Pantai Selok Dadap, Surga Kecil di Blitar Selatan

Participant : Galy, Tiko

Hari memang sudah mulai senja ketika kami bergegas menuju Selok Dadap. Rona laut yang kebiruan perlahan mulai menghitam, tapi hal itu tak menyurutkan hasrat kami untuk tetap menginjakkan kaki di sana.

Meski Saya (Galy) dan Tiko sudah merencanakannya, namun sesungguhnya perjalanan ini bukanlah agenda D’Travellers. Posisi kami saat itu hanyalah sebagai pemandu teman-teman Tim KKN PPM UGM yang sedang melakukan survei ke Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupatean Blitar. Salah satu program KKN mereka adalah perintisan pariwisata pantai, kebetulan survei tersebut sesuai dengan planning kami untuk menyusuri salah satu pantai di Desa Ngadipuro yang belum sempat kami kunjungi. Pantai yang kami maksud adalah Pantai Selok Dadap.

Perjalanan ini tidak langsung mengarah ke Pantai Selok Dadap, melainkan menuju Pantai Pudak terlebih dahulu untuk transit. Hal tersebut cukup beralasan karena jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di timur Ngadipuro, akses menuju Pudak lah yang paling memadai. Untuk selanjutnya barulah dapat ditentukan pantai-pantai mana saja yang akan dikunjungi. Pantai Dung Dowo pun menjadi tujuan berikutnya. Perjalanan singkat itu cukup melelahkan sehingga memaksa teman-teman KKN untuk beristirahat disebuah gubuk tak jauh dari Pantai Pudak.

Sembari menunggu teman-teman KKN beristrirahat, kami mulai bergegas menuju Selok Dadap. Pantai Selok Dadap berada tepat di sebelah barat dari pantai pudak. Untuk menuju pantai tersebut tidaklah sulit karena sudah tersedia jalan setapak. Jalan tersebut berada 3 meter di timur gubuk terdekat dari Pantai Pudak. Dengan menyusuri jalan tersebut, akhirnya kami pun menginjakkan kaki di Selok Dadap.

Pantai Selok Dadap memang tak begitu luas, tapi itu semua tak mengurangi keindahannya. Suasana di sini cukup lengang dengan deburan ombak yang tak begitu besar, mungkin akibat dari geografis pantainya yang membentuk teluk kecil. Pasir pantainya coklat muda sehingga tak menyilaukan mata. Memang tak berkilau, namun cukup mampu menenangkan hati di hari yang semakin senja.

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Jolosutro dan Bonus dari Si Hitam

Participant : Galy, Tiko

Rencana matang itu akhirnya terwujud. Hari itu masih dalam suasana lebaran, saya dan Galy bertolak ke arah tenggara dari Kademangan untuk menuju potensi harta karun di Blitar selatan. Tujuan perjalanan ini pada awalnya hanyalah Pantai Jolosutro, tapi setiba di sana kami memperoleh informasi mengenai pantai lain di sebelah barat Jolosutro (kalau tidak salah nama pantainya Karang Nritep). Kami pun seperti mendapatkan bonus seketika itu juga.

Baik Jolosutro maupun Karang Nritep, keduanya terletak di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Jaraknya lebih kurang 46 km arah tenggara dari pusat Kota Blitar. Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai kedua pantai itu cukup lancar, jalan di daerah Blitar tenggara sudah lumayan mulus untuk dilewati.

Untuk menuju pantai, kami harus melewati jalan meliak-liuk di bukit-bukit gundul. Suatu keindahan tersendiri ketika melewati bukit dengan pemandangan yang luas, apalagi ketika terlihat pemandangan pantai dari atas bukit. Sejenak kami berhenti untuk menikmati keindahan tersebut.

Setelah puas menikmati panorama pantai dari atas, kami bergegas turun. Sebelum memasuki area pantai terlebih dahulu kami harus membayar retribusi. Selanjutnya kami segera memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Petualangan yang sebenarnya pun dimulai.

Pantai Jolosutro

Pantai Jolosutro, adalah salah satu pantai terbesar di Kabupaten Blitar. Dengan hamparan pantainya yang luas Jolosutro menjadi obyek wisata andalan di kawasan Blitar timur. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini tiap akhir pekan, bahkan sebagian adalah wisatawan luar Blitar.

