Menelisik Keunikan Situs Candi Tunglur di Kediri

Participant: Galy, Zid

Perjalanan ini berawal dari rasa penasaran kami terhadap penemuan situs peninggalan sejarah baru di Kec Badas, Kediri. Yang kami maksud adalah Situs Tunglur di Dusun Sumberjo, Desa Tunglur. Situs ini ditemukan kembali dalam kondisi tertimbun pada Desember 2014 lalu.

candi tunglurTidak seperti biasanya, kali ini perjalan kami tidak dimulai dari Blitar, melainkan dari perempatan lampu merah Tulungrejo Pare. Selanjutnya kami mengambil arah Jombang. Kami terus melaju ke arah utara sampai bertemu dengan SD Tunglur. Tidak jauh dari SD, kami menjumpai papan petunjuk menuju situs. Selanjutnya kami mengikuti petunjuk dengan seksama, hingga akhirnya tiba di Situs Tunglur.

Setiba di lokasi kami langsung disambut oleh seorang ibu yang nampaknya merupakan juru pelihara Situs Tunglur. Ibu Yayuk nama nya. Setelah berkenalan, beliau langsung menceritakan awal mula diketemukannya situs ini. Dulu suami beliau yang sedang menggali tanah untuk ditanami pohon pepaya menemuka batu bata kuno. Semakin digali semakin tampak struktur bangunan di dalamnya. Takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan, beliau melapor ke pemerintah desa dan selanjutnya dilaporkan pada pihak terkait. Akhirnya diketahuilah kalau yang beliau temukan adalah struktur candi.

lapisan tanah situs tunglurSetelah mendengarkan cerita beliau, kamu melanjutkan untuk mengamati sitiap sudut dari Situs Tunglur. Bagian Situs Tunglur yang terlihat saat ini adalah 3 struktur candi perwara (candi pendamping) dan sebuah candi induk. Semua struktur candi tersebut tersusun dari bata kuno dan berada di bawah permukaan tanah.

Kalau diamati, kita bisa melihat lapisan tanah yang menimbun Situs Tunglur ini berlapis-lapis. Ada lapisan yang berpasir. Diduga lapisan tersebut merupakan material dari letusan Gunung Kelud. Wah jadi bisa sekalian belajar geologi di sini. Mungkin untuk pengembangan ke depan dari Situs Tunglur ini bisa mencontoh Candi Kimpulan di Sleman DIY. Di sana sebagian struktur tanah yang menimbun candi tetep dipertahankan. Bahkan dilindungi dengan ruang kaca sehingga tetap utuh hingga sekarang. Kalau itu bisa diaplikasikan pada situs ini, tentunya akan semakin menarik.

Candi induk Situs Tunglur telah runtuh. Yang tersisa tinggalan bagian kaki dengan sumuran di tengahnya. Sepintas kondisi candi induk Situs Tunglur mirip dengan Candi Pundong di Jombang. Candi induk ini menghadap ke barat. Di depannya terdapat 3 candi perwara yang menghadap ke candi induk.

situs tunglur kediriCandi induk yang berhadapan dengan candi perwara tidak lah lazim dijumpai di Jawa Timur. Coba lihat Candi Penataran atau Candi Kotes di Blitar. Candi perwaranya tidak menghadap ke candi induk, melainkan searah dengan arah hadap candi induk. Justru Situs Tunglur ini mirip dengan candi-candi langgam Jawa Tengahan. Misalnya saja Candi Sambisari dan Candi Ijo di Selaman DIY yang perwaranya mengahadap ke candi induk. Hem.. benar- benar unik Situs Tunglur ini. Mungkinkah Situs Tunglur ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kadiri? Sebagaimana dijelaskan diberbagai kajian bahwa arsitektur candi-candi masa Kadiri merupakan arsitektur peralihan. Yup, peralihan dari langgam Jawa Tengahan ke langgam Jawa Timuran. Apakah Situs Tunglur demikan? Menarik 8-)

candi induk situs tunglurCandi induk

candi perwara situs tunglurCandi perwara

Sebenarnya selain struktur bangunan, menurut pengakuan ibu jupel juga ditemukan beberapa arca, namun saat ini sudah diamankan ke Trowulan, Entah yang dibawa arca yang bagaimana beliau juga kurang jelas hehehe. :-P Tambah menarik nih. Tinggal nunggu release dari pihak terkait aja. Biar latar belakang candi ini semakin gamblang.

traveller blitar di situs tunglurD’Trav Blitar di Situs Tunglur Kediri. #shareBlitar everywhere

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Zidny

Editor: Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Candi Dorok + Watu Gajah + Ringin Budho, Mumpung Deket

Participant : Galy, Kcing, KelanArt

Blitar – Pare itu jaraknya sekitar 50an km. Jadi, sangat disayangkan kalau udah jauh-jauh ke sana tapi cuma mampir ke satu candi. Maka dari itu, kita maennya rantasan. Hehehe :D

Tujuan utama perjalanan D’Trav kali ini adalah Candi Dorok. Secara administratif Candi Dorok memang tidak berada di Kec Pare, tapi karena dekat, maka kami mampir juga ke Kec Pare. Pangen tau spot apa saja yang kami sambangi selama perjalanan ini? Hahahaha :P Semuanya sudah disebutkan di judul. Okey langsung saja ke perjalanan.

