Pantai Gorah dan Modangan, Ekspansi Pantai-Pantai di Blitar Timur

Participant : Galy, Kcing, Tiko, Rangga

Tak disangka perjalanan kami menyusuri pantai-pantai di Blitar sudah hampir mencapai akhir. Ya.. meski belum sepenuhnya berakhir. Setidaknya masih tersisa lima pantai lagi selain pantai yang akan kami bahas dalam posting ini.

Posting ini akan mengulas perjalanan kami menyusuri pantai-pantai di ujung timur Blitar. Yakni pantai-pantai yang membentang di timur Jolosutro hingga perbatasan Blitar dengan Malang. Pantai-pantai tersebut adalah Pantai Gorah dan Modangan.

Sesuai dengan alur perjalanan kami, maka Pantai Modangan akan diulas terlebih dahulu.

.

Pantai Modangan

Pantai Modangan adalah pantai paling timur yang berada di kawasan Blitar. Bisa dibilang Pantai Modangan berada di perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, karena di pantai ini lah tempat bermuaranya sungai yang memisahkan antara Blitar dan Malang.

Eksotika Pantai Modangan tidak diragukan lagi. Pasir pantainya yang putih dan panorama alam di sekitarnya menjadi daya tarik utama Pantai Modangan.

Meski masih alami, namun Pantai Modangan sudah dikenal sebagai tujuan wisata, sehingga rute menuju pantai ini cenderung mudah jika dituju dari Donomulyo Malang. Intinya adalah menyusuri JLS hingga menjumpai jembatan miri, dan melanjutkan perjalanan ke arah hutan jati.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Gorah/ Pantai Gurah

Pantai Gorah/ Gurah terletak di sebelah barat Pantai Modangan. Lokasi pantai ini masih tersembunyi bahkan warga Kecamatan Wates sendiri kurang mengenal Panti Gorah. Pantai Gorah belum dikenal sebagai tujuan wisata dan hanya menjadi tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan.

Panorama alam di Pantai Gorah tak kalah indahnya dengan Pantai Modangan. Pasir pantai yang kecoklatan justru membuat pantai ini semakin menawan. Vegetasi di sekitar pantai ini juga masih lebat, sehingga memberikan background hutan yang alami. Hal itu masih ditambah lagi dengan suasana teluk yang tenang dan panorama Gunung Lanang yang samar-samar terlihat di kejauhan.

——————————————————————————————————————————————-

Perjalanan menuju pantai dari arah Blitar (Bukan Ngalam)

Bisa dibilang rute perjalanan ini hampir tidak bisa didiskripsikan. Rute umum untuk menuju pantai ini kurang lebih sama dengan rute munuju Pantai Jolosutro. Bedanya, setelah sampai di persimpangan arah Wates dan Jolosutro, kami berbelok ke arah Wates. Kami pun menyusuri jalanan yang ada hingga menjumpai perempatan pasar Wates. Kemudian kami berbelok ke kanan dan mengikuti jalanan beraspal hingga pemukiman terakhir di Dusun Wonosari Desa Tugurejo. Sesampai di pemukiman terakhir kami diberi arahan oleh penduduk setempat untuk menyusuri JLS. Mungkin hanya rute dari Blitar hingga JLS yang dapat kami jelaskan. Selebihnya jika benar-benar ingin menyambangi pantai ini silahkan berkutat dengan JLS yang membingungkan. Rajin lah bertanya dan tunjukkan naluri petualangan mu!!

                             

Batas Blitar selatan – Malang selatan

Batas Blitar Selatan - Malang Selatan

Tracklog menuju Pantai Gorah dan Modangan dapat diunduh di:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : Juli 2013

Pantai Wedi Ireng, Pesona Pantai Pasir Hitam Lain di Blitar

Participant : Galy, Kcing, Meitika, Lia

Bagi yang sudah bosan dengan eksotika pantai berpasir putih, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Blitar selatan, sebab Blitar memang dikenal memiliki beberapa pantai pasir hitam dengan karakteristik yang spesifik. Dimulai dari ujung barat ada Pantai Pasur, kemudian Pantai Jebring dengan eksotika tebing dan batu payungnya, lalu grup Pantai Serang yang membentuk teluk serang, dan Pantai Karang Nritep beserta Pantai Jolosutro yang berada di ujung timur Blitar. Ternyata selain pantai-pantai tersebut, Blitar masih menyimpan pantai berpasir hitam lain, yakni Pantai Wedi Ireng.