Ditengah suasana yang mulai ramai kami berusaha mencari spot yang sepi, dan pandangan kami langsung tertuju pada Pantai Karang Nritep di sebelah barat. Sembari menuju Karang Nritep, tidak lupa kami menikmati dan mengabadikan moment di Jolosutro.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Pasir Hitam (Karang Nritep)

Setelah selama perjalanan ke barat, kami berdansa dengan indahnya panorama Jolosutro, akhirnya kami sampai juga pada bukit yang memisahkan Jolosutro dengan Karang Nritep. Memang terjal, tetapi sudah tersedia jalan setapak untuk melewati bukit tersebut. Setelah melewati bukit, kami pun sampai pada suatu hamparan pasir hitam yang luas, baru kali ini saya melihat pasir pantai yang berwarna sangat hitam. Pemandangan pantai disini benar-benar bagus, tak kalah menarik dari Jolosutro. Hamparan pasir hitam itu terlihat berkilau jika dilihat dari kejauhan, sungguh benar-benar sebuah bukti keagungan Sang Pencipta.

Kami pun menyusuri pantai ini sampai ke tebing di ujung ujung barat. Pemandangan sempurnapun terlihat dari atas tebing tersebut, yakni ketika Pantai Jolosutro dan Karang Nritep dapat terlihat dalam satu waktu. Terlihat perbedaan mencolok antara kedua pantai ini. Pantai Jolosutro berpasir coklat dan Karang Nritep berpasir hitam.

Setelah puas bergulat dengan indahnya The Black Beach Karang Nritep , kami pun memutuskan untuk pulang karena perjalanan hari itu dirasa sudah sangat memuaskan hati kami. Dibenak kami pun terpatri untuk tak pernah melupakan indahnya pesona kedua pantai ini.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Pristiko Gunawan

Revisi terakhir : —

Bersama Rombongan Besar Kembali Ke Peh Pulo

Participant : Galy, Kcing, Nyop, Ao, Erwin, David, Deni, Ihksan, Mareta, Mella, Neny, Santi, dan seorang teman lainnya.

Sungguh merupakan suatu kegembiraan bagi kami ketika pertemanan yang semula hanya terjalin di dunia maya akhrinya dapat terwujud dalam sebuah perjalanan nyata. Setelah berulang kali mengalami kendala secara kordinasi, akhirnya kesempatan itu datang juga. Bahkan dua rombongan sekaligus dapat turut dalam perjanan ini, yakni rombongan Mas Deni dan rombongan Mas Erwin. Mas Deni beserta rekannya Mas David, sedangkan Mas Erwin bersama tujuh orang temannya antara lain Mas Ao, Mas Ihksan, Mbak Mareta, Mbak Mella, Mbak Neny, Mbak Santi, dan seorang teman lainnya. Sehingga total participant perjalanan ini berjumlah 13 orang. Sungguh sebuah pencapaian baru bagi kami apalagi perjalanan ini dilakukan bersama teman-teman yang notabene belum kami kenal secara langsung.

Tema perjalanan kali ini adalah Kembali ke Peh Pulo, mungkin tema ini mengingatkan teman-teman pada perjalanan kami sebelumnya yang bertemakan Kembali ke Sirah Kencong. Memang perjalanan ini tidak jauh berbeda dengan perjalanan tersebut. Intinya tidak hanya sekedar mengulangi sebuah perjalanan melainkan mencoba menelusuri lebih dalam lagi mengenai obyek yang pernah kami sambangi sebelumnya.

Seperti kita ketahui bahwa Peh Pulo sebenarnya adalah gugusan pantai yang dipisahkan oleh bukit-bukit kecil. Gugusan pantai ini memiliki Pantai Peh Pulo Wedhi Ombo sebagai obyek utama dengan beberapa pantai kecil lainnya seperti Pantai Wedhi Ciut, dan Pantai Wedhi Kembar. Hal tersebut merupakan alasan yang tepat bagi kami untuk kembali menyambangi Peh Pulo sekaligus menyusuri pantai-pantai lain di sekitarnya.

Dalam posting ini kami tidak akan membahas Peh Pulo Wedhi Ombo secara detail sebab  sudah di bahas sebelumnya. Konsentrasi kami adalah Pantai Wedhi Ciut dan Pantai Wedhi Kembar yang sekaligus merupakan tujuan utama dalam perjalanan kali ini.