Perjalanan kali ini kami awali dari Blitar barat. Untuk menuju Candi Dorok kami memilih rute Blitar – Pare. Dari Blitar, rute ini diawali dari arah Kec Ponggok. Berikut gambaran umum rutenya: (Blitar)Ponggok – (Kediri)Wates – Plosoklaten – Puncu. Memasuki Kec Puncu kami mulai memperhatikan rute, terutama setelah memasuki Desa Gedangsewu. Di Gedangsewu kami mencoba mencari perempatan yang ada perhutaninya di kanan jalan. Dari perempatan tersebut kami belok kanan (arah timur). Setelah menyusuri ruas jalan tersebut tak seberapa lama kemudian kami menjumpai ruas jalan yang lebih besar. Kami terus melaju ke arah timur sekitar 2 km sampai menjumpai sebuah perempatan yang meyakinkan. Maksud dari meyakinkan di sini adalah perempatannya agak besar, jalan keselatannya beraspal, dan agak lebar. Yup.. dari perempatan tersebut kami belok ke kanan (arah selatan). Setelah menyusuri jalan tersebut akhrinya kami sampai di Desa Manggis tempat Candi Dorok berada. Tak seberapa lama kemudian kami menjumpai Jalan Candi. Dengan mengikuti jalan tersebut, maka sampailah kami di Candi Dorok.

Candi Dorok

candi dorok kediri (1)Candi Dorok secara administratif terletak di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kec Puncu, Kab Kediri. Kondisi candi ini telah runtuh dan tinggal menyisakan bagian kaki candinya saja. Melihat kondisi candi ini kami jadi ingat dengan Candi Brongkah di Trenggalek. Kondisi kedua candi tersebut bisa dikatakan mirip. Kemiripan-kemiripan tersebut antara lain adalah: Dua duanya sudah runtuh dan tinggal kaki candinya saja; Keduanya tersusun dari bata merah; dan Dua-duanya sama-sama berada dibawah permukaan tanah. Yang membedakan keduanya adalah bentuknya, di mana Candi Dorok tidak persis berbentuk persegi  empat seperti Candi Brongkah.

candi dorok kediri (4)

candi dorok kediri (7)

candi dorok kediri (2)Candi Dorok ditemukan pada awal tahun 2000. Candi ini ditemukan terpendam dibawah permukaan tanah. Kemungkinan candi ini terpendam oleh material vulkanik letusan Gunung Kelud, mengingat lokasinya cukup dekat dengan gunung tersebut.

travellers in candi dorokTidak ada relief. Tidak ada arca. Hem.. kok suram ya candi ini. Benar-benar tak ada keterangan apa pun yang dapat digunakan untuk mengetahui latar sejarah candi ini. Apa kami yang cupu & gak update ya?? :D Hehehehe.. Jika diterka-terka akan muncul banyak sekali spekulasi mengenai latar belakang candi ini. Hem.. mengingat letaknya yang berdekatan dengan Candi Surowono dan Tegowangi, bisa jadi candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika Candi Dorok berasal dari masa yang jauh lebih tua, mengingat letaknya juga tidak jauh dari dari tempat ditemukannya Prasasti Harinjing peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) ataupun Prasasti Siman yang merupakan peninggalan Kerajaan Singosari. Tambah ngelantur :P

Setelah puas dengan Candi Dorok kami melanjutkan perjalanan ke Watu Gajah yang katanya gak jauh dari Candi Dorok. Mumpung deket, langsung cuss.. :P

Watu Gajah

Spot selanjutnya ini lebih menantang karena terletak di tengah hutan. Akses jalan yang tersedia hanya berupa jalan tanah yang berpasir. Gak sulit-sulit banget medannya, tapi kalau gak hati-hati bisa jatuh karena selip.