Pantai Wedi Ireng terletak di sebelah timur Pantai Jebring, secara administratif berada di Desa Ngadipuro, Wonotirto, Kabupaten Blitar. Perlu diketahui bahwa pantai ini berbeda dengan Pantai Princen yang terlatak di timur persis dari Pantai Jebring. Perbedaannya meliputi lokasi, akses dan kenampakan. Pantai Wedi Ireng telah memiliki akses berupa jalan tanah, sedangkan akses menuju Princen adalah dengan menyusuri pinggiran tebing ketika laut tengah surut. Secara kenampakan, yang membedakan kedua pantai itu adalah adanya Goa pada Pantai Princen.

Untuk menuju Pantai Wedi Ireng mudah saja, yakni dengan mengikuti rute menuju Pantai Jebring. Pada pertigaan terakhir sebelum tiba di Jebring silahkan berbelok ke kiri/ timur. Selanjutnya tinggal menyusuri jalan tersebut hingga terlihat pantai berpasir hitam di sebelah barat jalan.

Pantai Wedi Ireng memang tidak begitu luas. Bentuk pantainya sedikit curam di sisi kiri, sehingga ombak di sisi kiri dapat meluber jauh ke daratan. Terkadang ombak yang datang dipecah oleh ombak lain yang datang tegak lurus, pemandangan itu membentuk pertunjukan ombak yang mengesankan. Berikut kenampakan dari Pantai Wedi Ireng. Lihat, imajinasikan, dan buktikan pesona pasir hitamnya. :-D

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Pantai Selok Dadap, Surga Kecil di Blitar Selatan

Participant : Galy, Tiko

Hari memang sudah mulai senja ketika kami bergegas menuju Selok Dadap. Rona laut yang kebiruan perlahan mulai menghitam, tapi hal itu tak menyurutkan hasrat kami untuk tetap menginjakkan kaki di sana.

Meski Saya (Galy) dan Tiko sudah merencanakannya, namun sesungguhnya perjalanan ini bukanlah agenda D’Travellers. Posisi kami saat itu hanyalah sebagai pemandu teman-teman Tim KKN PPM UGM yang sedang melakukan survei ke Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupatean Blitar. Salah satu program KKN mereka adalah perintisan pariwisata pantai, kebetulan survei tersebut sesuai dengan planning kami untuk menyusuri salah satu pantai di Desa Ngadipuro yang belum sempat kami kunjungi. Pantai yang kami maksud adalah Pantai Selok Dadap.

Perjalanan ini tidak langsung mengarah ke Pantai Selok Dadap, melainkan menuju Pantai Pudak terlebih dahulu untuk transit. Hal tersebut cukup beralasan karena jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di timur Ngadipuro, akses menuju Pudak lah yang paling memadai. Untuk selanjutnya barulah dapat ditentukan pantai-pantai mana saja yang akan dikunjungi. Pantai Dung Dowo pun menjadi tujuan berikutnya. Perjalanan singkat itu cukup melelahkan sehingga memaksa teman-teman KKN untuk beristirahat disebuah gubuk tak jauh dari Pantai Pudak.

Sembari menunggu teman-teman KKN beristrirahat, kami mulai bergegas menuju Selok Dadap. Pantai Selok Dadap berada tepat di sebelah barat dari pantai pudak. Untuk menuju pantai tersebut tidaklah sulit karena sudah tersedia jalan setapak. Jalan tersebut berada 3 meter di timur gubuk terdekat dari Pantai Pudak. Dengan menyusuri jalan tersebut, akhirnya kami pun menginjakkan kaki di Selok Dadap.

Pantai Selok Dadap memang tak begitu luas, tapi itu semua tak mengurangi keindahannya. Suasana di sini cukup lengang dengan deburan ombak yang tak begitu besar, mungkin akibat dari geografis pantainya yang membentuk teluk kecil. Pasir pantainya coklat muda sehingga tak menyilaukan mata. Memang tak berkilau, namun cukup mampu menenangkan hati di hari yang semakin senja.