Pantai Peh Pulo Wedhi Ciut

Setelah transit di Wedhi Ombo kami beserta rombongan segera meninggalkan kendaraan dan bergegas menuju pantai Wedhi Ciut. Pantai sempit ini cukup mudah untuk dijangkau sebab lokasinya tidak terlalu jauh dari Wedhi Ombo dan memiliki akses berupa jalan setapak yang memadai. Setelah kurang lebih 10 menit menyusuri jalan tersebut, akhirnya kami sampai di Pantai Wedhi Ciut.

Secara umum kondisi Pantai Wedhi Ciut masih cukup asri dengan pasirnya yang putih dan bersih. Pantai ini tidak terlalu luas dan memiliki kesan yang sempit dengan adanya formasi batu padas di sekelilingnya. Pantai ini dibentengi oleh salah satu pulau dari gugusan Pulau Peh, sehingga memiliki ombak yang cukup bersahabat.

Kondisi Pantai Wedhi Ciut yang sedemikan rupa membuat beberapa di antara kami tidak canggung untuk langsung bermain air, dan sebagian lagi mencoba menjelajahi sambil mengamati formasi batuan padas di setiap sudutnya. Sungguh suasana ini berangsur-angsur membuat satu sama lain di antara kami menjadi akrab.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Peh Pulo Wedhi Kembar

Setelah cukup puas, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai lain di timur Wedhi Ciut. Sebelumnya kami tidak mengetahui secara pasti mengenai nama pantai tersebut, hanya saja penduduk setempat secara jamak menyebutnya sebagai Wedhi Ombo juga. Namun setelah secara tidak sengaja melihat keterangan di Wikimapia, diketahui bahwa nama pantai itu adalah Pantai Wedhi Kembar. Akses menuju pantai ini tergolong mudah, yakni dengan menyesuri kelanjutan jalan setapak yang sebelumnya kami lewati.

Secara umum Pantai Wedhi Kembar lebih luas jika dibandingkan dengan Wedhi Ciut. Pantai ini terbagi menjadi dua oleh batuan padas bercelah, dengan luas pantai yang berbeda. Pantai bagian barat lebih luas dan memiliki pasir pantai yang tidak sehalus Pantai Peh Pulo Wedhi Ombo, bahkan terkesan  seperti pasir di Pantai Pangi. Pemandangan di pantai ini tidak jauh berbeda dengan di Wedhi Ombo, yakni hamparan gugusan Pulau Peh, hanya saja dipandang dari sudut yang berbeda.

Beranjak ke arah timur akan dijumpai pantai sempit dengan pasir yang lebih halus dan kondisinya lebih asri. Di sekeliling pantai ini dapat dijumpai formasi batuan padas dan karang yang memiliki cekungan-cekungan alami sehingga menyerupai gua.

——————————————————————————————————————————————-

Setelah memenuhi target, akhirnya perjalanan ini kami tutup dengan menyambangi Pantai Babagan Rowo Gebang di sebelah barat gugusan Pantai Peh Pulo. Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan, dan merupakan kehormatan tersendiri bagi kami. Sekali lagi kami ucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang telah melakukan perjalanan bersama kami. Semoga kesempatan ini kelak dapat terulang kembali.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : September 2011

Kabar Gembira dan Duka dari Pantai Jebring

Participant : Galy, Kothink, Nyop, Reza

Belum genap sebulan dari perjalanan ke Pantai Keben, kami sudah kembali lagi menyambangi Desa Ngadipuro. Kali ini giliran Pantai Jebring menjadi tujuan dari perjalanan kami. Pantai Jebring bisa dibilang merupakan pantai terunik diantara pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro. Jika rata-rata pantai di desa ini memiliki pasir berwarna putih, Pantai Jebring justru memiliki pasir berwarna hitam.  Bayang-bayang kami akan eksotika pantai berpasir hitam menjadi awal dari perjalanan ini.

