. Kini tumpukan tersebut terendam kubangan air, sehingga bentuknya hanya terlihat samar. Sungguh disayangkan mengingat candi ini merupakan salah satu bukti kejayaan Kertosono di masa klasik.

candi tembarak

batu candi tembarak

tembarak templeCandi Tembarak terletak tidak jauh dari Sungai Brantas, kira-kira hanya 500 m di barat sungai. Sungai Brantas merupakan jalur perdagangan penting sejak masa kerajaan Hindu-Buda di tanah Jawa, sehingga tidak mengheran jika banyak ditemukan sisa candi/ bangunan klasik di pinggirnya. Selain candi, di sekitar Tembarak juga sering ditemukan tinggalan-tinggalan lepas lainnya. Salah satunya adalah sebuah yoni di pemukiman sebelah utara Candi Tembarak. Menurut penuturan warga setempat yoni ini dulunya ditemukan tidak jauh dari Sungai Brantas. Tidak menutup kemungkinan yoni ini memiliki keterkaitan dengan Candi Tembarak. Yoni sendiri merupakan simbol Dewi Parwati yang merupakan salah satu dewa agama Hindu.

yoni tembarakYoni asli cuma ceratnya dimodivikasi

Selain candi dan artefak-artefak masa klasik, di timur Kertosono juga didapati daerah bernama Bandar Kedung Mulyo. Saat ini daerah tersebut merupakan bagian Kabupaten Jombang yang tepat berseberangan dengan Kertosono, di antara kedua wilayah tersebut mengalir Sungai Brantas. Nama “bandar” merujuk pada istilah pelabuhan, hal ini bisa memberikan gambaran bahwa dulunya wilayah sekitar Kertosono merupakan sebuah pelabuhan/ bandar.

Dari tinggalan-tinggalan baik berupa benda maupun topnimi, bisa dibayangkan bagaimana dulu Kertosono pernah berjaya di masa klasik.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : -

Photographer : Galy Hardyta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 321 pengikut lainnya.