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Jolosutro dan Bonus dari Si Hitam

Participant : Galy, Tiko

Rencana matang itu akhirnya terwujud. Hari itu masih dalam suasana lebaran, saya dan Galy bertolak ke arah tenggara dari Kademangan untuk menuju potensi harta karun di Blitar selatan. Tujuan perjalanan ini pada awalnya hanyalah Pantai Jolosutro, tapi setiba di sana kami memperoleh informasi mengenai pantai lain di sebelah barat Jolosutro (kalau tidak salah nama pantainya Karang Nritep). Kami pun seperti mendapatkan bonus seketika itu juga.

Baik Jolosutro maupun Karang Nritep, keduanya terletak di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Jaraknya lebih kurang 46 km arah tenggara dari pusat Kota Blitar. Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai kedua pantai itu cukup lancar, jalan di daerah Blitar tenggara sudah lumayan mulus untuk dilewati.

Untuk menuju pantai, kami harus melewati jalan meliak-liuk di bukit-bukit gundul. Suatu keindahan tersendiri ketika melewati bukit dengan pemandangan yang luas, apalagi ketika terlihat pemandangan pantai dari atas bukit. Sejenak kami berhenti untuk menikmati keindahan tersebut.

Setelah puas menikmati panorama pantai dari atas, kami bergegas turun. Sebelum memasuki area pantai terlebih dahulu kami harus membayar retribusi. Selanjutnya kami segera memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Petualangan yang sebenarnya pun dimulai.

Pantai Jolosutro

Pantai Jolosutro, adalah salah satu pantai terbesar di Kabupaten Blitar. Dengan hamparan pantainya yang luas Jolosutro menjadi obyek wisata andalan di kawasan Blitar timur. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini tiap akhir pekan, bahkan sebagian adalah wisatawan luar Blitar.

Ditengah suasana yang mulai ramai kami berusaha mencari spot yang sepi, dan pandangan kami langsung tertuju pada Pantai Karang Nritep di sebelah barat. Sembari menuju Karang Nritep, tidak lupa kami menikmati dan mengabadikan moment di Jolosutro.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Pasir Hitam (Karang Nritep)

Setelah selama perjalanan ke barat, kami berdansa dengan indahnya panorama Jolosutro, akhirnya kami sampai juga pada bukit yang memisahkan Jolosutro dengan Karang Nritep. Memang terjal, tetapi sudah tersedia jalan setapak untuk melewati bukit tersebut. Setelah melewati bukit, kami pun sampai pada suatu hamparan pasir hitam yang luas, baru kali ini saya melihat pasir pantai yang berwarna sangat hitam. Pemandangan pantai disini benar-benar bagus, tak kalah menarik dari Jolosutro. Hamparan pasir hitam itu terlihat berkilau jika dilihat dari kejauhan, sungguh benar-benar sebuah bukti keagungan Sang Pencipta.

Kami pun menyusuri pantai ini sampai ke tebing di ujung ujung barat. Pemandangan sempurnapun terlihat dari atas tebing tersebut, yakni ketika Pantai Jolosutro dan Karang Nritep dapat terlihat dalam satu waktu. Terlihat perbedaan mencolok antara kedua pantai ini. Pantai Jolosutro berpasir coklat dan Karang Nritep berpasir hitam.

Setelah puas bergulat dengan indahnya The Black Beach Karang Nritep , kami pun memutuskan untuk pulang karena perjalanan hari itu dirasa sudah sangat memuaskan hati kami. Dibenak kami pun terpatri untuk tak pernah melupakan indahnya pesona kedua pantai ini.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Pristiko Gunawan

Revisi terakhir : —

Bersama Rombongan Besar Kembali Ke Peh Pulo

Participant : Galy, Kcing, Nyop, Ao, Erwin, David, Deni, Ihksan, Mareta, Mella, Neny, Santi, dan seorang teman lainnya.