Keikutsertaan Reza dan Kothink menyiratkan kegembiraan dalam perjalanan ini. Kami bersyukur dapat kembali melakukan perjalanan, bersama kawan-kawan yang telah lama absen dari rangkaian perjalanan D’Travellers. Namun sayang sekali, Kcing yang menggebu-gebu ingin ke Jebring justru tidak dapat turut karena suatu keperluan lain. Kegembiraan dan kedukaan yang kami maksud bukanlah mengenai hal ini, melainkan mengenai sesuatu yang sangat serius yang terjadi pada Pantai Jebring.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa, untuk menuju pantai-pantai di Desa Ngadipuro diperlukan suatu keberanian dari para pelakunya. Kontur pegunungan yang terjal dan kondisi jalanan yang rusak merupakan santapan wajib bagi setiap orang yang ingin menikmati keindahan pantai-pantai di desa ini. Titik kerusakan jalan cukup panjang dan yang terparah berada setelah keluar dari wilayah Desa Ngeni hingga memasuki Dusun Banyu Urip. Bahkan selepas dari pemukiman terakhir Dusun Banyu Urip, hanya tersedia jalan macadam untuk menuju pantai. Kini hal tersebut tidak perlu terlalu dirisiaukan, sebab rute dari Banyu Urip hingga Jebring telah dibuka. Meski berupa jalan tanah, namun jalan tersebut sangat rata dan padat, sehingga kendaraan dapat dikendarai hingga tiba di pantai. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Jebring dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Ternyata ada kepentingan lain di balik dibukanya rute menuju Jebring, yakni sebuah proyek penambangan bijih besi dari pantai tersebut. Sungguh sangat disayangkan bila riwayat pantai Jebring harus berakhir akibat penambangan tersebut. Selain merusak keindahan alam, dikawatirkan penambangan tersebut juga akan berdampak pada rusaknya habitat satwa-satwa liar disekitar pantai.

Tak ingin terlalu larut dengan kekecewaan, kami pun bergegas menuju pantai tanpa menghiraukan pekerja pertambangan yang ada. Kami pun bersyukur karena masih bisa menikmati sisa-sisa keindahan Pantai Jebring.

pantai jebring

sisi barat

sisi timur

Secara umum Pantai Jebring memiliki kemiripan dengan Pantai Pasur, baik segi pemandangan dan ombaknya. Pantai ini memiliki aliran sungai di sebelah barat dan dibatasi oleh tebing di sebelah timur. Tebing tersebut memiliki relief-reliaf alam yang indah dan merupakan habitat bagi burung-burung laut beserta satwa-satwa liar lainnya. Selain tebing, keberadaan dua buah karang di muka pantai turut mempercantik pemandangan pantai ini. Tak jarang ombak yang cukup besar datang menghantam karang, sehingga tercipta percikan air yang memukau.

Sunguh miris memikirkan kelanjutan nasib Pantai Jebring, dan kami sungguh tak tau harus berbuat apa.

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Sebuah Kebulatan Tekat Menuju Pantai Keben

Participant : Galy, Kcing, Koje, Chuko, Lia, Nyop

Sempitnya waktu tak akan mengurungkan niat kami untuk melakukan suatu perjalanan. Bahkan rangkaian perjalanan kami masih terus berlangsung hingga Ramadan 1432 H menjelang. Tak ada niat dari kami untuk mengabaikan datangnya bulan suci tersebut. Ini semua lebih karena masing-masing dari kami memiliki kesibukan yang beragam. Sebagai imbasnya, jika suatu perjalanan telah dispakati maka kapan pun dan dimana pun tempatnya tak akan jadi masalah bagi kami.

Lagi-lagi perjalanan kami mengarah ke Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Adalah Pantai Keben yang telah membawa kami untuk kembali mengusik ketenangan Desa Ngadipuro. Pantai Keben adalah salah satu pantai terindah dari sekian banyak pantai yang dimiliki desa ini. Sayang sekali keindahan Pantai Keben belum bisa secara instan untuk dinikmati. Akses yang sangat sulit merupakan momok utama bagi siapa pun yang ingin menikmati keindahannya.

Dengan tekat yang kuat, kami berusaha untuk mangatasi segala rintangan yang menghadang selama perjalanan berlangsung. Nahasnya sebuah insiden fatal terjadi dipenghujung perjalanan, dan karenanya kami harus menempuh 4 km terakhir dengan berjalan kaki. Rute awal yang  kami lalui adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak, tetapi demi memangkas jarak dan menghindari rute memutar kami putuskan untuk potong kompas. Kami pun mencoba menarik sebuah vektor yang mengarah langsung menuju Pantai Keben. Dengan keputusan tersebut, sama artinya kami harus berjibaku naik turun bukit sambil berjalan di sela-sela tanaman tebu.