Watu Gajah merupakan sebuah arca berbentuk binatang gajah yang dipahat pada sebongkah batu besar. Gajah tersebut menghadap ke barat, di kanannya terdapat pahatan anak gajah, dan di kiri depannya terdapat pahatan manusia yang menarik gajah. Kurang jelas latar belakang Watu Gajah ini.

watu gajah kediri (1)

watu gajah kediri (2)

watu gajah kediri (3)

Watu Gajah terletak di tengah hutan antara Desa Gadungan dan Desa Manggis, Kec Puncu.  Karena kami barusan dari Candi Dorok di Desa Manggis, maka otomatis kami berangkat dari arah Manggis. Dari Manggis ancer-ancer menuju Watu Gajah sangat jelas. Kami tinggal menuju ke pertigaan yang ada patung gajahnya. Dengan mengikuti jalan yang ada kami pun sampai di Watu Gajah. Untuk pulangnya kami memilih rute Desa Gadungan karena mau sekalian mampir ke Situs Ringin Budho. Rute Desa Gadungan ini akan berujung pada jalan raya Plosoklaten – Pare. Di tepian jalan raya ini terdapat petunjuk arah yang bertuliskan “wisata selo gajah”. Hal tersebut menandakan bahwa Watu Gajah dapat juga diakses dari arah Desa Gadungan.

Okey. Setelah sampai di jalan raya, kami langsung cuss ke Situs Ringin Budho..

Situs Ringin Budho

ringin budho kediri (2)Situs Ringin Budho terletak di alun-alun (Tamrin) Kec Pare. Situs ini terletak di sisi selatan alun-alun, dipagar tembok, dan berada di bawah naungan pohon beringin. Situs Ringin Budho terdiri dari sebuah arca ganesa dan sebuh arca dwarapala. Masing-masing arca telah rusak. Bagian bawah telah diplaster dengan lantai.

Apakah arca-arca ini insitu? Masih ada keterangan yang jelas mengenai hal tersebut.

ringin budho kediri (3)Ganesa merupakan salah satu dewa Hindu

ringin budho kediri (4)Dwarapala adalah arca penjaga.

Namanya Ringin Budho tapi kok gak ada arca Budhanya ya? Hehehe :D Budho di sini bukan diartikan sebagai Budha, malainkan bermakna arca. Hal ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Jawa yang sering menyebut arca dengan sebutan Bodho, Budho, dan sebagainya. Jadi, simpelnya Ringin Budho berarti pohon beringin dan arca. Gimana? Jelas kan? :D

Situs Ringin Budho menjadi penutup perjalanan kali ini. Sebenarnya masih banyak situs-situs bersejarah lainnya disekitar Pare. Tapi apa boleh buat, waktu masih belum mengizinkan. Okey, semoga bisa disambung dilain perjalanan. :D

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta
Revisi terakhir : –

Museum Airlangga dan Candi Adan-adan, Oleh-olehnya Blusukan Bareng PASAK

Participant : Galy, Kcing, Meitika, Arlian, dan teman-teman PASAK

Tentunya ada hal baru yang kami peroleh dari jalan-jalan bareng PASAK Minggu 26 Agustus 2012 kemarin. Coba tebak.. Apakah Selongangleng?? Museum Airlangga?? Candi Adan-adan?? Atau Candi Tegowangi?? :D Benar.. jawabannya adalah Candi Adan-adan. Lho?? :?: Lalu kenapa judulnya juga nyinggung Museum Airlangga?? Hehe.. Ya karena, dalam posting ini kami juga akan mengulas tentang Museum Airlangga beserta koleksinya. Tak usah panjang lebar lagi, berikut ulasanya:

Museum Airlangga

Secara administratif Museum Airlangga berada di Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Museum ini berada 4.7 km di barat pusat pusat Kediri dan berjarak 38.6 km dari Blitar. Tidaklah sulit untuk menemukan lokasinya, sebab museum ini masih berada satu komplek dengan Obyek Wisata Selomangleng yang terkenal.

Museum Airlangga sebenarnya merupakan museum pindahan dari museum lama yang berada di Jl. A.Yani, oleh karenanya sebagian koleksinya berasal dari museum lama. Koleksi-koleksi tersebut cukup beragam, baik wujud, periodisasi, maupun asalnya. Sayangnya keterangan terkait koleksi-koleksi tersebut kurang mendetail, sehingga kurang memberikan informasi bagi pengunjung awam.

Seperti apakah koleksi-koleksi Museum Airlangga?? Monggo dipersani :D

arca ardhanari

arca brahma

arca budha

arca leluhur

arca siwa

arca siwanandi

arca wisnu

batu angka tahun

ganesa

jaladwara

jambangan batu

kala kediri

kala jawa timuran

keben (kemuncak)

makara

miniatur rumah

prasasti batu

yoni

——————————————————————————————————————————————-

Candi Adan Adan

Nah yang ini masih gress.. hehehe.. :mrgreen:

Candi Adan adan berada 13 km di utara pusat Kediri atau berjarak 34 km dari Blitar. Candi Adan-adan merupakan reruntuhan candi yang secara administratif terletak di Desa Adan adan, Kecamatan Gurah, Kab Kediri. Reruntuhan tersebut dapat dijumpai pada sebuah kebun diseberang pemakaman umum Desa Adan-adan.