Sungguh merupakan suatu kegembiraan bagi kami ketika pertemanan yang semula hanya terjalin di dunia maya akhrinya dapat terwujud dalam sebuah perjalanan nyata. Setelah berulang kali mengalami kendala secara kordinasi, akhirnya kesempatan itu datang juga. Bahkan dua rombongan sekaligus dapat turut dalam perjanan ini, yakni rombongan Mas Deni dan rombongan Mas Erwin. Mas Deni beserta rekannya Mas David, sedangkan Mas Erwin bersama tujuh orang temannya antara lain Mas Ao, Mas Ihksan, Mbak Mareta, Mbak Mella, Mbak Neny, Mbak Santi, dan seorang teman lainnya. Sehingga total participant perjalanan ini berjumlah 13 orang. Sungguh sebuah pencapaian baru bagi kami apalagi perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman yang notabene belum kami kenal secara langsung.

Tema perjalanan kali ini adalah Kembali ke Peh Pulo, mungkin tema ini mengingatkan teman-teman pada perjalanan kami sebelumnya yang bertemakan Kembali ke Sirah Kencong. Memang perjalanan ini tidak jauh berbeda dengan perjalanan tersebut. Intinya tidak hanya sekedar mengulangi sebuah perjalanan melainkan mencoba menelusuri lebih dalam lagi mengenai obyek yang pernah kami sambangi sebelumnya.

Seperti kita ketahui bahwa Peh Pulo sebenarnya adalah gugusan pantai yang dipisahkan oleh bukit-bukit kecil. Gugusan pantai ini memiliki Pantai Peh Pulo Wedhi Ombo sebagai obyek utama dengan beberapa pantai kecil lainnya seperti Pantai Wedhi Ciut, dan Pantai Wedhi Kembar. Hal tersebut merupakan alasan yang tepat bagi kami untuk kembali menyambangi Peh Pulo sekaligus menyusuri pantai-pantai lain di sekitarnya.

Dalam posting ini kami tidak akan membahas Peh Pulo Wedhi Ombo secara detail sebab  sudah di bahas sebelumnya. Konsentrasi kami adalah Pantai Wedhi Ciut dan Pantai Wedhi Kembar yang sekaligus merupakan tujuan utama dalam perjalanan kali ini.

Pantai Peh Pulo Wedhi Ciut

Setelah transit di Wedhi Ombo kami beserta rombongan segera meninggalkan kendaraan dan bergegas menuju pantai Wedhi Ciut. Pantai sempit ini cukup mudah untuk dijangkau sebab lokasinya tidak terlalu jauh dari Wedhi Ombo dan memiliki akses berupa jalan setapak yang memadai. Setelah kurang lebih 10 menit menyusuri jalan tersebut, akhirnya kami sampai di Pantai Wedhi Ciut.

Secara umum kondisi Pantai Wedhi Ciut masih cukup asri dengan pasirnya yang putih dan bersih. Pantai ini tidak terlalu luas dan memiliki kesan yang sempit dengan adanya formasi batu padas di sekelilingnya. Pantai ini dibentengi oleh salah satu pulau dari gugusan Pulau Peh, sehingga memiliki ombak yang cukup bersahabat.

Kondisi Pantai Wedhi Ciut yang sedemikan rupa membuat beberapa di antara kami tidak canggung untuk langsung bermain air, dan sebagian lagi mencoba menjelajahi sambil mengamati formasi batuan padas di setiap sudutnya. Sungguh suasana ini berangsur-angsur membuat satu sama lain di antara kami menjadi akrab.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Peh Pulo Wedhi Kembar

Setelah cukup puas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai lain di timur Wedhi Ciut. Sebelumnya kami tidak mengetahui secara pasti mengenai nama pantai tersebut, hanya saja penduduk setempat secara jamak menyebutnya sebagai Wedhi Ombo juga. Namun setelah secara tidak sengaja melihat keterangan di Wikimapia, diketahui bahwa nama pantai itu adalah Pantai Wedhi Kembar. Akses menuju pantai ini tergolong mudah, yakni dengan menyesuri kelanjutan jalan setapak yang sebelumnya kami lewati.

Secara umum Pantai Wedhi Kembar lebih luas jika dibandingkan dengan Wedhi Ciut. Pantai ini terbagi menjadi dua oleh batuan padas bercelah, dengan luas pantai yang berbeda. Pantai bagian barat lebih luas dan memiliki pasir pantai yang tidak sehalus Pantai Peh Pulo Wedhi Ombo, bahkan terkesan  seperti pasir di Pantai Pangi. Pemandangan di pantai ini tidak jauh berbeda dengan di Wedhi Ombo, yakni hamparan gugusan Pulau Peh, hanya saja dipandang dari sudut yang berbeda.