Cuaca terik dan medan yang terjal memberikan bayang-bayang frustasi di benak kami. Tapi jika kami kembali, tentunya perjuangan yang telah dijalani akan terasa sia-sia. Dan dengan kebulatan tekat, kami putuskan untuk tetap menerjang. Satu dua tanaman tebu pun kami libas :twisted:. What?? 8O Bukan karena tanaman tersebut menghalangi jalan, melainkan untuk memberi asupan energi bagi tubuh kami yang sudah mulai letih :mrgreen:. Syukurlah, tak seberapa lama kemudian Pantai Keben mulai terlihat. Kami pun semakin bergairah untuk segera menginjakkan kaki di sana.

Kondang Keben merupakan penghalang terakhir sebelum kami sampai di Pantai Keben. Dengan berhati-hati kami menyisir tepian kondang tersebut dan akhirnya sampai pada klimaks dari perjalanan ini. Pantai Keben!!

Keindahan alam tak akan pernah dapat didiskripsikan secara sempurna melalui kata-kata. Oleh karenanya, perkenankanlah gambar-gambar di atas mewakili keindahan Pantai Keben.

Ternyata ada hikmah dibalik perjalanan yang meletihkan ini. Setelah berfikir keras dan mengerahkan segala naluri, akhirnya kami dapat kembali dengan melalui rute baru yang relativ lebih mudah. Dan dengan demikian, kami dapat sedikit memberikan gambaran mengenai rute menuju Pantai Keben.

Secara umum ada dua rute yang dapat dilalui untuk menuju Pantai Keben. Rute Pertama adalah rute yang sama dengan rute menuju Pantai Pudak. Rute ini tergolong sulit karena terik dan permukaan jalannya bergelombang. Rute Kedua adalah menyusuri hutan jati di sebelah barat Dusun Banyu Urip, yakni dengan mengikuti jalan menanjak setelah menuruni jalan rabat beton. Turunan dengan jalan beton berada kurang lebih 500 m di selatan tugu SH Terate. Rute ini tergolong lebih mudah untuk dilalui. Selain teduh, rute ini juga memiliki permukaan jalan yang rata. Pada akhirnya rute ini tetap berujung pada ladang tebu, tetapi sudah lebih dekat dengan Pantai Keben. Keterangan lebih lanjut mengenai rute menuju Pantai Keben dapat dilihat pada halaman ”Rute dan Informasi.”

Tulisan-tulisan terkait pantai-pantai lain di Desa Ngadipuro:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Ekspedisi Bakung, Menjelajahi Goa Hingga Pantai

Participant: Galy, Kcing

Bakung merupakan kecamatan yang berada di ujung barat daya Kabupaten Blitar. Kacamatan ini kaya akan potensi wisata alam yang cukup menarik untuk dikembangkan, mulai dari goa hingga pantai. Tentunya keberadaan objek-objek tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Kecamatan Bakung yang memang berada di dataran tinggi gunung kidul dan berbatasan langsung dengan laut selatan.

Pada kesempatan ini kami sepakat untuk mengeksplorasi kekayan wisata alam yang dimiliki Kecamatan Bakung. Jika selama ini Goa Umbul Tuk dan Pantai Pangi menjadi objek wisata andalan, maka pada perjalanan ini kami mencoba menelusuri lebih dalam lagi mengenai potensi wisata lain yang ada di Kecamatan Bakung. Berikut beberapa objek wisata alam yang cukup potensial untuk di kembangkan:

Goa Umbul Tuk (Embul Tuk)

Goa Umbul Tuk adalah salah satu objek wisata goa andalan yang terkenal di Kabupaten Blitar. Goa yang dikenal karena memiliki aliran sungai bawah tanah ini berada di Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung. Untuk menjangkau lokasi Goa Umbul Tuk tidaklah sulit, karena penunjuk arah menuju kawasan wisata ini cukup lengkap dan memadai. Untuk lebih jelasnya rute menuju Goa Umbul Tuk dapat disimak pada halaman ”Rute dan Informasi” pada pembahasan mengenai Pantai Pangi.