reruntuhan candi

makara yang terpendam

Berdasarkan tinjauan langsung ke lokasi, sebagian  komponen candi ini masih terpendam. Indikasi tersebut mencul dari adanya dua buah makara yang terpendam dengan posisi yang sejajar. Diduga kedua makara tersebut adalah pintu masuk ke candi. Berdasarkan posisi makara itu pula terlihat bahwa Candi Adan-adan menghadap ke barat, sesuai ciri khas dari candi-candi periode Jawa Timur.

kala yang belum jadi

Komponen lain yang juga dijumpai pada reruntuhan candi ini adalah Kala. Dari pahatannya tampak bahwa kala tersebut belum selesai dikerjakan. Keberadaan kala yang belum jadi ini menimbulkan beberapa spekulasi. Apakah Candi ini belum selesai didirikan? Atau Perenovasiannya yang belum selesai?? Sebab sangat mungkin sebuah candi mengalami renovasi dan pembangunan yang bertahap.

Sejauh ini Candi Adan-adan memang masih menyimpan misteri yang besar. Semoga kelak ada penelitian dan tindakan untuk menguak dan melestarikan candi tersebut.

…..Oleh-oleh yang mantab dari tlatah Kediri. Terimakasih teman-teman PASAK. Terimaksih atas blusukan dan informasi-informasi berharga yang diberikan. Sukses selalu untuk komunitas Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri.

Related post:

——————————————————————————————————————————————-

Writer: Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Kediri, Zona Perburuan Candi Selanjutnya

Participant: Galy, Kcing, Tiko

Memanfaatkan sisa-sisa liburan bersama Tiko, kami pun mengisi hari-hari kami dengan petualangan. Target kami kali ini adalah Candi Tegowangi dan Candi Surowono yang berada di Kabupaten Kediri. Sebenarnya kami sama sekali tidak mengetahui letak keberadaan candi-candi tersebut. Tapi dengan insting berburu, akhirnya kami dapat menemukan lokasi di mana candi-candi tersebut berada. Berikut informasi yang berhasil kami peroleh:

Candi Tegowangi

Candi Tegowangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Candi Tegowangi adalah komplek percandian yang bernafaskan agama Hindu. Hal tersebut didasarkan pada temuan yoni dan arca-arca sepeti arca Parwati, Ardhanari, dan Garuda.

Menurut kitab Pararaton Candi Tegowangi merupakan tempat pendharmaan Bhre Matahun, dan memiliki nama resmi Kusumapura. Dalam kitab Negarakertagama diriwayatkan bahwa Bhre Matahun meninggal pada tahun 1310 Saka (1388 Masehi). Karena pendharmaan seorang raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal, maka diperkirakan Candi Tegowangi didirikan pada tahun 1400 M.

Di sekeliling tubuh Candi Tegowangi terpahat relief Sudamala. Cerita Sudamala adalah cerita tentang peruwatan (pensucian) Dewi Durga menjadi Dewi Uma yang dilakukan oleh Sadewa (tokoh bungsu dari pandawa). Kisah-kisah peruwatan seperti kidung Sundamala sangat relevan dengan esoteris suatu candi pendharmaan. Unsur-unsur seperti peruwatan bertujuan agar raja yang didharmakan pada candi tersebut dapat pulang ke swargaloka dalam keadaan suci.

——————————————————————————————————————————————-

Candi Surowono

Candi Surowono terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Candi Surowono diperkirakan oleh para arkeolog sebagai tempat pendharmaan Bhre Wengker dari masa Majapahit. Sesuai dengan keterangan dari kitab Negarakertagama bahwa Bhre Wengker meninggal pada tahun 1388 M dan didharmakan di curabhana (surowono). Berdasarkan keterangan tersebut maka Candi Surowono diperkirakan didirikan pada tahun 1400 M.

Relief yang terdapat pada Candi Surowono cukup beragam. Pada kaki candi terdapat relief-relief fable dan tantri. Sedangkan pada badan candi terpahat relief Arjunawiwaha (di sudut barat daya), Bubuksah (di timur laut), dan Sri Tanjung (di tenggara). Berdasarkan relief-relief tersebut latar belakang keagamaan Candi Surowono adalah agama Hindu.

Selain candi, di Desa Canggu juga terdapat goa bawah tanah. Goa itu disebut dengan sebutan Goa Surowono. Goa Surowono merupakan aliran sungai bawah tanah dan memiliki lima mulut goa. Kelima mulut Goa tersebut saling terhubung satu sama lain.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Februari 2011

Sumber : Papan keterangan Candi Tegowangi dan Candi Surowono

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 855 pengikut lainnya