Beranjak ke arah timur akan dijumpai pantai sempit dengan pasir yang lebih halus dan kondisinya lebih asri. Di sekeliling pantai ini dapat dijumpai formasi batuan padas dan karang yang memiliki cekungan-cekungan alami sehingga menyerupai gua.

——————————————————————————————————————————————-

Setelah memenuhi target, akhirnya perjalanan ini kami tutup dengan menyambangi Pantai Babagan Rowo Gebang di sebelah barat gugusan Pantai Peh Pulo. Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan, dan merupakan kehormatan tersendiri bagi kami. Sekali lagi kami ucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang telah melakukan perjalanan bersama kami. Semoga kesempatan ini kelak dapat terulang kembali.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : September 2011

Kabar Gembira dan Duka dari Pantai Jebring

Participant : Galy, Kothink, Nyop, Reza

Belum genap sebulan dari perjalanan ke Pantai Keben, kami sudah kembali lagi menyambangi Desa Ngadipuro. Kali ini giliran Pantai Jebring menjadi tujuan dari perjalanan kami. Pantai Jebring bisa dibilang merupakan pantai terunik diantara pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro. Jika rata-rata pantai di desa ini memiliki pasir berwarna putih, Pantai Jebring justru memiliki pasir berwarna hitam.  Bayang-bayang kami akan eksotika pantai berpasir hitam menjadi awal dari perjalanan ini.

Keikutsertaan Reza dan Kothink menyiratkan kegembiraan dalam perjalanan ini. Kami bersyukur dapat kembali melakukan perjalanan, bersama kawan-kawan yang telah lama absen dari rangkaian perjalanan D’Travellers. Namun sayang sekali, Kcing yang menggebu-gebu ingin ke Jebring justru tidak dapat turut karena suatu keperluan lain. Kegembiraan dan kedukaan yang kami maksud bukanlah mengenai hal ini, melainkan mengenai sesuatu yang sangat serius yang terjadi pada Pantai Jebring.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa, untuk menuju pantai-pantai di Desa Ngadipuro diperlukan suatu keberanian dari para pelakunya. Kontur pegunungan yang terjal dan kondisi jalanan yang rusak merupakan santapan wajib bagi setiap orang yang ingin menikmati keindahan pantai-pantai di desa ini. Titik kerusakan jalan cukup panjang dan yang terparah berada setelah keluar dari wilayah Desa Ngeni hingga memasuki Dusun Banyu Urip. Bahkan selepas dari pemukiman terakhir Dusun Banyu Urip, hanya tersedia jalan macadam untuk menuju pantai. Kini hal tersebut tidak perlu terlalu dirisiaukan, sebab rute dari Banyu Urip hingga Jebring telah dibuka. Meski berupa jalan tanah, namun jalan tersebut sangat rata dan padat, sehingga kendaraan dapat dikendarai hingga tiba di pantai. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Jebring dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Ternyata ada kepentingan lain di balik dibukanya rute menuju Jebring, yakni sebuah proyek penambangan bijih besi dari pantai tersebut. Sungguh sangat disayangkan bila riwayat pantai Jebring harus berakhir akibat penambangan tersebut. Selain merusak keindahan alam, dikawatirkan penambangan tersebut juga akan berdampak pada rusaknya habitat satwa-satwa liar disekitar pantai.

Tak ingin terlalu larut dengan kekecewaan, kami pun bergegas menuju pantai tanpa menghiraukan pekerja pertambangan yang ada. Kami pun bersyukur karena masih bisa menikmati sisa-sisa keindahan Pantai Jebring.

pantai jebring

sisi barat

sisi timur

Secara umum Pantai Jebring memiliki kemiripan dengan Pantai Pasur, baik segi pemandangan dan ombaknya. Pantai ini memiliki aliran sungai di sebelah barat dan dibatasi oleh tebing di sebelah timur. Tebing tersebut memiliki relief-reliaf alam yang indah dan merupakan habitat bagi burung-burung laut beserta satwa-satwa liar lainnya. Selain tebing, keberadaan dua buah karang di muka pantai turut mempercantik pemandangan pantai ini. Tak jarang ombak yang cukup besar datang menghantam karang, sehingga tercipta percikan air yang memukau.