Karena merupakan salah satu objek wisata andalan, fasilitas di Kawasan Wisata Goa Umbul Tuk sudah cukup memadai. Bagi pengunjung yang ingin menyusuri lorong-lorong goa sambil berbasah-basahan, sudah disediakan kamar ganti. Sedangkan bagi pengunjung yang sekedar ingin bercengkrama, di kawasan wisata ini sudah disediakan fasilitas gazebo dan kantin.

Sekilas sejarah mengenai penemuan Goa Umbul Tuk. Goa Umbul Tuk ditemukan pada tahun 1984 oleh Bapak Tukimin. Goa ini kemudian diberi nama Umbul Tuk karena ketika debit airnya tinggi, goa hanya dapat dimasuki dengan menyelam terlebih dahulu.

umbultuk

Goa sepanjang 1,5 km ini memiliki debit air yang berubah-ubah tergantung musim dan memiliki kedalaman air yang bervariasi. Goa ini juga memiliki percabangan, sehingga pengunjung yang ingin menyusuri goa wajib ditemani oleh pemandu. Pemandu akan menemani pengunjung dengan penerangan seadanya. Dan dibawah penerangan yang minim tersebut, keindahan stalagtit-stalagtit Goa Umbul Tuk dapat dinikmati.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Gayasan

Masih berada di kawasan Desa Tumpakkepuh, tepatnya sedikit bergeser ke timur dari Pantai Pangi, terdapat sebuah pantai yang cukup luas dan masih asri. Pantai itu adalah Pantai Gayasan. Pantai Gayasan merupakan pantai yang lokasinya berada di ujung timur Kecamatan Bakung. Untuk menuju Pantai Gayasan cukup dengan mengikuti jalanan ke arah timur dari Balai Desa Tumpakkepuh. Balai Desa Tumpak Kepuh sendiri kurang lebih berjarak 1 km di sebelah timur kawasan wisata Goa Umbul Tuk. Medan untuk menuju Pantai Gayasan tergolong masih sulit, jalanannya cukup sempit dan bergelombang.

Secara umum Pantai Gayasan memiliki pasir pantai berwarna putih dengan sedikit campuran pasir hitam. Di sebelah kiri Pantai Gayasan terdapat sungai yang cukup dalam. Semakin mendekati bibir pantai, sungai tersebut semakin dangkal dan berkelok membelah pantai menjadi dua bagian. Ombak di pantai Gayasan cukup menantang. Konon jika sedang beruntung, ombak di pantai ini dapat digunakan untuk oleh raga surfing.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Pasur

Bergeser ke ujung barat Kecamatan Bakung, tepatnya di Desa Bululawang terdapat sebuah pantai yang menyuguhkan eksotika pasir hitam. Ya benar.. ;) Pantai yang kami maksud adalah Pantai Pasur.

Jika membicarakan Pantai Pasur, yang terbayang di benak kita pastilah kondisi pantai yang sudah tidak asri lagi. Memang benar, saat ini 6,974 Ha dari pantai ini tengah ditambang hingga tahun 2031 mendatang. Penambangan itu dilakukan untuk mengambil kandungan pasir  besi yang terkandung dalam pasir pantai. Semoga penambangan tersebut tidak berujung pada rusaknya lingkungan, dan kelak dilakukan reklamasi setelah penambangan usai.

Meskipun tengah ditambang, Pantai Pasur tidak dapat menyembunyikan pesona keindahannya. Pemandangan yang sangat mempesona dapat kita nikmati di bagian kiri pantai ini. Pesona tersebut terpancar dari kombinasi antara pasir hitam dengan pemandangan pulau karang di depannya. Sembari menikmati pesona tersebut, kita dapat berteduh dibawah naungan tebing tinggi dengan vegetasi yang masih alami.

——————————————————————————————————————————————-

Goa Ngetup

Goa Ngetup adalah sebuah objek wisata baru dan belum dikembangkan di Kecamatan Bakung. Goa Ngetup berada di Dusun Sumberjambe, Desa Kedungbanteng. Untuk menuju Dusun Sumberjambe, cukup dengan mengikuti jalan desa di sebelah Balai Desa Kedungbanteng. Setelah menyusuri jalan desa sejauh ± 500 m, akan dijumpai dua buah percabangan jalan. Untuk rute yang lebih pendek dapat dipilih percabangan sebelah kiri. Lokasi goa ini sangat tersembunyi, dan kami pun harus berulangkali bertanya kepada warga sekitar untuk menemukannya.