Sunguh miris memikirkan kelanjutan nasib Pantai Jebring, dan kami sungguh tak tau harus berbuat apa.

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Sebuah Kebulatan Tekat Menuju Pantai Keben

Participant : Galy, Kcing, Koje, Chuko, Lia, Nyop

Sempitnya waktu tak akan mengurungkan niat kami untuk melakukan suatu perjalanan. Bahkan rangkaian perjalanan kami masih terus berlangsung hingga Ramadan 1432 H menjelang. Tak ada niat dari kami untuk mengabaikan datangnya bulan suci tersebut. Ini semua lebih karena masing-masing dari kami memiliki kesibukan yang beragam. Sebagai imbasnya, jika suatu perjalanan telah dispakati maka kapan pun dan dimana pun tempatnya tak akan jadi masalah bagi kami.

Lagi-lagi perjalanan kami mengarah ke Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Adalah Pantai Keben yang telah membawa kami untuk kembali mengusik ketenangan Desa Ngadipuro. Pantai Keben adalah salah satu pantai terindah dari sekian banyak pantai yang dimiliki desa ini. Sayang sekali keindahan Pantai Keben belum bisa secara instan untuk dinikmati. Akses yang sangat sulit merupakan momok utama bagi siapa pun yang ingin menikmati keindahannya.

Dengan tekat yang kuat, kami berusaha untuk mangatasi segala rintangan yang menghadang selama perjalanan berlangsung. Nahasnya sebuah insiden fatal terjadi dipenghujung perjalanan, dan karenanya kami harus menempuh 4 km terakhir dengan berjalan kaki. Rute awal yang  kami lalui adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak, tetapi demi memangkas jarak dan menghindari rute memutar kami putuskan untuk potong kompas. Kami pun mencoba menarik sebuah vektor yang mengarah langsung menuju Pantai Keben. Dengan keputusan tersebut, sama artinya kami harus berjibaku naik turun bukit sambil berjalan di sela-sela tanaman tebu.

Cuaca terik dan medan yang terjal memberikan bayang-bayang frustasi di benak kami. Tapi jika kami kembali, tentunya perjuangan yang telah dijalani akan terasa sia-sia. Dan dengan kebulatan tekat, kami putuskan untuk tetap menerjang. Satu dua tanaman tebu pun kami libas :twisted:. What?? 8O Bukan karena tanaman tersebut menghalangi jalan, melainkan untuk memberi asupan energi bagi tubuh kami yang sudah mulai letih :mrgreen:. Syukurlah, tak seberapa lama kemudian Pantai Keben mulai terlihat. Kami pun semakin bergairah untuk segera menginjakkan kaki di sana.

Kondang Keben merupakan penghalang terakhir sebelum kami sampai di Pantai Keben. Dengan berhati-hati kami menyisir tepian kondang tersebut dan akhirnya sampai pada klimaks dari perjalanan ini. Pantai Keben!!

Keindahan alam tak akan pernah dapat didiskripsikan secara sempurna melalui kata-kata. Oleh karenanya, perkenankanlah gambar-gambar di atas mewakili keindahan Pantai Keben.

Ternyata ada hikmah dibalik perjalanan yang meletihkan ini. Setelah berfikir keras dan mengerahkan segala naluri, akhirnya kami dapat kembali dengan melalui rute baru yang relativ lebih mudah. Dan dengan demikian, kami dapat sedikit memberikan gambaran mengenai rute menuju Pantai Keben.

Secara umum ada dua rute yang dapat dilalui untuk menuju Pantai Keben. Rute Pertama adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak. Rute ini tergolong sulit karena terik dan permukaan jalannya bergelombang. Rute Kedua adalah menyusuri hutan jati di sebelah barat Dusun Banyu Urip, yakni dengan mengikuti jalan menanjak setelah menuruni jalan rabat beton. Turunan dengan jalan beton berada kurang lebih 500 m di selatan tugu SH Terate. Rute ini tergolong lebih mudah untuk dilalui. Selain teduh, rute ini juga memiliki permukaan jalan yang rata. Pada akhirnya rute ini tetap berujung pada ladang tebu, tetapi sudah lebih dekat dengan Pantai Keben. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Keben dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 850 pengikut lainnya