Secara umum kondisi Goa Ngetup masih terkesan belum terjamah. Seperti halnya Goa Umbul Tuk, Goa Ngetup juga merupakan goa dengan aliran sungai bawah tanah. Yang membedakannya adalah: jika pada Goa Umbul Tuk air mengalir keluar dari mulut goa, maka pada Goa Ngetup air justru mengalir ke dalam goa.

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : —

Cuaca Cerah = Ke Pantai Lagi (Gugusan Pantai Serang Blitar)

Participant: Galy, Kcing

Cuaca yang mulai kondusif di bulan Juli, mengugah kembali hasarat kami untuk menyusuri pantai-pantai di Blitar selatan. Kali ini, penyusuran kami arahkan ke Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Benar..!! ;) di desa inilah Pantai Serang yang terkenal itu berada. Awalnya maksud kami hanya sekedar menengok keadaan di Pantai Serang. Akan tetapi naluri berburu telah menghantar kami untuk naik turun bukit menyusuri pantai-pantai lain di sekitar Pantai Serang. Dan seakan tak percaya, pantai-pantai tersebut cukup menarik dan menantang untuk dijelajahi. Berikut ulasan tentang pantai-pantai yang telah kami susuri di Desa Serang.

Pantai Serang

Pantai Serang adalah pantai utama dan pusaka di Desa Serang. Pantai ini merupakan sebuah teluk dengan kemiringan pantai yang landai. Pasir pantainya berwarna hitam karena bercampur dengan pasir besi.

Sebenarnya Pantai Serang cukup indah untuk dinikmati, apalagi bila di lihat dari gardu pandang yang terletak di atas bukit sebelah timur pantai ini. Sayang sekali kebersihan di pantai ini kurang terjaga, sehingga mengurangi keindahan dan kurang sedap untuk dipandang.

Fasilitas umum di kawasan wisata Pantai Serang sudah cukup memadai, antara lain terdapat Masjid, gazebo, kedai makanan, jasa penitipan kendaraan, dan MCK yang sebagian besar dikelola oleh penduduk sekitar. Sedangkan fasilitas gardu pandang yang tersedia sebenarnya merupakan sarana yang digunakan untuk melakukan rukyat (melihat Hilal dalam rangka menentukan awal Bulan Ramadan).

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Maesan Padang/ Mesang Padang

Bergeser sedikit ke selatan gardu pandang, terdapat sebuah pantai kecil yang cukup indah. Pantai tersebut adalah Pantai Maesan Padang/ Mesang Padang. Pantai ini merupakan tempat persinggahan perahu para nelayan. Secara umum Pantai Maesan Padang memiliki panorama yang cukup memukau karena dibentengi oleh formasi batuan karang yang melingkar.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Selok Gogor

Pantai Selok Gogor adalah pantai lain di kawasan wisata Pantai Serang. Letaknya berada di sebelah barat Pantai Serang. Pantai ini dapat dijangkau dengan mendaki bukit di sebelah barat Pantai Serang.

Secara umum kondisi Pantai Selok Gogor masih lebih asri bila dibandingkan dengan kondisi Pantai Serang. Sedangkan secara kenampakan, pantai ini dibagi menjadi dua bagian oleh sebuah tebing yang indah. Pantai bagian timur sedikit kotor, karena berdekatan dengan area tambak milik penduduk. Sedangkan pantai di bagian barat masih sangat asri dan alami. Pasir hitamnya akan berkilauan saat diterpa cahaya mentari.

——————————————————————————————————————————————-

Pantai Serit

Bergeser lagi ke sebelah barat Pantai Selok Gogor, akan dijumpai sebuah pantai yang cukup luas. Pantai tersebut adalah Pantai Serit, yakni pantai paling barat di Kawasan Wisata Pantai Serang.

Meski abrasi telah sedikit mengikis bibir pantainya, namun keindahan tetap terpancar dari Pantai Serit. Rimbunnya vegetasi dan keberadaan sungai air payau di sekitar pantai ini turut menyemarakkan keindahannya.

——————————————————————————————————————————————-

Bajak Laut :twisted:

——————————————————————————————————————————————-

Writer : Galy Hardyta

Revisi terakhir : –

Sumber : Warga Desa Serang

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 695 pengikut lainnya.